5/04/2017

Resensi 13 Reasons Why? Season 1 (2017)


Bunuh diri adalah salah satu topik yang amat jarang diangkat ke dalam karya televisi. 13 Reasons Why? Termasuk salah satu serial televisi yang berani mengangkat kisah bunuh diri lewat pendekatan remaja. Hasil adaptasi novel berjudul sama karya Jay Asher itu disutradarai oleh nama-nama mentereng di Hollywood seperti Tom McCarthy yang pernah menakhkodai Spotlight dan Greg Arakki yang pernah menggarap Mysterious Skin. Di kursi produser eksekutif, ada Selena Gomez dan produser kawakan Steve Golin yang tangan dinginnya terlibat dalam produksi Spotlight, The Revenant dan True Detective.

Clay Jensen (Dylan Minnette) mendapat paket berisi rekaman suara Hannah Baker (Katharine Langford), teman sekolahnya yang baru saja meninggal akibat bunuh diri. Rekaman tersebut berisi 13 alasan Hannah bunuh diri. Clay harus menguak fakta tidak menyenangkan tentang teman-teman sekolahnya sekaligus bertindak demi keadilan untuk Hannah. Clay juga terpaksa menyembunyikan rekaman suara itu dari orang tuanya.


Tidak ada bunuh diri yang menyenangkan. Pesan tersebut disisipkan sepanjang 13 episode 13 Reasons Why?. Hannah yang frustasi digambarkan sangat apik dengan tata rias khas korban depresi. Tangisan-tangisan Hannah, keterkejutannya saat dikuntit, hingga canda tawanya bersama Clay benar-benar merasuk ke dalam emosi penonton namun tidak sampai masuk taraf lebay seperti sinetron-sinetron yang suka bicara sendiri dan tangis buatan hasil olesan bawang.

Karakter yang konsisten adalah kunci dari kualitas semua karya seni. 13 Reasons Why? Menampilkan kekuatan tersebut pada tiap episodenya. Clay yang pendiam namun humoris, Hannah yang depresif, Tony (Christian Navarro) yang selalu ingin membantu, hingga Zach (Ross Butler) yang berhati baik namun kurang tegas terhadap keburukan di sekitarnya. Tidak ada karakter yang terlalu menonjol dan dibuat bak dewa super baik atau iblis ekstra jahat. Semuanya wajar dan realistis. Sejahat-jahatnya Justin Foley (Brandon Flynn), dia masih sangat peduli terhadap sang kekasih dan membelanya saat ia disakiti. Clay juga bukan anak baik yang selalu patuh terhadap orangtuanya, meski dia yang paling getol membela Hannah pasca kematiannya. Berbeda dengan sinetron Indonesia yang hanya bisa menampilkan ekspresi jahat pada karakter jahat, ekspresi baik pada karakter baik, atau ekspresi kebelet pada karakter yang beser.


13 Reasons Why? Bisa dikategorikan sebagai salah satu serial drama terbaik yang dipersembahkan Netflix. Cukup banyak karya original Netflix yang berkualitas, 13 Reasons Why? masih bisa menonjol di antara karya-karya tersebut. Seperti bibir di wajah Tukul Arwana, atau kelicikan di wajah Setya Novanto. Keberanian 13 Reasons Why? patut diacungi jempol dalam mengangkat isu-isu sensitif seperti bunuh diri, kehidupan penyuka sesama jenis, sampai kekerasan dalam rumah tangga. Aktor dan aktris yang beragam dan multi etnis juga termasuk salah satu kenggulan serial yang dirilis pada 31 Maret 2017 itu. Bahkan, ada salah satu aktor keturunan Indonesia yang cukup banyak berperan. Ross Butler, nama aktor tersebut, memiliki darah Tionghoa Indonesia dari sang ibu. Butler menjadi salah satu bukti jika keturunan Tionghoa Indonesia bisa berprestasi, tidak hanya mengumpat dan menghujat seperti Gubernur DKI Jakarta yang baru saja kalah dalam pemilihan umum.


13 Reasons Why? memang bukan Master of None yang hadir hampir tanpa celah dan menjadi serial masterpiece dari Netflix. Namun, gabungan antara misteri dan drama yang mengikat emosi penonton ditambah karakter yang konsisten serta realistis sudah cukup menjadi bekal 13 Reasons Why? untuk dikenang sebagai salah satu serial drama misteri remaja terbaik sepanjang masa.



Share: 

3 komentar:

  1. setau saya ross butler itu keturunn malaysia singapore ya min..

    BalasHapus
  2. Ucapannya tak pantas sekali :( kalau bikin sinopsis ngga usah baper bawa" pemilu dong, sans aja kali

    BalasHapus
  3. Ross Butler bukan keturunan Indo. Admin nya ini ga bener

    BalasHapus