Tampilkan postingan dengan label Thriller. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thriller. Tampilkan semua postingan

5/27/2017

Resensi Film Headshot (2016)


Darah, tulang patah, kulit sobek, sampai kepala pecah adalah sebagian dari ciri khas The Mo Brothers dalam memvisualisasi karyanya. Setiap adegan kejar-kejaran atau baku hantam selalu menghadirkan kesadisan maksimal. Duet dengan nama asli Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel itu juga suka mengadaptasi teknik film horror atau slasher jepang yang total dan sedikit absurd. Skenario yang cukup baik dapat mengimbangi aspek brutal yang terlihat pada Ruma Dara dan Killers, karya kedua saudara itu sebelumnya. Dibintangi oleh Iko Uwais, salah satu aktor laga terpopuler Indonesia saat ini, mampukah Headshot mengimbangi atau bahkan tampil lebih baik dari karya Timo dan Kimo terdahulu?

Ishmael (Iko Uwais) terbangun dari koma akibat peluru yang menancap di dalam otaknya. Ailin (Chelsea Islan), dokter yang merawat Ishmael, ikut bahagia melihat pasiennya kembali pulih meski sang pasien hilang ingatan. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama karena gangguan dari gerombolan kriminal kakap pimpinan Lee (Sunny Pang) yang menginginkan nyawa Ishmael.


Dirawat, jatuh cinta, terpaksa berjuang demi cintanya, lalu berakhir bahagia. Sudah terlalu banyak FTV dan sinetron yang memakai pola tersebut. Sayangnya, Headshot menggunakan pola serupa meski dibumbui adegan laga berdarah-darah. Jika seluruh scene perkelahian dan pertarungan dihapus, akan muncul kisah cinta lebay ala FTV dengan judul Preman Baik dan Dokter Cantik atau Pacarku Pembunuh Professional. Akting Iko Uwais sedikit menyelamatkan adegan drama percintaan dalam Headshot. Bersama Chelsea Islan, hubungan keduanya tidak terasa seperti Aliando-Prilly dalam sinetron tentang serigala yang sudah bubar itu. Kedekatan keduanya juga terasa natural. Berbeda jauh dengan Citra Kirana-Andi Arsyil dalam sinetron yang juga sudah berakhir itu. Khusus untuk Chelsea, ia masih terlihat canggung beradu peran dengan Iko, walau masih enak ditonton.


Adegan laga benar-benar menjadi penyelamat bagi Headshot. Saya hampir saja meninggalkan tempat saya duduk dan berkhidmat ke toilet untuk membuang hajat yang telah lama disimpan. Namun, niat itu saya urungkan setelah melihat Ishmael beradu jotos dengan Rika (Julie Estelle). Keduanya total mengerahkan seluruh kemampuan aktingnya demi adegan yang tidak sampai 15 menit. Julie Estelle berperan cukup baik sebagai pembunuh, namun masih lebih garang ketika ia memerankan gadis berpalu di The Raid 2.

Mo Brothers memang ahlinya kesadisan dan ketegangan. Bahkan, ketika skenario yang ditulis oleh Timo Tjahjanto terasa standar dan mudah ditebak, suasana tegang yang diberikan masih mampu menolong dan menambal segala kekurangan pada aspek penulisan. Saya yakin, jika kualitas film-film mereka semakin meningkat, bukan tidak mungkin Mo bersaudara sanggup menembus box office Hollywood dan menjadi sutradara film aksi tersukses di Indonesia, lalu salah satu dari mereka mencalonkan diri menjadi presiden dan memenangkannya. Pasti Indonesia akan  sangat menegangkan dan dipenuhi baku hantam serta tulang remuk. Sama seperti Indonesia di rezim ayah Pangarep yang berkualitas rendah, serendah produk buatan Tiongkok



Share: 

5/18/2017

Resensi Film Get Out (2017)


Kehidupan masyarakat kulit hitam masih menjadi tema yang seksi untuk diangkat ke dalam karya layar lebar. Moonlight dan Fences adalah contoh kisah orang kulit hitam yang sukses menembus nominasi Oscar 2017. Moonlight bahkan dinobatkan sebagai film terbaik di ajang tersebut. Masih banyak karya tentang individu kulit hitam lainnya yang populer di tahun 2017. Get Out salah satunya. Disutradarai oleh Jordan Peele, salah satu komedian kulit hitam yang sedang naik daun dalam beberapa tahun terakhir berkat program sketsa komedi televisi yang dibintanginya bersama Keegan- Michael Key. “Hanya” menghabiskan bujet USD 4,5 juta, Get Out meraup USD 194,9 juta hingga bulan Mei 2017. Pemasukan sebanyak itu menahbiskan namanya pada sejarah perfilman Holllywood sebagai film debut dengan skenario original berpenghasilan terbesar, mengalahkan rekor 18 tahun yang dipegang The Blair Witch Project.

Chris Washington (Daniel Kaluuya), mengunjungi rumah calon mertuanya bersama sang kekasih, Rose Armitage (Allison Williams). Keluarga Armitage mempekerjakan dua orang kulit hitam berperilaku aneh, Georgina (Betty Gabriel) dan Walter (Marcus Henderson). Chris memiliki firasat buruk terhadap apa yang terjadi dalam keluarga Armitage. Ia berusaha mencari tahu tentang keluarga tersebut dibantu oleh sahabatnya yang konyol, Rod Williams (Lil Rel Howery).


Tidak banyak film komedi horror yang sukses memadukan ketegangan dan kejenakaan. Get Out termasuk salah satu yang amat baik dalam menampilkan keduanya. Dialog-dialog cerdas namun menggelitik seperti “My dad is not racist, he would vote for Obama if he can run again as a president.” Atau “They are going to use you as a sex slave!” mewarnai 103 menit film tersebut. Kelucuan yang timbul juga tidak dipaksakan seperti kebanyakan film komedi horror. Daniel Kaluuya juga sukses memerankan tokoh Chris yang cerdas dan jeli. Wajah Kaluuya sebagai Chris cukup mirip dengan wajah pria yang mencari pasangan di Tinder namun selalu gagal karena tidak ada wanita yang menyukai wajah sang lelaki.

Get Out mengangkat isu perbedaan dengan cara yang unik. Hampir semua karakter kulit putih yang muncul tidak seperti orang rasis kebanyakan dan membenci orang kulit hitam seperti jamur membenci Kalpanax atau seperti para pendukung calon gubernur yang gagal move on sehingga terus-menerus menyalahkan umat islam yang religius dan menganggap mereka adalah biang kegagalan sang calon gubernur gila. Sebagian besar dari mereka malah memuji orang-orang kulit hitam dan menganggap orang-orang kulit hitam sebagai makhluk yang sedang hits dan kuat. Namun, di balik pujian itu, mereka tidak peduli dengan perasaan orang-orang kulit hitam.

Get Out sangat cocok ditonton bersama pasangan. Apalagi bagi pasangan yang akan bertemu calon mertua masing-masing. Lebih baik lagi jika para pasangan yang menonton mau mengajak orang-orang jomblo untuk ikut menikmati karya Jordan Peele itu. Karena sebagian besar makhluk jomblo kurang mendapat hiburan kecuali ada yang mau membantu menghiburnya.



Jordan Peele benar-benar sukses mengeksplorasi komedi dalam horror dan isu rasisme yang sedang hangat-hangatnya. Peele berpotensi menjadi sutradara kulit hitam berprestasi namun tetap populer, kehebatannya bahkan bisa menandingi F.Gary Gray atau Spike Lee yang sudah malang melintang selama puluhan tahun di industri film. Saking lamanya menjadi sutradara,  wajah Spike Lee kini terlihat seperti kertas skenario kusut.

Share: 

5/04/2017

Resensi 13 Reasons Why? Season 1 (2017)


Bunuh diri adalah salah satu topik yang amat jarang diangkat ke dalam karya televisi. 13 Reasons Why? Termasuk salah satu serial televisi yang berani mengangkat kisah bunuh diri lewat pendekatan remaja. Hasil adaptasi novel berjudul sama karya Jay Asher itu disutradarai oleh nama-nama mentereng di Hollywood seperti Tom McCarthy yang pernah menakhkodai Spotlight dan Greg Arakki yang pernah menggarap Mysterious Skin. Di kursi produser eksekutif, ada Selena Gomez dan produser kawakan Steve Golin yang tangan dinginnya terlibat dalam produksi Spotlight, The Revenant dan True Detective.

Clay Jensen (Dylan Minnette) mendapat paket berisi rekaman suara Hannah Baker (Katharine Langford), teman sekolahnya yang baru saja meninggal akibat bunuh diri. Rekaman tersebut berisi 13 alasan Hannah bunuh diri. Clay harus menguak fakta tidak menyenangkan tentang teman-teman sekolahnya sekaligus bertindak demi keadilan untuk Hannah. Clay juga terpaksa menyembunyikan rekaman suara itu dari orang tuanya.


Tidak ada bunuh diri yang menyenangkan. Pesan tersebut disisipkan sepanjang 13 episode 13 Reasons Why?. Hannah yang frustasi digambarkan sangat apik dengan tata rias khas korban depresi. Tangisan-tangisan Hannah, keterkejutannya saat dikuntit, hingga canda tawanya bersama Clay benar-benar merasuk ke dalam emosi penonton namun tidak sampai masuk taraf lebay seperti sinetron-sinetron yang suka bicara sendiri dan tangis buatan hasil olesan bawang.

Karakter yang konsisten adalah kunci dari kualitas semua karya seni. 13 Reasons Why? Menampilkan kekuatan tersebut pada tiap episodenya. Clay yang pendiam namun humoris, Hannah yang depresif, Tony (Christian Navarro) yang selalu ingin membantu, hingga Zach (Ross Butler) yang berhati baik namun kurang tegas terhadap keburukan di sekitarnya. Tidak ada karakter yang terlalu menonjol dan dibuat bak dewa super baik atau iblis ekstra jahat. Semuanya wajar dan realistis. Sejahat-jahatnya Justin Foley (Brandon Flynn), dia masih sangat peduli terhadap sang kekasih dan membelanya saat ia disakiti. Clay juga bukan anak baik yang selalu patuh terhadap orangtuanya, meski dia yang paling getol membela Hannah pasca kematiannya. Berbeda dengan sinetron Indonesia yang hanya bisa menampilkan ekspresi jahat pada karakter jahat, ekspresi baik pada karakter baik, atau ekspresi kebelet pada karakter yang beser.


13 Reasons Why? Bisa dikategorikan sebagai salah satu serial drama terbaik yang dipersembahkan Netflix. Cukup banyak karya original Netflix yang berkualitas, 13 Reasons Why? masih bisa menonjol di antara karya-karya tersebut. Seperti bibir di wajah Tukul Arwana, atau kelicikan di wajah Setya Novanto. Keberanian 13 Reasons Why? patut diacungi jempol dalam mengangkat isu-isu sensitif seperti bunuh diri, kehidupan penyuka sesama jenis, sampai kekerasan dalam rumah tangga. Aktor dan aktris yang beragam dan multi etnis juga termasuk salah satu kenggulan serial yang dirilis pada 31 Maret 2017 itu. Bahkan, ada salah satu aktor keturunan Indonesia yang cukup banyak berperan. Ross Butler, nama aktor tersebut, memiliki darah Tionghoa Indonesia dari sang ibu. Butler menjadi salah satu bukti jika keturunan Tionghoa Indonesia bisa berprestasi, tidak hanya mengumpat dan menghujat seperti Gubernur DKI Jakarta yang baru saja kalah dalam pemilihan umum.


13 Reasons Why? memang bukan Master of None yang hadir hampir tanpa celah dan menjadi serial masterpiece dari Netflix. Namun, gabungan antara misteri dan drama yang mengikat emosi penonton ditambah karakter yang konsisten serta realistis sudah cukup menjadi bekal 13 Reasons Why? untuk dikenang sebagai salah satu serial drama misteri remaja terbaik sepanjang masa.



Share: 

1/05/2017

Resensi Film The Accountant (2016)


Setelah Batman vs Superman: Dawn of Justice, Ben Affleck hanya muncul di layar lebar sebagai cameo dalam Suicide Squad. The Accountant merupakan film kedua Affleck di tahun 2016 yang menampilkan dirinya sebagai tokoh utama. Bintang-bintang Hollywood seperti Anna Kendrick, J.K. Simmons dan Jeffrey Tambor turut serta dalam jajaran cast The Accountant. Kebintangan dan kualitas akting Ben Affleck serta aktor dan aktris populer yang terlibat dalam produksi film menjadikan The Accountant film thriller yang mencatat keuntungan besar dengan pemasukan USD 146 juta dari bujet USD 44 Juta.

Christian Wolff (Ben Affleck) merupakan seorang akuntan organisasi-organisasi kriminal tingkat tinggi yang mengidap autisme. Sebuah perusahaan teknologi meminta bantuan Wolff untuk megaudit keuangan mereka. Dalam perusahaan tersebut, Wolff bertemu akuntan perusahaan, Dana Cummings (Anna Kendrick). Dalam proses audit, nyawa orang-orang di sekitar Wolff terancam. Di sisi lain, agen pemerintah menginvestigasi keberadaan Wolff.


Tidak banyak hal berbeda yang ditawarkan oleh The Accountant dalam genre crime thriller. Selain autisme Christian Wolff, sebagian besar alur dan visualisasi film sudah jamak ditemui pada genre serupa. Penonton cukup sulit untuk terikat dalam cerita yang dipaparkan sepanjang 127 menit film berjalan. Plotnya seolah saling tindih tanpa ada yang menonjol. Kisah cinta antara Wolff dan Cummings kurang sukses menggali emosi penonton. Investigasi agen pemerintah yang diperankan oleh J.K. Simmons terkesan hanya sebagai pelengkap dan berlalu begitu saja. Pembunuhan yang dilakukan sekelompok kriminal misterius lebih mirip adegan pada film-film Steven Seagal beberapa tahun terakhir yang dipenuhi omong kosong tanpa makna dan ancaman-ancaman yang tidak menakutkan sama sekali, sama seperti ancaman UU ITE yang lembek dan kurang bertaji bagi para relawan media sosial calon kepala daerah yang membenci Islam.

Satu-satunya kesan baik yang membekas dari The Accountant  adalah akting Ben Affleck yang total memerankan pria autis yang amat detail, ahli bela diri dan menembak. Cara makan, menyetir, bahkan cara dia memejamkan mata sangat sesuai dengan kondisi autisme di dunia nyata. Saat dia bergulat dengan para pembunuh bayaran, saya teringat karakter Batman yang diperankannya. Ben Affleck di The Accountant adalah Batman dalam versi autis. Jika The Accountant diproduksi sekuelnya, mungkin  dia akan bertarung dengan Superman dan judulnya adalah The Accountant vs Superman: The Worst Movie Ever. Kualitas akting Ben Affleck memang sangat mumpuni. Berbeda dengan tersangka penodaan agama yang aktingnya terlihat dibuat-buat dan lebih buruk dari akting jajaran cast Anak Jalanan, Tukang Bubur Naik Haji, dan Anak Jalanan Naik Haji.



Ben Affleck kembali merilis film yang disutradarainya pada 25 Desember 2016 berjudul Live By Night. Semoga Ben Affleck dapat mengukir awal yang manis di tahun 2017, dan semoga para pemimpin yang suka bicara pedas, sering mengumbar air mata buaya dan pura-pura tidak bersalah bisa dihukum seberat-beratnya.


Share: 

8/04/2016

Resensi The Night of - Episode 1


Setelah berakhirnya True Detective musim kedua, HBO belum memproduksi serial detektif kelam nan realistis hingga kemunculan The Night of, sebuah miniseri yang dibintangi oleh Riz Ahmed dan John Turturro. Steve Zaillian dan Richard Price bertindak sebagai produser eksekutif, penulis skenario, sekaligus showrunner. Zaillian juga menyutradarai miniseri tersebut bersama dengan James Marsh yang pernah menyutradarai The Theory of Everything. Hasil karya Zaillian sebelumnya juga tak kalah apik. Sineas kelahiran California itu pernah menulis skenario pada film Moneyball,The Girl with the Dragon Tattoo, dan Exodus: Gods and Kings. Jajaran kru yang cukup berkualitas dan promo yang menarik membuat The Night of wajib mendapat perhatian dan pantas untuk ditonton (jika Anda memiliki waktu dan saluran HBO di rumah, atau mengunduh ilegal seperti kebanyakan penyuka film seperti saya dengan kondisi keuangan yang sangat mepet, jauh lebih mepet dari tempat parkir sepeda motor di mal ketika menjelang lebaran).

Nasir Khan (Riz Ahmed) hidup dalam keluarga muslim Pakistan di New York. Sang ayah, Salman Khan (Peyman Moaadi) adalah sopir taksi yang harus berbagi pendapatan dengan dua rekannya. Sang ibu, Safar Khan (Poorna Jagannathan) adalah pedagang kain di pasar. Hidup Naz-sapaan akrab Nasir Khan- berubah ketika dia bertemu Andrea Cornish (Sofia Black D’Elia) perempuan yang masuk ke taksi yang saat itu dikemudikan oleh Naz. Sosok Andrea yang nakal namun cantik dan sangat menarik membuat Naz menyetujui permintaan Andrea untuk bermalam di rumahnya. Nahas, dini hari saat Naz bangun, Andrea sudah tidak bernyawa dengan banyak tusukan di tubuh. Naz pun harus berurusan dengan Detektif Dennis Box (Bill Camp), polisi yang menangani kasus tersebut.


Penampilan Riz Ahmed yang sebelumnya pernah bermain di film Nightcrawler sukses mencuri perhatian. Karakter Naz yang canggung dengan emosi yang tidak stabil sangat cocok diperankan oleh Ahmed. Kecanggungan Naz mengingatkan saya pada masa kecil saya. Dulu, saya adalah bocah canggung namun banyak omong. Kombinasi kedua sifat tersebut membuat saya terlihat bodoh. Luar biasa bodoh. Kalau diingat kembali, mungkin saya adalah versi nyata Harry dan Lloyd dalam Dumb and Dumber.


Kemunculan John Turturro yang hanya sesaat pada episode pertama sedikit mengurangi intensitas cerita, tapi cukup membantu membangun plot untuk episode selanjutnya. Gerak tubuh, cara bicara, dan gaya busana John Stone, nama tokoh yang diperankan oleh Turturro, memiliki ciri khas tersendiri. Terutama kakinya yang mengidap penyakit aneh sehingga kakinya terlihat seperti kaki orang yang tidur di kebun tanpa obat nyamuk dan autan. Gaya bicaranya juga mirip pria mabuk yang baru kehilangan pekerjaannya akibat direshuffle oleh presiden.

Share: 

2/15/2016

Resensi Film The Hateful Eight (2015)


Delapan orang terjebak dalam satu ruangan ketika badai salju. Semuanya sama-sama mencurigai satu sama lain. Tidak ada yang bisa dipercaya kecuali diri sendiri. Suasana mencekam. Itu adalah sebagian dari cerita film kedelapan karya Quentin Tarantino. The Hateful Eight, judul film tersebut, mengambil latar waktu pasca perang sipil di Amerika Serikat atau akhir 1800-an. Belum ada wi-fi, belum ada ponsel pintar, belum ada aplikasi chatting dan orang yang terjebak saat badai salju tidak bisa memesan taksi Uber atau ojek online.

John Ruth (Kurt Russel), seorang bounty hunter, membawa tahanan wanita, Daisy Domergue (Jennifer Jason Leigh) dalam kereta kuda yang dikusiri oleh O.B. (James Parks). Di tengah perjalanan, mereka bertemu bounty hunter kulit hitam. Marquis Warren (Samuel L. Jackson), nama sang bounty hunter kulit hitam, meminta tumpangan ke Red Rock, kota yang juga tujuan dari John Ruth. Tidak lama setelah Warren naik ke dalam kereta, Chris Mannix (Walton Goggins), sheriff baru Red Rock, mencegat kereta tersebut dan memohon untuk ikut menumpang karena badai salju yang semakin kencang. Mereka beristirahat sejenak sambil menunggu badai salju reda di sebuah rumah kecil milik Minnie dan Sweet Dave, namun sang pemilik sedang tidak ada. Ternyata rumah kecil itu sudah terisi oleh empat orang lainnya, Bob (Demian Bichir) yang mengaku sebagai pengurus rumah sejak pemiliknya pergi, Oswaldo Mobray (Tim Roth), Sanford Smithers (Bruce Dern), seorang jendral perang sipil, dan Joe Gage (Michael Madsen). Mereka semua terjebak dalam rumah kecil nan reyot dan saling curiga terhadap satu sama lain.


Seperti biasa, Quentin Tarantino memberi sentuhan khas pada setiap film-filmnya, tak terkecuali The Hateful Eight. Dialog-dialog panjang dengan bumbu sarkasme dan komedi gelap, darah bercucuran, perempuan aneh, dan Samuel L. Jackson. Di samping dialog-dialog tanpa henti bak tukang kredit panci menawarkan dagangan, terselip adegan-adegan komedi gelap namun cerdas. Salah satu adegan yang membuat saya tertawa terbahak-bahak adalah adegan Daisy Domergue memperagakan ucapan John Ruth. Selain itu, percakapan Warren tentang semur sangat membekas dalam ingatan.

Satu jam pertama The Hateful Eight tidak terlalu memberikan ketegangan. Beberapa bagian terasa kosong tanpa ada kesan tegang atau lucu. Hanya adegan-adegan yang dibuat untuk mendukung cerita namun kurang memberikan emosi pada penonton. Bagi Anda yang tidak terbiasa dengan film seperti itu, saya sarankan Anda minum kopi hitam satu gelas atau minum dua termos air hangat agar tidak cepat mengantuk. Kalau Anda menontonnya di luar ruangan, sediakan obat nyamuk sebanyak mungkin. Jika sakit berlanjut, hubungi dokter.



Jennifer Jason Leigh memang pantas dinominasikan sebagai aktris pendukung terbaik pada Oscar 2016. Perannya sebagai perempuan nakal dapat menghadirkan emosi tersendiri dan mampu membuat The Hateful Eight semakin menarik.  Saya sendiri sangat suka melihat perempuan nakal dengan muka berantakan. Wajah babak belur Jennifer terlihat sangat realistis. Greg Nicotero dari serial The Walking Dead dan Howard Berger berhasil menjalankan tugas mereka di bidang special make-up effect. Scoring Ennio Morricone dan sinematografi dari Robert Richardson menambah keindahan lewat alunan musik merdu dan panorama pegunungan bersalju. Bukan film terbaik dari Tarantino, tapi sangat layak untuk ditonton.

Share: 

1/25/2016

Resensi Film Sicario (2015)



 Apa persamaan dari Angelina Jolie, Jennifer Lawrence, dan Emily Blunt? Ketiganya cantik dan sangat tangguh ketika berperan sebagai perempuan bersenjata. Siapapun laki-laki yang berhadapan dengan mereka, pasti akan merasa jatuh cinta pada ketangguhan ketiga bidadari Hollywood itu. Saya bahkan berharap bisa selalu melihat mereka menenteng senjata. Apalagi jika ada yang menyelipkan buku nikah di balik senjatanya dan terdapat foto saya berdampingan dengan salah satu dari ketiganya. Saya rasa angan-angan saya terlalu tinggi.

Sicario menjadi ajang pembuktian keperkasaan Emily Blunt. Berperan sebagai Kate Macer, agen FBI yang ditugaskan untuk membantu Matt Graver (Josh Brolin), menangkap pembunuh bayaran kartel narkoba Meksiko, Manuel Diaz. Dalam keberangkatan, Kate bertemu Alejandro Gillick (Benicio Del Toro), pria dingin rekan kerja Matt. Selama perjalanan dan penugasannya bersama Matt dan Alejandro, Kate menemukan banyak kejanggalan.


Jika Anda sudah menonton Prisoners (2013), yang sama-sama disutradarai Dennis Villeneuve,  alur Sicario mirip dengan film tersebut. Villeneuve membangun misteri sejak menit pertama. Karakter Kate, Matt, dan Alejandro punya daya tarik masing-masing yang membuat kemisteriusan dalam film terus terjaga sampai akhir. Sinematografi karya Roger Deakins mampu mempertebal kesan misterius dan sedikit mencekam. Awan kelabu di balik jasad-jasad manusia, kegelapan malam Kota Juarez, anak-anak bermain bola diiringi suara tembakan dan ledakan, masih banyak pemandangan-pemandangan indah sekaligus menegangkan yang mengajak penonton ikut masuk dalam kelamnya perbatasan Meksiko.

Narkoba sangat merusak moral bangsa. Karena narkoba, Andhika Kangen Band mendekam di jeruji besi, karena narkoba, selebriti pria digerebek bersama Wanda Hamidah,  narkoba juga menjadi penyebab terjadinya pemecatan massal pilot dan pramugari pesawat. Betapa rusaknya Indonesia karena narkoba. Patut diapresiasi rencana kepala BNN menempatkan buaya unuk menjaga lapas narkotika. Kalau bisa, tidak hanya buaya saja yang ditangkar di depan lapas, Harimau Sumatera, Badak Jawa, Jalak Bali, Gajah Sumatera, dan hewan-hewan lainnya perlu diberi tempat di kompleks lapas, sehingga lapas bisa mengelola suaka margasatwa secara independen. Bicara soal narkoba, Sicario menyelipkan pesan anti narkoba dengan tersirat tapi tetap mengena.


Pada beberapa bagian, tempo film terasa cukup lambat. Lambatnya tempo dapat dibayar dengan tuntas lewat karakter yang dibangun dengan matang dan terjaganya plot tanpa distraksi dari subplot yang mengganggu. Sinematografi Roger Deakins dan scoring Jóhann Jóhannsson sukses menyatu dan memperindah setiap momen. Nominasi Oscar 2016 memang pantas diraih keduanya.


Saya berharap, semoga buaya-buaya yang segera ditempatkan sebagai penjaga lapas narkotika bisa menjalankan tugasnya dengan baik tanpa ada gangguan pihak-pihak lain yang mencoba menyuap mereka dengan uang, makanan, atau obat-obatan terlarang, dan semoga Emily Blunt mendapat lebih banyak kesempatan bermain di film laga agar saya bisa terus menyaksikan sosok keren dan cantiknya.

Share: 

1/10/2016

Resensi Film The Revenant (2015)


Alejandro Gonzales Inarritu memang bukan sutradara film populer dengan pendapatan sangat tinggi seperti J.J. Abrams, James Wan, Steven Spielberg, atau nama-nama beken lainnya. Namun, karya-karyanya tidak kalah bagus dengan tiga sutradara tadi. Ibarat keripik pedas, karya Inarritu adalah keripik pedas level 125, jika dimakan, saya yakin Anda butuh sepuluh tablet obat diare. Birdman dan Biutiful merupakan dua contoh karya Inarritu yang sangat baik secara kualitas. Bagaimana dengan The Revenant, karya terbaru Inarritu?

Dengan latar waktu di tahun 1823, Hugh Glass (Leonardo DiCaprio) adalah salah satu anggota dari kelompok berburu pimpinan Andrew Henry (Domhnall Gleeson). Nahas, suku Indian Arikara meyerang kelompok tersebut dan hanya sebagian kecil yang dapat bertahan. Di tengah perjuangan mereka dalam kondisi dingin yang ekstrim, seekor beruang grizzly menerkam, menggigit, dan mencakar Hugh Glass. Untung saja, beruang itu tidak membawa peralatan masak. Jika saja si beruang membawa peralatan masak, pasti Glass sudah menjadi sate atau gule. 

Glass terluka parah, bahkan hampir mati. Saking parahnya, John Fitzgerald (Tom Hardy), salah satu pemburu, menyarankan Henry untuk membunuh Glass. Namun usulan tersebut ditolak oleh Henry. Dalam keadaan genting dan semakin buruknya cuaca, Henry memutuskan untuk meneruskan perjalanan dan menawarkan beberapa orang anggotanya untuk menemani Glass dengan sejumlah bayaran. Hawk (Forrest Goodluck) putra Glass, dan Jim Bridger (Will Poulter) menerima tawaran tersebut dengan sukarela. Karena pengalaman keduanya yang masih sangat minim, Fitzgerald dengan berat hati ikut membantu mereka menjaga Glass. Apa daya, karena niat yang tidak tulus, Fitzgerald membunuh Hawk dan memaksa Jim Bridger untuk pergi meninggalkan Glass di tengah hutan penuh salju.


Sinopsis di atas merupakan salah satu sinopsis paling panjang yang pernah saya tulis karena durasi film yang begitu panjang, sekitar 156 menit. Terpaksa saya berkali-kali menekan tombol pause dan melakukan kegiatan lain seperti menyapu, memasak, cuci piring, cuci pakaian, mencukur bulu ketiak, mencukur kumis, mencukur kumis yang ada di ketiak, dan aktifitas lainnya. Total saya menghabiskan waktu empat jam lebih untuk melakukan itu semua.

Dengan durasi teramat panjang, Inarritu berhasil menghibur penonton lewat pemandangan-pemandangan indah hutan bersalju. Selain keindahan hutan, suasana mencekam juga benar-benar terasa lewat akting Leonardo DiCaprio dan adegan-adegan bertahan hidup yang menegangkan sekaligus menyedihkan. Langkah gontainya, suara rintahannya, nafas beratnya, dan tatapan mata khas orang masuk angin memberikan nilai plus pada akting DiCaprio.


Inarritu juga cukup detail menggambarkan sosok Hugh Glass yang teguh pendirian dan pantang menyerah. Tak jarang Glass terpaksa berjalan cukup jauh pada suhu dingin yang sangat menyulitkan. Emosi Glass juga ditampilkan dengan epik lewat ekspresi dan pergerakan tubuh DiCaprio. Saya bisa merasakan dendam Glass yang begitu dalam meskipun saya tidak pernah kehilangan anak dan ditinggal dalam hutan penuh salju seperti Glass. Dendam terdalam saya adalah dendam kepada teman-teman sekolah saya yang suka menyembunyikan sepatu saya di tong sampah. Ada pula dendam kecil terhadap para perempuan yang dulu sering mengabaikan saya karena wajah saya masih di bawah standar.

Selain beberapa aspek positif di atas, panorama-panorama indah garapan sinematografi dari Emmanuel Lubezki kadang terasa mengganggu karena kemunculannya yang terlalu sering. Jika saja kemunculannya tidak terlalu sering, mungkin film ini akan menjadi film yang sempurna. Sesempurna ketampanan DiCaprio. Namun, kekurangan itu bisa ditutupi oleh akting DiCaprio yang benar-benar memukau. DiCaprio membuat kaum adam berwajah kurang standar semakin minder karena dia bisa memerankan sosok pria yang tidak tampan. Sedangkan pria yang sejak lahir tidak tampan alias jelek kecil kemungkinannya untuk memerankan pria tampan karena setampan apapun, pasti masih kelihatan jelek. Salut untuk DiCaprio. Semoga Oscar tahun 2016 bisa menjadi miliknya.

Share: 

12/02/2015

Resensi Film The Gift (2015)


Pertama kali melihat poster filmnya, saya kira film ini dibintangi oleh Luis Suarez, penggawa Barcelona dengan gigitan khasnya itu. Raut mukanya, mata tajamnya, cambang tebalnya, anting kiri khas terong-terongannya. Semua begitu mirip dengan Suarez. Namun, dugaan saya salah. Orang dalam poster film dan sedang memegang kado itu tak lain adalah Joel Edgerton. Sutradara, penulis skenario, sekaligus pemeran dalam film yang dirilis ketika saya masih jomblo itu.

Kehidupan pasangan Simon (Jason Bateman) dan Robyn Callum (Rebecca Hall) sedang dalam masa transisi ke lingkungan baru. Persis seperti PSSI yang sedang dalam masa transisi tanpa solusi jelas. Ketika mereka berdua sedang berbelanja, seorang pria bernama Gordon Moseley (Joel Edgerton), mendekati Simon dan mengaku sebagai teman SMA nya. Setelah pertemuan tersebut, Gordo-sapaan akrab Gordon Moseley-datang ke rumah Simon, makan malam bersama dia dan istrinya, datang ke rumah tanpa diundang, persis seperti jaelangkung. Bahkan mengirimkan hadiah, salah satunya ikan koi beserta makanannya. Jika saja Simon bukan orang kaya dengan rumah yang cukup mewah, mungkin Gordo akan mengirim ikan cupang untuk simon, ikan sapu-sapu, atau bahkan kecebong.


Kebaikan Gordo dengan hadiah-hadiahnya membuat Simon merasa tak nyaman. Namun Robyn, sang istri, menganggap perasaan Simon sebagai sesuatu yang berlebihan, sama berlebihnya dengan lemak pada tubuh orang obesitas. Inilah yang membuat The Gift terasa menegangkan. Kecurigaan, rasa tidak nyaman, galau, dan was-was yang menghinggapi diri pasangan itu bak kecoak terbang yang tiba-tiba hinggap di kepala. Begitu menakutkan dan membuat perasaan tidak nyaman. Joel Edgerton sebagai sutradara cukup berhasil membawa perasaan tidak enak pada kedua karakter suami-istri itu dan membuat penonton mengikuti alur cerita hingga adegan terakhir.

Karakter Gordo dengan segala kebaikannya memang terlihat sangat mencurigakan dan sukses menanamkan ketegangan pada pikiran penonton. Gordo memang terlihat seperti lelaki kikuk dengan sejuta misteri, sama seperti pengemudi Lamborghini dengan satu korban jiwa yang ternyata juga menyimpan sejuta misteri dalam kehidupannya.



Kelebihan lain film ini adalah kritik sosial dan pesan moral yang begitu kuat. Salah satunya pesan tentang pertanggungjawaban pada segala yang terjadi di masa lalu. Seperti salah satu quote yang diucapkan Gordo, “See, You’re done with the past, but the past is not done with you.” Karena apapun yang terjadi pada masa lampau, pasti manusia harus bertanggung jawab. Contohnya, ketika Anda mengupil, lalu dengan sengaja membuang upil Anda sekaligus menyia-nyiakan upil tersebut, bisa jadi upil yang Anda sia-siakan itu akan membalas perbuatan Anda. Salah satunya dengan bertransformasi menjadi upil terbang dan hinggap di kepala Anda.

Share: