Tampilkan postingan dengan label TV Series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TV Series. Tampilkan semua postingan

8/27/2017

Resensi Glow - Season 1 (2017)


Di abad 21, gulat wanita sudah menjadi bagian yang lumrah di dunia olahraga. World Wrestling Entertainment (WWE) salah satu penyelenggara kompetisi gulat professional terbesar di dunia, memiliki puluhan pegulat wanita yang aktif kontraknya hingga detik ini. Belum lagi penyelenggara kompetisi lain seperti Global Force Wrestling (GFW) atau Ring of Honor (RoH). Pada medio ’80-an, muncul kompetisi gulat wanita professional pertama bernama GLOW (Gorgeous Ladies of Wrestling). Itulah yang coba diangkat oleh duet sineas perempuan Liz Flahive dan Carly Mensch. Duo kreator serial itu menampilkan 14 perempuan pegulat yang terinspirasi dari kisah nyata GLOW. Ditayangkan oleh Netflix dan dibintangi Alison Brie, GLOW bagi saya adalah salah satu serial komedi terbaik Netflix.

Ruth Wilder (Alison Brie) sudah berkali-kali gagal dalam casting di berbagai film dan serial televisi hingga suatu ketika, kesempatan datang kepadanya saat sutradara eksentrik yang biasa memproduksi film berbujet kecil dan berkualitas rendah, Sam Sylvia (Marc Maron), membutuhkan beberapa perempuan untuk berperan dalam ajang gulat wanita pertama di televisi. Ruth bertemu banyak perempuan dengan karakter yang berbeda satu sama lain. Seperti Sheila (Gayle Rankin) yang merasa dirinya adalah serigala, Arthie Premkumar (Sunita Mani) seorang gadis keturunan India yang sangat menyukai gulat, Carmen Wade (Britney Young), putri pegulat legendaris yang sedang berkonflik dengan ayahnya akibat larangan menekuni gulat, hingga Cherry Bang (Sydelle Noel), pemeran pengganti wanita yang berada dalam kesulitan ekonomi. Ruth tanpa sengaja menarik sahabatnya yang juga mantan bintang opera sabun, Debbie Eagan (Betty Gilpin) ke dalam pusaran dunia gulat akibat masalah pribadinya dengan Debbie. Ruth berusaha menampilkan kemampuan terbaiknya sebagai pegulat sembari berusaha mengakhiri pertengkarannya dengan Debbie.


Tidak mudah mengumpulkan 14 perempuan tanpa kemampuan dasar sebagai pegulat. Menempatkan mereka dalam peran pegulat professional memang perkara yang rumit. Itu adalah salah satu kekuatan yang sukses ditonjolkan oleh GLOW. Kebingungan yang terjadi karena minimnya pengalaman, jadwal yang berantakan karena pegulat yang tidak siap, hingga konflik antar pemeran tersaji dengan sangat menarik. GLOW bukanlah perang argumen lewat twitter untuk pencitraan salah satu petinggi partai baru yang masih mahasiswi itu. Bukan pula kegaduhan akibat menteri dalam negeri yang tidak becus menangani persoalannnya. GLOW merupakan gabungan komedi, drama, gulat dan kritik sosial yang berkolaborasi dengan indah, seindah duet penyanyi perempuan yang kini tengah naik daun dalam tembang Anganku Anganmu. Tengok saja adegan ketika seluruh perempuan itu berkumpul  dan menonton berita televisi mengenai pembajakan pesawat oleh teroris asal Lebanon. Sangat mewakili kondisi sosial masa kini yang memandang aksi semacam itu sebagai bumbu kehidupan yang tidak terlalu menghebohkan. Isu sensitif seperti aborsi juga ikut diangkat melalui karakter Ruth dan Sam yang bertolak belakang namun saling melengkapi.

Memuji kehebatan GLOW dalam mengemas jalan cerita terasa kurang lengkap jika tidak memuji akting para pemerannya yang mampu menampilkan kemampuan terbaiknya. Betty Gilpin sangat menjiwai perannya sebagai seorang ibu muda yang berjuang mengatasi masalah dengan suaminya yang selingkuh . Marc Maron berhasil menghadirkan seniman gagal pecandu kokain di masa tua yang ingin bangkit lewat jalur yang tidak pernah dia minati. Sam memang pribadi yang menyusahkan, penuh sinisme dan kurang menghargai orang lain, namun segala keburukan itu sanggup ditutupi oleh karisma Maron sehingga tokohnya masih sanggup dicintai oleh penonton walau perilakunya sangat mengganggu. Alison Brie juga cukup sukses menempatkan dirinya sebagai aktris kurang beruntung yang sedang terjebak dalam krisis usia 30 tahun tanpa pasangan dan nihil pekerjaan. Belum lagi para pemeran pendukung seperti Britney Young yang mampu mencuri perhatian dan Kate Nash yang menampilkan karakternya dengan apik sebagai perempuan inggris yang anggun.


Akting seluruh cast GLOW jauh lebih baik dari akting remaja hasil pencitraan para pendukung rezim ceroboh. Remaja yang terkenal karena tulisannya di Facebook itu terlihat sangat memuakkan ekspresi wajahnya. Sampai-sampai saya butuh obat mag untuk menahan rasa mual saya. Belum lagi kepemimpinan yang membunuh daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat kini lebih rendah dari nilai rata-rata rapor Nobita di Doraemon. Juga tidak lebih tinggi dari tinggi badan saya yang di bawah rata-rata. Saya bahkan termasuk lelaki  terpendek di antara pria-pria pendek lainnya.

GLOW adalah contoh serial televisi yang menggambarkan perjuangan perempuan dengan detail dan indah. Jika kualitasnya tetap terjaga, sampai musim ke-20 pun akan tetap disukai penonton. Jangan seperti kepala negara yang baru 3 tahun sudah sangat membosankan dan memancing derita.
Share: 

5/04/2017

Resensi 13 Reasons Why? Season 1 (2017)


Bunuh diri adalah salah satu topik yang amat jarang diangkat ke dalam karya televisi. 13 Reasons Why? Termasuk salah satu serial televisi yang berani mengangkat kisah bunuh diri lewat pendekatan remaja. Hasil adaptasi novel berjudul sama karya Jay Asher itu disutradarai oleh nama-nama mentereng di Hollywood seperti Tom McCarthy yang pernah menakhkodai Spotlight dan Greg Arakki yang pernah menggarap Mysterious Skin. Di kursi produser eksekutif, ada Selena Gomez dan produser kawakan Steve Golin yang tangan dinginnya terlibat dalam produksi Spotlight, The Revenant dan True Detective.

Clay Jensen (Dylan Minnette) mendapat paket berisi rekaman suara Hannah Baker (Katharine Langford), teman sekolahnya yang baru saja meninggal akibat bunuh diri. Rekaman tersebut berisi 13 alasan Hannah bunuh diri. Clay harus menguak fakta tidak menyenangkan tentang teman-teman sekolahnya sekaligus bertindak demi keadilan untuk Hannah. Clay juga terpaksa menyembunyikan rekaman suara itu dari orang tuanya.


Tidak ada bunuh diri yang menyenangkan. Pesan tersebut disisipkan sepanjang 13 episode 13 Reasons Why?. Hannah yang frustasi digambarkan sangat apik dengan tata rias khas korban depresi. Tangisan-tangisan Hannah, keterkejutannya saat dikuntit, hingga canda tawanya bersama Clay benar-benar merasuk ke dalam emosi penonton namun tidak sampai masuk taraf lebay seperti sinetron-sinetron yang suka bicara sendiri dan tangis buatan hasil olesan bawang.

Karakter yang konsisten adalah kunci dari kualitas semua karya seni. 13 Reasons Why? Menampilkan kekuatan tersebut pada tiap episodenya. Clay yang pendiam namun humoris, Hannah yang depresif, Tony (Christian Navarro) yang selalu ingin membantu, hingga Zach (Ross Butler) yang berhati baik namun kurang tegas terhadap keburukan di sekitarnya. Tidak ada karakter yang terlalu menonjol dan dibuat bak dewa super baik atau iblis ekstra jahat. Semuanya wajar dan realistis. Sejahat-jahatnya Justin Foley (Brandon Flynn), dia masih sangat peduli terhadap sang kekasih dan membelanya saat ia disakiti. Clay juga bukan anak baik yang selalu patuh terhadap orangtuanya, meski dia yang paling getol membela Hannah pasca kematiannya. Berbeda dengan sinetron Indonesia yang hanya bisa menampilkan ekspresi jahat pada karakter jahat, ekspresi baik pada karakter baik, atau ekspresi kebelet pada karakter yang beser.


13 Reasons Why? Bisa dikategorikan sebagai salah satu serial drama terbaik yang dipersembahkan Netflix. Cukup banyak karya original Netflix yang berkualitas, 13 Reasons Why? masih bisa menonjol di antara karya-karya tersebut. Seperti bibir di wajah Tukul Arwana, atau kelicikan di wajah Setya Novanto. Keberanian 13 Reasons Why? patut diacungi jempol dalam mengangkat isu-isu sensitif seperti bunuh diri, kehidupan penyuka sesama jenis, sampai kekerasan dalam rumah tangga. Aktor dan aktris yang beragam dan multi etnis juga termasuk salah satu kenggulan serial yang dirilis pada 31 Maret 2017 itu. Bahkan, ada salah satu aktor keturunan Indonesia yang cukup banyak berperan. Ross Butler, nama aktor tersebut, memiliki darah Tionghoa Indonesia dari sang ibu. Butler menjadi salah satu bukti jika keturunan Tionghoa Indonesia bisa berprestasi, tidak hanya mengumpat dan menghujat seperti Gubernur DKI Jakarta yang baru saja kalah dalam pemilihan umum.


13 Reasons Why? memang bukan Master of None yang hadir hampir tanpa celah dan menjadi serial masterpiece dari Netflix. Namun, gabungan antara misteri dan drama yang mengikat emosi penonton ditambah karakter yang konsisten serta realistis sudah cukup menjadi bekal 13 Reasons Why? untuk dikenang sebagai salah satu serial drama misteri remaja terbaik sepanjang masa.



Share: 

8/04/2016

Resensi The Night of - Episode 1


Setelah berakhirnya True Detective musim kedua, HBO belum memproduksi serial detektif kelam nan realistis hingga kemunculan The Night of, sebuah miniseri yang dibintangi oleh Riz Ahmed dan John Turturro. Steve Zaillian dan Richard Price bertindak sebagai produser eksekutif, penulis skenario, sekaligus showrunner. Zaillian juga menyutradarai miniseri tersebut bersama dengan James Marsh yang pernah menyutradarai The Theory of Everything. Hasil karya Zaillian sebelumnya juga tak kalah apik. Sineas kelahiran California itu pernah menulis skenario pada film Moneyball,The Girl with the Dragon Tattoo, dan Exodus: Gods and Kings. Jajaran kru yang cukup berkualitas dan promo yang menarik membuat The Night of wajib mendapat perhatian dan pantas untuk ditonton (jika Anda memiliki waktu dan saluran HBO di rumah, atau mengunduh ilegal seperti kebanyakan penyuka film seperti saya dengan kondisi keuangan yang sangat mepet, jauh lebih mepet dari tempat parkir sepeda motor di mal ketika menjelang lebaran).

Nasir Khan (Riz Ahmed) hidup dalam keluarga muslim Pakistan di New York. Sang ayah, Salman Khan (Peyman Moaadi) adalah sopir taksi yang harus berbagi pendapatan dengan dua rekannya. Sang ibu, Safar Khan (Poorna Jagannathan) adalah pedagang kain di pasar. Hidup Naz-sapaan akrab Nasir Khan- berubah ketika dia bertemu Andrea Cornish (Sofia Black D’Elia) perempuan yang masuk ke taksi yang saat itu dikemudikan oleh Naz. Sosok Andrea yang nakal namun cantik dan sangat menarik membuat Naz menyetujui permintaan Andrea untuk bermalam di rumahnya. Nahas, dini hari saat Naz bangun, Andrea sudah tidak bernyawa dengan banyak tusukan di tubuh. Naz pun harus berurusan dengan Detektif Dennis Box (Bill Camp), polisi yang menangani kasus tersebut.


Penampilan Riz Ahmed yang sebelumnya pernah bermain di film Nightcrawler sukses mencuri perhatian. Karakter Naz yang canggung dengan emosi yang tidak stabil sangat cocok diperankan oleh Ahmed. Kecanggungan Naz mengingatkan saya pada masa kecil saya. Dulu, saya adalah bocah canggung namun banyak omong. Kombinasi kedua sifat tersebut membuat saya terlihat bodoh. Luar biasa bodoh. Kalau diingat kembali, mungkin saya adalah versi nyata Harry dan Lloyd dalam Dumb and Dumber.


Kemunculan John Turturro yang hanya sesaat pada episode pertama sedikit mengurangi intensitas cerita, tapi cukup membantu membangun plot untuk episode selanjutnya. Gerak tubuh, cara bicara, dan gaya busana John Stone, nama tokoh yang diperankan oleh Turturro, memiliki ciri khas tersendiri. Terutama kakinya yang mengidap penyakit aneh sehingga kakinya terlihat seperti kaki orang yang tidur di kebun tanpa obat nyamuk dan autan. Gaya bicaranya juga mirip pria mabuk yang baru kehilangan pekerjaannya akibat direshuffle oleh presiden.

Share: 

3/15/2016

American Crime Season 2 Episode 7-10


Episode Seven

Adik Eric mencuri cat semprot dan melakukan vandalisme di sekolah. Taylor babak belur akibat pengeroyokoan yang dilakukan teman satu tim Eric. Dokumen kesehatan Anne bocor di internet. Taylor depresi dan mencuri senjata api di rumah pamannya.

Konflik sudah memasuki titik puncak. Kepadatan cerita jauh lebih baik dibanding episode-episode sebelumnya. Episode Seven memfokuskan diri pada penderitaan Taylor pasca semua tragedi yang menimpanya. Sosok Taylor semakin mengundang simpati penonton. Perilaku setiap karakter mengikat emosi penonton pada sebagian besar adegan.

Episode Seven memberi contoh tentang kengenesan seorang jomlo. Namun, kengenesan itu diakibatkan oleh peristiwa ketika sang tokoh masih berpasangan dengan seseorang. Hanya jomlo sejati yang bisa merasakan penderitaan jomlo lain, karena itulah saya paham betapa sakitnya hati Taylor yang jomlo dan tidak punya kawan yang bisa melindunginya. Adegan ketika Taylor sedang berhalusinasi di tengah hutan menyadarkan para jomlo mengenai pentingnya mencurahkan isi hati pada orang terdekat. Termasuk kepada sesama jomlo. Karena jomlo yang bersatu bisa mengubah dunia.


Episode Eight

Taylor ditahan atas tuduhan penembakan di Leyland. Seluruh anggota tim basket berkabung atas kematian Wes. Putri Dan Sullivan (Sky Azure van Vliet), mengakui perbuatannya dan dihukum oleh sang ayah. Sebastian (Richard Cabral) mendatangi Anne dan menjelaskan maksud kedatangannya.

Tak seperti episode-episode sebelumnya, pada Episode Eight tampak beberapa video wawancara dengan berbagai latar belakang. Keberadaan video itu bertujuan untuk mendukung cerita karena semua narasumbernya adalah orang-orang yang pernah bersinggungan langsung dalam kasus penembakan di sekolah, bullying, dan kekerasan terhadap minoritas. Namun, video tersebut masih terasa kurang menyatu dengan isi cerita dan membuat penonton kurang bisa menikmati dan merasakan emosi dalam episode kedelapan ini. Walau memiliki kekurangan pada aspek emosi, sebagai episode yang sudah mendekati akhir serial, Episode Eight menawarkan konklusi yang menarik dan tidak monoton.


Bicara soal minoritas, bagi saya, kaum jomlo sudah menjadi minoritas di tengah maraknya muda-mudi yang berpacaran dan menikah. Kini seorang jomlo bagaikan lansia yang sanggup bermain sepak bola selama 90 menit. Sangat sedikit jumlahnya. Bahkan, menurut prediksi saya, jomlo bisa saja punah seperti dinosaurus dan burung dodo. Jika jomlo sudah punah, saya yakin banyak museum yang tertarik untuk menyimpan koleksi yang berbau jomlo. Mie instan, tisu, serta air mata, misalnya. Bahkan, bisa saja ada museum yang mengabadikan fosil jomlo purbakala atau fosil homo jomblonicus.
 
Episode Nine

Sebastian membantu Anne dengan kemampuan teknologinya. Dixon disidang oleh Dinas Pendidikan. Steph Sullivan mendatangi kediaman Anne dan memohon untuk tidak mencatut nama anaknya pada kasus Taylor. Eric Tanner bertemu kembali dengan adik dan ibunya. Kevin bertengkar dengan rekan satu timnya.

American Crime akan memasuki episode pamungkasnya. Sebagian klimaks sudah mulai dimunculkan pada Episode Nine. Salah satunya adalah reaksi Chris Dixon, kepala sekolah negeri tempat Taylor belajar. Selain itu, beberapa masalah sudah sedikit menampakkan titik terang. Emosi penonton kembali digali saat adegan-adegan yang menampilkan setiap karakter dan kesedihannya masing-masing. Ekspresi sebagian besar tokohnya juga tidak terkesan berlebihan dan cukup mengundang simpati bagi penonton.

Episode kesembilan ini banyak membahas perjuangan orang tua yang membela sang anak meskipun anak itu bersalah. Ketika anak mencuri mangga, misalnya. Pasti ada sebagian orang tua yang membela lewat berbagai cara. Pura-pura tidak tahu, pura-pura berubah jadi pohon mangga, bahkan pura-pura berubah jadi mangga. Seperti kata pepatah, batu akik tidak jatuh jauh dari embannya, sesungguhnya sifat anak adalah cerminan sifat orang tua. Jika sang ayah adalah musisi sombong yang kini menjadi wakil walikota dengan Harley Davidson segudang dan cincin akik di sepuluh jari, hampir pasti buah hatinya menjadi pribadi yang sombong pula, dengan cincin akik di sepuluh jari, namun tanpa Harley Davidson karena kakinya masih terlalu pendek untuk menginjak rem motor Harley, kecuali dia mau dan mampu menaiki Harley tanpa menginjak rem. Semoga dia selamat walau tidak mengerem sama sekali.


Episode Ten

Setelah mengudara selama sepuluh pekan atau dua bulan lebih, American Crime musim kedua telah mencapai episode terakhir. Secara keseluruhan, season kedua lebih seru dan lebih “menyentil” dibanding musim pendahulunya. Keluarga, rasisme, kesetiaan, kejujuran, hingga institusi pendidikan dikritisi melalui peceritaan menarik diiringi karakter yang kuat dan naskah tajam.

Taylor memberi keputusan terkait persidangannya. Becca Sullivan, putri Dan Sullivan, ditangkap akibat kasus penjualan narkotika. Sebastian dikagetkan oleh peretas lain. Tante Leslie Graham, tante-tante kepala sekolah Leyland mengalami masa terberat dalam hidupnya. Kevin dipanggil oleh pihak kepolisian untuk dimintai keterangan.

Sebagai episode penutup, Episode Ten banyak diisi konklusi-konklusi cerita yang tidak terlalu mengejutkan namun tetap menarik untuk diikuti sampai tuntas. Hadirnya tokoh Sebastian terkesan sedikit dipaksakan demi akhir serial yang menakjubkan dan meninggalkan perasaan kurang ikhlas pada penonton. Seperti ketika seorang perempuan berpacaran dengan laki-laki tampan namun tidak tahu nama sang pria, karakter Sebastian mirip dengan peristiwa itu. Penonton hanya mengenal Sebastian pada sepertiga akhir serial tanpa mengenal sosoknya lebih dalam. Sebastian seolah menjadi kunci dari episode terakhir tanpa penokohan yang kuat. Walaupun agak kurang pada karakter Sebastian, episode pamungkas American Crime tetap wajib ditonton karena akhir yang menegangkan sekaligus melegakan seperti permen Stensils pelega tenggorokan.

Seberapa baikkah Anda? Pertanyaan itu memang amat susah untuk dijawab. Saya sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Kalau boleh memilih, lebih baik saya diberi tanggung jawab untuk memakan petai dua kilogram setiap hari selama sebulan daripada harus menjawab pertanyaan di atas. American Crime Season 2 mengajak kita untuk merenungkan hidup dan mempertanyakan kebaikan sesama manusia karena terkadang sesuatu yang terlihat baik dari luar sebenarnya tidak baik jika dilihat lebih jeli. Seperti petai dua kilogram yang cukup nikmat tapi tidak baik untuk aroma mulut serta nafas konsumennya.

Share: 

2/25/2016

Resensi American Crime Season 2 Episode 5 & 6



Episode Five


Fakta-fakta mengejutkan mengenai Leland, sekolah lama Taylor, terungkap. Dan Sullivan mendapat saran dari istrinya untuk segera meninggalkan Leland dan pindah ke perguruan tinggi karena masalah yang menimpa tim basket sekolah. Taylor menghadapi hari-hari penuh kesendirian. Eric pulang dari rumah sakit.

Episode kelima menceritakan kehidupan semua karakternya dengan sangat adil. Tidak ada tokoh yang menonjol atau muncul terlalu sering. Porsi kemunculannya sangat berimbang. Dialog-dialog antar karakter juga terasa mengalir dan tidak berlebihan. Pergerakan kamera ketika pentas tari dilangsungkan cukup membuat penonton meresapi ironi dari kondisi pendidikan yang runyam.

Untuk pertama kali dalam sejarah penayangan American Crime musim kedua, saya merasa ada yang lebih mengenaskan kejomloannya dari saya. Adegan-adegan saat Taylor sendirian di rumah, berbaring di kasur tanpa teman, dan memencet tombol di microwave dengan ekspresi kesepian mengundang empati dari sesama jomlo seperti saya. Malam minggu diiringi hujan deras dan hanya ditemani oleh mie instan yang hampir kadaluarsa adalah malam-malam terburuk seorang jomlo. Apalagi jika tidak ada pulsa atau akses internet. Lengkap sudah penderitaan. Para jomlo hanya bisa pasrah dan berharap malam minggu segera berakhir atau berharap sosok Godzilla keluar dari bawah tanah dan melahap orang-orang yang sedang bermesaraan dengan kekasihnya.

Episode Six


Taylor meneruskan terapinya. Siswa hispanik di sekolah Taylor tetap melanjutkan unjuk rasa. Eric kembali bersekolah. Orang tua Kevin mencoba berbagai cara untuk menghindarkan dia dari tuntutan.

Episode keenam berjalan cukup baik meski temponya sedikit lebih lambat dari episode sebelumnya. Pergolakan emosi Taylor semakin intensif dan membuat penonton bisa memaklumi segala tindakannya. Pengembangan karakter bisa dimaksimalkan dengan baik dan menghasilkan suasana serta dialog yang menarik sekaligus realistis. Keluarnya tokoh baru sedikit mengganggu jalannya episode karena kurang utuhnya penggambaran watak sang tokoh.

Episode Six banyak menyorot perjuangan orang tua agar anaknya bisa hidup tenang. Bahkan, ada orang tua yang rela melakukan perbuatan negatif demi anaknya. Buah tak pernah jatuh jauh dari pohonnya, kira-kira begitu kata peribahasa. Jika seorang ayah suka gonta-ganti istri dan mendidik anaknya dengan serampangan, bisa dipastikan anaknya menjadi nakal dan kebut-kebutan di jalan tol hingga menewaskan tujuh orang. Sayangnya, sang ayah kini akan menjadi calon gubernur ibukota. Jika sang ayah adalah pemimpin negara yang baik, jujur, dan tidak suka gonta-ganti istri, tidak mungkin lahir anak yang menjadi desainer ngondek, ketua umum partai yang tidak jelas juntrungannya, atau melahirkan cucu yang pernah berpacaran dengan Jane Shalimar dan kini tidak jelas bagaimana nasibnya.

Ayah yang mendidik anaknya dengan baik akan menghasilkan pribadi yang baik pula. Pribadi yang mau bekerja keras hingga bisa berjualan martabak dan memiliki katering untuk pernikahan. Sebentar lagi sang anak akan “menghadiahkan” orang tuanya cucu yang diharapkan sanggup menjadi pemimpin yang jujur, tidak seperti kakeknya


Share: 

2/02/2016

Resensi American Crime Season 2 Episode 3 & 4



Episode Three

Nama Kevin disebut dalam berita mengenai kasus pelecehan seksual yang menimpa Taylor. Polisi semakin intensif menyelidiki kasus tersebut. Dan Sullivan berusaha mencari solusi dibantu istrinya, Steph Sullivan. Episode ketiga memberikan alternatif jalan cerita dengan semakin bervariasinya tokoh yang muncul. Seperti Elvis Nolasco sebagai Chris Dixon, kepala sekolah negeri tempat kekasih Taylor bersekolah dan karakter Eric Tanner yang lebih digali walau belum cukup dalam. Sedikitnya adegan yang menampilkan kegelisahan Taylor membuat reaksinya sebagai korban kurang diekspos dan meninggalkan rasa mengganjal bagi penonton.

Seperti biasa, sinematografi American Crime bisa dibilang sangat indah dibandingkan serial-serial TV yang lain. Namun, Episode Three tidak terlalu menonjolkan keindahan itu. Meski tidak seindah episode sebelumnya, American Crime masih berada di jalur yang benar dan masih layak ditunggu kelanjutannya. Selain itu, kaum jomlo* lebih dihargai pada episode ini dengan tiadanya adegan-adegan percintaan yang berlebih. Sebagai jomlo, saya sangat mengapresiasi usaha serial karya John Ridley ini. Semoga program TV lainnya bisa ikut serta dalam menghormati dan menghargai kaum jomlo, terutama jomlo ngenes.


Episode Four

Polisi telah mendapatkan hasil dari pemeriksaan barang bukti. Kebenaran mulai terkuak. Dan Sullivan merasa terpukul akibat kebohongan seluruh anggota tim basket. Leslie Graham berkencan dengan kekasihnya. Taylor pindah ke sekolah negeri. Kepingan-kepingan cerita di atas dirangkai dengan sangat indah lewat sudut pengambilan gambar, ekspresi masing-masing karakter dan dialog-dialog kuat diiringi sedikit sentilan untuk masyarakat luas.

Saya tak bisa melupakan adegan saat Leslie Graham menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Amarah meluap dalam diri saya. Bagaimana bisa seorang kepala sekolah bermesraan saat sekolahnya sedang dirundung masalah pelik? Kalau saja saya murid dari Leland, nama sekolah tempat Leslie bekerja, saya akan memecat kepala sekolah saya dan menggantinya dengan perempuan yang lebih baik, berpengalaman, tidak banyak pacaran, dan yang paling utama, harus cantik agar para siswanya betah. Selain itu, kepala sekolah wajib menggratiskan kantin sekolah, karena kantin adalah penguras uang saku siswa nomor dua setelah pulsa. Bahkan, kalau bisa, sekolah memberi pulsa gratis untuk siswanya.

Kritik sosial yang disampaikan oleh Episode Four amat mengena namun tidak menyakitkan. Penonton merasa terikat dengan ceritanya sehingga kebenaran sekaligus kritik yang diselipkan lebih mudah dicerna. Bagi saya, Episode Four jauh lebih baik dari episode pendahulunya di American Crime musim kedua. Semoga episode-episode selanjutnya dapat mempertahankan kualitas itu, dan semoga sistem pendidikan di seluruh penjuru dunia lebih melek akan kebutuhan siswanya. Terutama kebutuhan pulsa dan akses internet untuk foto alay.

*) Jomlo menurut KBBI artinya "gadis tua" dan kini maknanya bergeser menjadi "orang yang     tak kunjung punya pasangan"

Share: 

1/19/2016

Resensi American Crime Season 2 Episode 1&2


Jika saya sebelumnya menulis resensi dari Master of None langsung dalam satu season penuh, kali ini saya akan mencoba menulis resensi serial TV per episode. Serial yang saya pilih juga tidak sembarangan. American Crime, serial antologi pilihan saya, diganjar 10 nominasi Primetime Emmy Awards dan memenangi satu di antaranya. Golden Globe Awards 2016 menjadi ajang kejayaannya dengan tiga nominasi. Semua nominasi di atas adalah nominasi musim pertamanya. Karena season pertama yang menakjubkan dan membuat hati saya berdegup kencang sambil bergoyang dumang, saya putuskan untuk meresensi tiap episode pada musim kedua.

Episode One

Episode pertama diawali dengan suara telpon seorang wanita. “911, apa keluhan Anda?” “Saya tersedak batu akik.” “Maaf, kami tidak menerima poles akik.” “Saya tersedak, bukan mau poles akik” “Kami juga tidak menerima bedak untuk akik.” “Saya TERSEDAK!” Lalu keluarlah batu akik dari mulut wanita itu. Batu akik tersebut lantas berubah menjadi siluman batu akik. Beberapa kalimat yang saya tulis tadi bukan sinopsis asli episode pertama American Crime. Itu sebenarnya sinopsis film TV di stasiun yang suka menayangkan film laga tak jelas dan hanya mengandalkan ketampanan sang aktor dengan diselingi animasi naga yang lebih jelek dari gambaran anak SD.

American Crime dimulai dengan laporan telepon kepada 911 mengenai pemerkosaan. Ternyata itu adalah suara dari Anne Blaine (Lili Taylor), ibu dari Taylor Blaine (Connor Jessup), korban dari pemerkosaan tersebut. Sebelumnya Anne telah melaporkan kejadian ini pada Leslie Graham, tante-tante kepala sekolah yang diperankan oleh Felicity Huffman. Merasa tak puas dengan tanggapan tante kepala sekolah, Anne melaporkan pemerkosaan terhadap anaknya ke polisi. Pelaporan itu terjadi akibat foto-foto tidak senonoh Taylor yang tersebar di media sosial.

Selain peristiwa yang dialami Taylor, pelatih tim basket sekolah, Dan Sullivan (Timothy Hutton) sedang cemas karena putrinya yang bertindak bagaikan cabe-cabean kelas kakap. Sebagai episode pembuka, penonton bisa ikut terhanyut dalam gejolak emosi karakter-karakternya tanpa harus susah payah menerka jalan cerita. Karakter dan cerita terlihat sangat menyatu dan hampir tanpa celah. Walau ada beberapa adegan yang terlalu bertele-tele, salah satunya ketika Kevin, salah satu anggota tim basket sekolah, bermesraan dengan kekasihnya. Saya rasa itu hanya membuang-buang durasi dan membuat penonton kurang nyaman. Apalagi penonton jomblo seperti saya.


Episode Two

Taylor diperiksa oleh petugas medis. Anne mendatangi seorang detektif. Sama seperti tante kepala sekolah, tanggapan sang detektif tak bisa menyenangkan hati Anne. Dia langsung mencari cara lain untuk menegakkan keadilan bagi anaknya. Di sisi lain, Leslie Graham, tante-tante merangkap kepala sekolah, menggosok giginya.

Dalam episode ini, beberapa karakter mulai terlihat peranannya. Ibu Kevin dan Eric Tanner, wakil kapten tim basket, adalah beberapa di antaranya. Ibu Kevin digambarkan sebagai sosok pengatur berpengaruh. Saat hampir mencelakai orang karena kelalaian mengemudi, dia malah memfoto nomor polisi si korban dan melaporkannya hanya karena si korban marah padanya.

Episode kedua sedikit lebih kompleks dari episode sebelumnya, namun intensitas cerita dan emosi karakter masih terjaga. Salah satu aspek yang paling saya suka pada serial ini adalah sudut pengambilan gambar, dan episode ini merupakan yang terbaik untuk aspek tersebut. Ekspresi marah Taylor, kegelisahan ibunya, sampai adegan gosok gigi Leslie dapat terekam dengan indah. Lagi-lagi, episode ini membuat para jomblo kesal karena perlakuan Kevin yang membelanjakan USD 900 untuk kekasihnya. Kalau saja saya memiliki uang sebanyak itu, saya akan menampar wajah Kevin dengan uang saya.

Share: 

12/16/2015

Resensi Master of None - Season 1 (2015)


Layanan streaming Netflix selama ini terkenal dengan serial-serial superhero-nya seperti Daredevil atau Jessica Jones. Namun, Netflix juga banyak memproduksi serial komedi seperti Unbreakable Kimmy Schmidt, Grace and Frankie, dan Master of None. Kali ini saya akan membahas nama terakhir yang membawa seorang Aziz Ansari, komika asal Amerika Serikat keturunan India, mendapat nominasi Goden Globe Awards dalam kategori aktor utama terbaik pada serial komedi.

Berkisah tentang kehidupan Dev (Aziz Ansari), seorang aktor yang sedang meniti karir setelah lebih dahulu terkenal dalam iklan yogurt. Dev berjuang mengatasi berbagai masalah kehidupan yang menghampirinya. Sama seperti artis NM dan PR yang diklaim dapat mengatasi masalah para pengusaha atau pejabat kaya yang sedang kekurangan kasih sayang dari perempuan. Hubungan percintaan, karir sebagai aktor, menentukan tempat makan, rasisme, hingga hubungan dengan orang tua adalah beberapa masalah yang harus diatasi Dev. Sama seperti saya dan Anda yang pasti memiliki masalah. Salah satu masalah terbesar saya adalah perut saya yang sering kurang bersahabat. Saya curiga, jangan-jangan sebenarnya perut saya bukanlah sebuah perut, melainkan seorang Setya Novanto yang bersembunyi dan menyamar sebagai perut agar dia bisa menggerogoti semua makanan yang saya makan. Sama seperti penggerogotannya ke tubuh DPR RI.

Sebelum menonton Master of None, saya sebelumnya sudah selesai membaca buku karya Aziz Ansari dan Eric Klinenberg, Modern Romance. Saya tidak membaca bukunya karena bukunya terlalu mahal buat seorang jomblo eknonomis (kere) seperti saya. Saya memilih untuk mengunduh buku elektroniknya dengan konsekuensi harus menunggu lama karena koneksi internet yang lambat dan harus menahan rasa sakit pada perut saya akibat terlalu banyak makan cilok dengan sambal sebanyak lima sendok semen.


Modern Romance memiliki keterkaitan yang kuat dengan Master of None. Saya mencatat, ada empat episode yang mirip dengan isi buku Modern Romance. Salah satunya adalah episode berjudul Old People yang membicarakan tentang kehidupan para lansia. Salah satunya adalah nenek dari kekasih Dev, Rachel (Noel Wells). Saya merasakan ikatan emosi yang kuat dalam episode tersebut. Salah satunya karena nenek saya yang cukup unik dan wajib dilestarikan. Bahkan kalau bisa nenek saya masuk ke dalam warisan-warisan dunia yang harus dilestarikan, sama seperti batik dan Candi Borobudur.

Master of None berhasil menggambarkan kehidupan dan permasalahan seorang laki-laki secara gamblang dan sangat realistis. Dev memang sering kali melakukan kegiatan-kegiatan absurd, namun absurditas itu dapat dimaklumi karena dalam dunia nyata, banyak orang seperti Dev. Termasuk diri saya. Salah satu kegiatan absurd yang paling saya ingat adalah ketika Dev dan sahabatnya, Arnold (Eric Wareheim) datang ke toko mainan dan memencet boneka dinosaurus dengan terus-menerus disertai ekspresi konyol. Jujur, saya juga sering melakukan kegiatan konyol seperti itu. Biasanya saya bermain ciluk-ba dengan boneka Hello Kitty milik adik saya.


Aziz Ansari sebagai pemeran utama sukses membuat penonton selalu memperhatikan segala ucapan dan tingkah lakunya. Tidak hanya itu, karakter Dev menjadi semakin kuat dengan ekspresi-ekspresi jenaka khas Aziz Ansari. Selain Aziz, kedua orangtua kandungnya, Shoukath dan Sharma Ansari yang berperan sebagai orang tua Dev cukup mencuri perhatian. Terutama sang ayah, Shoukath Ansari. Dialognya dengan Dev begitu mengena namun tetap menyenangkan. Bagi saya, Master of None adalah serial komedi terbaik yang pernah saya lihat. Jauh lebih baik dari serial komedi yang terjadi di ruang sidang MKD.

Share: