Tampilkan postingan dengan label Politics. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politics. Tampilkan semua postingan

3/14/2017

Resensi FIlm Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016)


Trio komedi Dono, Kasino, Indro amat melegenda dan sukses meninggalkan kesan mendalam bagi sebagian besar penikmatnya. Paduan humor slapstick dan celetukan-celetukan khas ketiganya diiringi cerita yang absurd luar biasa membuat banyak orang tertawa terbahak-bahak di masanya. Kenangan itu dibawa hingga beberapa generasi setelahnya. Generasi milenial banyak mengenal nyanyian khas warkop dan kehebohan dari barisan warkop angels. Anggy Umbara yang terkenal lewat penyutradaraannya di Comic 8 dan 3: Alif Lam Mim kembali mengangkat warkop ke layar perak dengan konsep yang menyerupai pendahulunya.
                                                                                                  
Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian) dan Indro (Tora Sudiro) adalah anggota CHIPS (Cara Hebat Ikut-ikutan Penganggulangan Sosial) yang sering gagal dan berbuat onar ketika menjalankan tugas hingga ketiga orang tersebut diperintah untuk menangani kasus pembegalan bersama Sophie (Hannah Al Rashid), anggota CHIPS cabang Prancis. Namun, mereka malah tertimpa sial dan wajib membayar denda 8 Miliar Rupiah.


Sejak pertama kali difilmkan, Warkop DKI terkenal berkat komedi ringan yang sanggup membuat manusia di berbagai kalangan tertawa oleh ulah mereka. Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss masih memakai formula komedi yang sama dibumbui sedikit penyesuaian agar tetap relevan dengan kondisi terkini. Bicara sembarangan, pria-pria mata keranjang, adegan saling tabrak dan jatuh-menjatuhkan mendominasi film yang dirilis tahun 2016 tersebut. Kehadiran Warkop Angels yang diperankan oleh Nikita Mirzani, Hannah Al Rashid dan aktris asal Malaysia, Fazura, mirip dengan angels terdahulu, minus bikini dan pakaian “membahayakan” lainnya. Akting ketiganya tetap menggoda mata lelaki, terutama lelaki seperti musisi yang kalah di pemilihan bupati bekasi atau pengusaha kebab nasional yang hobi main perempuan hingga dipolisikan oleh mantan istrinya. Saya yakin, hanya pria penyuka sesama jenis atau pria setengah wanita yang tidak tertarik dengan penampilan Ketiga angels itu.

Menonton Warkop Reborn sama seperti menonton kekacauan negeri ini. Namun, kekacauan yang ditampilkan lebih lucu dan menarik dari kekacauan yang diakibatkan oleh seorang pemimpin dari Solo yang memiliki anak penjual martabak. Adegan kejar-kejaran, manusia yang terlempar dari kendaraan, hingga adegan perkelahian, semuanya terlihat kacau, dalam makna positif. Jauh berbeda dengan ribut-ribut antar ormas, konstitusi yang tak dipedulikan oleh Mendagri, pemimpin yang hobi bicara sembarangan, sampai jumlah jomblo yang meningkat tajam. Masalah-masalah di atas merupakan bukti gagalnya suami dari Iriana dalam menghadirkan kekacauan yang memusingkan kepala. Tampaknya dia harus belajar dari Dono, Kasino dan Indro.


Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian dan Tora Sudiro memberi porsi akting yang pas dengan kejenakaan masing-masing tokoh. Keluguan Dono, nakalnya Kasino dan Indro yang ceroboh berpadu indah dalam make up yang menyerupai pemain aslinya puluhan tahun lalu. Salah satu kelemahan yang mengurangi rasa nyaman penonton adalah adegan-adegan komedi yang membanjiri Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!. Sebagian besar di antaranya memang berhasil mengocok perut, namun tak sedikit pula yang kurang mengena dan membuat penonton mengernyitkan dahi. Setali tiga uang dengan scene komedinya, adegan-adegan remake dari film warkop seperti IQ Jongkok, Setan Kredit dan Dongkrak Antik. Sebagian dari hasil pembuatan ulang itu terkesan dipaksakan dan kurang sesuai dengan plot. Meski ada beberapa yang berhasil, nyanyian kode Kasino salah satunya.

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Sukses memadukan humor Dono, Kasino, Indro dengan relevansi terhadap kondisi terkini. Sentuhan komedi sederhana tanpa mengajak penonton untuk berpikir rumit adalah salah satu kekuatan yang membuat Warkop DKI benar-benar reborn. Tidak seperti ideologi yang konon, akan terlahir kembali dan mengacaukan kehidupan bernegara melalui politisi bermulut kurang sedap. Sekurang sedap bau ketiak saya.
Tertawalah sebelum tertawa itu dianggap intoleran.



Share: 

3/20/2016

Resensi Film Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie (2016)


Funny or Die, perusahaan production house milik Will Ferrel, Adam McKay, dan Chris Henchy, merilis film ketiganya. Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie, judul film tersebut, dibintangi oleh pemeran kelas atas seperti Johnny Depp, Alfred Molina, hingga aktor pendatang baru yang mencuri perhatian lewat Room, Jacob Tremblay. Kenny Loggins yang populer sebagai pengisi original soundtrack film Caddyshack, Top Gun, dan Over the Top didapuk menjadi penyanyi lagu The Art of the Deal yang diciptakan khusus untuk film ini. Melihat jajaran aktor dan musisi yang terlibat dalam produksi Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie, ekspektasi tinggi pantas disematkan pada film karya Jeremy Konner ini.

Sineas kawakan Ron Howard yang bermain sebagai dirinya sendiri menemukan sebuah kaset VHS berisi film yang disutradarai, ditulis dan diperankan oleh Donald Trump (Johnny Depp). Film itu berkisah tentang perjuangan hidup dan tips bisnis dari Trump untuk anak kecil yang tanpa sengaja masuk ke ruang kerjanya. Salah satu perjuangan Trump adalah membeli Taj Mahal Casino dari pengusaha Merv Griffin (Patton Oswalt). Kisah cinta Trump dengan mantan istrinya, Ivana (Michaela Watkins) juga beberapa kali dibahas.



Kisah hidup orang-orang yang sukses di bidang tertentu memang amat menarik untuk difilmkan. Sudah tak terhitung berapa jumlah film yang terinspirasi dari kisah orang sukses. Banyak dari film-film tersebut mengambil tema sedih dan memaksakan filmnya untuk terlihat sedih walau sebenarnya tidak menyedihkan. Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie memberikan warna yang berbeda. Cerita kehidupan Donald Trump tidak dibuat memilukan dan tidak pula menguras air mata. Salah satunya karena Donald Trump sejak kecil tidak pernah jatuh miskin dan hidupnya relatif aman. Tidak seperti Saiful Jamil yang hidupnya penuh hambatan. Nikah-cerai, ditinggal wafat sang istri, menjalin hubungan dengan beberapa perempuan namun selalu kandas, sampai ditangkap polisi akibat membangunkan seorang remaja pria dan mengajaknya sholat subuh dengan cara yang tidak senonoh.

Ada satu kesamaan yang dimiliki Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie dengan Saiful Jamil. Kesamaan itu adalah tidak mulusnya jalan cerita. Film yang ditulis oleh Joe Randazzo ini bukanlah film yang luar biasa, sama seperti Saiful yang tidak luar biasa. Secara pengemasan komedi, Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie sudah cukup maksimal. Hanya sedikit dialog yang masih perlu digali lebih dalam untuk memancing tawa penonton. Kekurangan itu bisa ditutupi oleh dialog dan adegan-adegan lain yang sangat absurd dan jenaka. Salah satunya adegan ketika grup musik The Fat Boys menyanyi bersama Trump. Kalimat yang diucapkan Trump seperti “It’s not a fake estate, it’s a real estate.” Atau “It’s the opposite of mistake. It’s a good stake.” Terdengar cukup absurd tapi tetap berpeluang menghasilkan tawa bagi sebagian penonton.



Selain Donald Trump, banyak tokoh-tokoh yang menjadi inspirasi bagi para pembuat film. Saiful Jamil bisa jadi salah satu dari tokoh itu. Kehidupannya selalu menginspirasi masyarakat luas agar senantiasa bersyukur. Peristiwa miris sangat sering menimpa Saiful. Banyak manusia di dunia ini yang lebih beruntung dari dia. Sebagian besar masyarakat belum pernah ditahan karena membangunkan seorang remaja. Banyak pula orang yang tidak mengalami kecelakaan hebat di jalan tol dan terenggut pasangan hidupnya. Lebih banyak lagi yang tidak pernah menjadi juri kompetisi murahan.


Mungkin Saiful memang ditakdirkan untuk jadi objek kesialan. Karena orang sial pasti pernah beruntung. Bisa saja ada keberuntungan besar yang akan segera menghampiri Saiful. Dicalonkan sebagai presiden, misalnya. Sama seperti Donald Trump yang kini mencalonkan dirinya. Saya rasa Saiful dan Nassar cocok jika dipasangkan sebagai capres dan cawapres dari Partai Dangdut Indonesia Pergoyangan (PDIP).

Share: 

3/15/2016

American Crime Season 2 Episode 7-10


Episode Seven

Adik Eric mencuri cat semprot dan melakukan vandalisme di sekolah. Taylor babak belur akibat pengeroyokoan yang dilakukan teman satu tim Eric. Dokumen kesehatan Anne bocor di internet. Taylor depresi dan mencuri senjata api di rumah pamannya.

Konflik sudah memasuki titik puncak. Kepadatan cerita jauh lebih baik dibanding episode-episode sebelumnya. Episode Seven memfokuskan diri pada penderitaan Taylor pasca semua tragedi yang menimpanya. Sosok Taylor semakin mengundang simpati penonton. Perilaku setiap karakter mengikat emosi penonton pada sebagian besar adegan.

Episode Seven memberi contoh tentang kengenesan seorang jomlo. Namun, kengenesan itu diakibatkan oleh peristiwa ketika sang tokoh masih berpasangan dengan seseorang. Hanya jomlo sejati yang bisa merasakan penderitaan jomlo lain, karena itulah saya paham betapa sakitnya hati Taylor yang jomlo dan tidak punya kawan yang bisa melindunginya. Adegan ketika Taylor sedang berhalusinasi di tengah hutan menyadarkan para jomlo mengenai pentingnya mencurahkan isi hati pada orang terdekat. Termasuk kepada sesama jomlo. Karena jomlo yang bersatu bisa mengubah dunia.


Episode Eight

Taylor ditahan atas tuduhan penembakan di Leyland. Seluruh anggota tim basket berkabung atas kematian Wes. Putri Dan Sullivan (Sky Azure van Vliet), mengakui perbuatannya dan dihukum oleh sang ayah. Sebastian (Richard Cabral) mendatangi Anne dan menjelaskan maksud kedatangannya.

Tak seperti episode-episode sebelumnya, pada Episode Eight tampak beberapa video wawancara dengan berbagai latar belakang. Keberadaan video itu bertujuan untuk mendukung cerita karena semua narasumbernya adalah orang-orang yang pernah bersinggungan langsung dalam kasus penembakan di sekolah, bullying, dan kekerasan terhadap minoritas. Namun, video tersebut masih terasa kurang menyatu dengan isi cerita dan membuat penonton kurang bisa menikmati dan merasakan emosi dalam episode kedelapan ini. Walau memiliki kekurangan pada aspek emosi, sebagai episode yang sudah mendekati akhir serial, Episode Eight menawarkan konklusi yang menarik dan tidak monoton.


Bicara soal minoritas, bagi saya, kaum jomlo sudah menjadi minoritas di tengah maraknya muda-mudi yang berpacaran dan menikah. Kini seorang jomlo bagaikan lansia yang sanggup bermain sepak bola selama 90 menit. Sangat sedikit jumlahnya. Bahkan, menurut prediksi saya, jomlo bisa saja punah seperti dinosaurus dan burung dodo. Jika jomlo sudah punah, saya yakin banyak museum yang tertarik untuk menyimpan koleksi yang berbau jomlo. Mie instan, tisu, serta air mata, misalnya. Bahkan, bisa saja ada museum yang mengabadikan fosil jomlo purbakala atau fosil homo jomblonicus.
 
Episode Nine

Sebastian membantu Anne dengan kemampuan teknologinya. Dixon disidang oleh Dinas Pendidikan. Steph Sullivan mendatangi kediaman Anne dan memohon untuk tidak mencatut nama anaknya pada kasus Taylor. Eric Tanner bertemu kembali dengan adik dan ibunya. Kevin bertengkar dengan rekan satu timnya.

American Crime akan memasuki episode pamungkasnya. Sebagian klimaks sudah mulai dimunculkan pada Episode Nine. Salah satunya adalah reaksi Chris Dixon, kepala sekolah negeri tempat Taylor belajar. Selain itu, beberapa masalah sudah sedikit menampakkan titik terang. Emosi penonton kembali digali saat adegan-adegan yang menampilkan setiap karakter dan kesedihannya masing-masing. Ekspresi sebagian besar tokohnya juga tidak terkesan berlebihan dan cukup mengundang simpati bagi penonton.

Episode kesembilan ini banyak membahas perjuangan orang tua yang membela sang anak meskipun anak itu bersalah. Ketika anak mencuri mangga, misalnya. Pasti ada sebagian orang tua yang membela lewat berbagai cara. Pura-pura tidak tahu, pura-pura berubah jadi pohon mangga, bahkan pura-pura berubah jadi mangga. Seperti kata pepatah, batu akik tidak jatuh jauh dari embannya, sesungguhnya sifat anak adalah cerminan sifat orang tua. Jika sang ayah adalah musisi sombong yang kini menjadi wakil walikota dengan Harley Davidson segudang dan cincin akik di sepuluh jari, hampir pasti buah hatinya menjadi pribadi yang sombong pula, dengan cincin akik di sepuluh jari, namun tanpa Harley Davidson karena kakinya masih terlalu pendek untuk menginjak rem motor Harley, kecuali dia mau dan mampu menaiki Harley tanpa menginjak rem. Semoga dia selamat walau tidak mengerem sama sekali.


Episode Ten

Setelah mengudara selama sepuluh pekan atau dua bulan lebih, American Crime musim kedua telah mencapai episode terakhir. Secara keseluruhan, season kedua lebih seru dan lebih “menyentil” dibanding musim pendahulunya. Keluarga, rasisme, kesetiaan, kejujuran, hingga institusi pendidikan dikritisi melalui peceritaan menarik diiringi karakter yang kuat dan naskah tajam.

Taylor memberi keputusan terkait persidangannya. Becca Sullivan, putri Dan Sullivan, ditangkap akibat kasus penjualan narkotika. Sebastian dikagetkan oleh peretas lain. Tante Leslie Graham, tante-tante kepala sekolah Leyland mengalami masa terberat dalam hidupnya. Kevin dipanggil oleh pihak kepolisian untuk dimintai keterangan.

Sebagai episode penutup, Episode Ten banyak diisi konklusi-konklusi cerita yang tidak terlalu mengejutkan namun tetap menarik untuk diikuti sampai tuntas. Hadirnya tokoh Sebastian terkesan sedikit dipaksakan demi akhir serial yang menakjubkan dan meninggalkan perasaan kurang ikhlas pada penonton. Seperti ketika seorang perempuan berpacaran dengan laki-laki tampan namun tidak tahu nama sang pria, karakter Sebastian mirip dengan peristiwa itu. Penonton hanya mengenal Sebastian pada sepertiga akhir serial tanpa mengenal sosoknya lebih dalam. Sebastian seolah menjadi kunci dari episode terakhir tanpa penokohan yang kuat. Walaupun agak kurang pada karakter Sebastian, episode pamungkas American Crime tetap wajib ditonton karena akhir yang menegangkan sekaligus melegakan seperti permen Stensils pelega tenggorokan.

Seberapa baikkah Anda? Pertanyaan itu memang amat susah untuk dijawab. Saya sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Kalau boleh memilih, lebih baik saya diberi tanggung jawab untuk memakan petai dua kilogram setiap hari selama sebulan daripada harus menjawab pertanyaan di atas. American Crime Season 2 mengajak kita untuk merenungkan hidup dan mempertanyakan kebaikan sesama manusia karena terkadang sesuatu yang terlihat baik dari luar sebenarnya tidak baik jika dilihat lebih jeli. Seperti petai dua kilogram yang cukup nikmat tapi tidak baik untuk aroma mulut serta nafas konsumennya.

Share: 

2/16/2016

Resensi Film Spotlight (2015)


Tahun 2001, editor-in-chief baru di kantor berita The Boston Globe, Marty Baron (Liev Schreiber), tertarik dengan kolom mengenai seorang kardinal yang dituduh mengetahui pencabulan yang dilakukan pastor Geoghan. Baron meminta Walter “Robby” Robinson (Michael Keaton), ketua tim investigasi Spotlight yang memiliki spesialisasi dalam penulisan artikel investigasi tingkat tinggi untuk mengusut kasus itu. Robby dan anggotanya, Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), dan Matt Carroll (Brian d’Arcy James) berusaha melakukan investigasi. Mereka mendekati berbagai individu seperti pengacara Mitchell Garabidien (Stanley Tucci), psikoterapis Richard Sipe (Richard Jenkins), dan anggota jaringan korban pelecehan pastor Phil Saviano (Neal Huff). Ternyata kasus tersebut memunculkan banyak fakta mengejutkan.

Pelecehan seksual seolah sudah menjadi masalah yang sangat umum. Institusi pendidikan, kesehatan, lingkungan masyarakat hingga lembaga keagamaan hampir setiap hari mengisi pemberitaan media massa lewat kasus pelecehan seksual. Jumlah pelaku juga tidak kunjung turun, malah mengalami kenaikan. Investigasi tim Spotlight berfokus pada problematika di atas. Wawancara, analisa dokumen dan arsip, sampai pengamatan melalui berita-berita masa lampau bermuara pada satu tujuan. Tom McCarthy sebagai sutradara dapat mengajak penonton memahami perjuangan para kuli tinta. Penolakan wawancara karena pengaruh dari keluarga atau kerabat, waktu yang semakin singkat, konfrontasi antar wartawan, dan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab digambarkan dengan sangat brilian.


Akting para pemeran patut diapresiasi. Karakter mereka yang berbeda satu sama lain namun tetap terlihat padu berhasil memukau penonton. Penghargaan Screen Actors Guild Awards untuk seluruh aktor dan aktris yang terlibat dalam Spotlight pantas mereka raih. Karakter Michael Rezendes yang diperankan Mark Ruffalo cukup mencuri perhatian. Sebagai jurnalis ambisius dengan emosi yang kadang meledak-ledak, Ruffalo dapat mencerminkan watak tersebut melalui ekspresi wajah dan gestur tubuh. Rachel McAdams juga tak ketinggalan menampilkan salah satu performa terbaiknya sepanjang karir sang aktris.

Spotlight meninggalkan tanda tanya besar untuk penonton. Bagaimana cara menghentikan segala kejahatan seksual yang kini seakan tak pernah putus? Saya tak bisa menjawabnya. Saya bukan ahli kesehatan atau seksolog macam Boyke yang agak keperempuan-perempuanan itu. Saya juga bukan Ryan Thamrin yang tampil di program kesehatan salah satu televisi swasta tiap pekan dan kini membintangi iklan air mineral yang konon rasanya manis, semanis sirup Maridjan rasa stroberi. Saya hanya seorang jomlo yang tidak keperempuan-perempuanan (baca: ngondek) dan tidak pula tampan. Saya juga bukan bintang iklan air mineral manis atau iklan sirup Maridjan.



Semoga kasus pencabulan bisa ditekan semaksimal mungkin, dan semoga para pelaku pencabulan dihukum seberat mungkin. Karena saya percaya, seburuk-buruknya orang yang tidak cabul, masih lebih buruk orang yang cabul.


Share: 

2/05/2016

Resensi Film Our Brand is Crisis (2015)


Sebelum saya memutuskan untuk menonton Our Brand is Crisis, saya menemukan dua hal unik dari film yang diproduseri oleh George Clooney dan Grant Heslov itu. Keunikan yang pertama adalah Sandra Bullock. Jarang-jarang Tante Sandra membintangi film bergenre politik satir. Saya menaruh harapan tinggi kepada Tante Sandra yang sudah berusia 51 tahun. Semoga di usianya yang matang setengah tua, Tante Sandra bisa memberikan performa termanis. Semanis senyuman Tante Sandra.

Hal unik yang kedua adalah kejadian nyata yang melatar belakangi pembuatan Our Brand is Crisis, yaitu pemilihan presiden Bolivia tahun 2002 dan kampanye para kandidat. Kampanye dari Gonzalo Sánchez de Lozada, mantan presiden Bolivia, menjadi bahasan utama Our Brand is Crisis versi dokumenter dan dibuat tokoh fiksinya dalam film berjudul sama yang akan saya review kali ini. Lozada (bukan nama situs jual-beli online) menyewa firma komunikasi politik sebagai konsultan kampanye. Greenberg Carville Shrum, nama firma tersebut, didirikan oleh Stan Greenberg, James Carville dan Bob Schrum. Stan Greenberg adalah konsultan politik pada kampanye Presiden Joko Widodo.

Berlatar di Bolivia, mantan presiden Pedro Castillo (Joaquim de Almeida) mencalonkan kembali dan menyewa tim konsultan komunikasi politik beranggotakan “Calamity” Jane Bodine (Sandra Bullock), Rich (Scoot McNairy), Ben (Anthony Mackie), Nell (Ann Dowd), dan LeBlanc (Zoe Kazan). Mereka berhadapan dengan rival yang selalu memimpin jajak pendapat di media massa, calon presiden Rivera (Louis Arcella) dan konsultan komunikasi politiknya, Pat Candy (Billy Bob Thornton). Segala cara dilakukan kedua pihak untuk mengalahkan satu sama lain. Tak jarang mereka meneror lawannya dengan kampanye-kampanye negatif dan kampanye hitam.


Film berjenis politik satir selalu membuat saya tergugah. Peristiwa-peristiwa politik dan semua aspeknya memang amat menarik untuk diangkat ke layar lebar. Our Brand is Crisis berusaha menjadi film satir dipenuhi kejenakaan. Dialog yang terlalu serius dan lelucon yang terucap dari mulut sebagian besar karakternya berada di momen yang kurang tepat dan membuat filmnya kurang satir. Obrolan antara Jane, Ben, dan LeBlanc yang harusnya lucu berubah menjadi dialog kosong tanpa pengaruh. Sepanjang film, saya hanya tertawa satu kali ketika Jane bermain-main dengan Eduardo, salah satu relawan pemenangan Castillo.

Pernahkah Anda makan nasi dua piring besar tanpa lauk atau sayuran? Anda pasti akan merasa hambar walau kenyang dan tidak lama kemudian terserang diabetes karena makan nasi terlalu banyak. Itulah yang saya rasakan selama 107 menit film berlangsung. Hampir tidak ada emosi yang dapat mengaduk-aduk perasaan penonton. Saya juga hampir terkena diabetes karena kurang berhasilnya komedi yang ditampilkan dalam film ini.


Untungnya saya tidak sampai terserang diabetes. Joaquim de Almeida dan Sandra Bullock menyelamatkan saya. Keduanya sukses mendalami peran masing-masing. De Almeida sebagai seorang politisi ambisius dan sedikit arogan meninggalkan kesan tersendiri bagi penonton. Sandra Bullock juga tampil menawan. Aktingnya sebagai konsultan nakal namun cerdas mengundang decak kagum. Sandra Bullock benar-benar tante idaman.


Sindiran-sindiran politik yang tersemat pada Our Brand is Crisis cukup relevan dengan kondisi politik di Indonesia. Jika Anda ingin tahu bagaimana seorang pengusaha mebel asal solo bisa menang pada pemilihan presiden tahun 2014, tontonlah film ini. Trik demi trik yang dilakukan oleh Jane Bodine dan kawan-kawan kurang lebih sama dengan yang dilakukan tim pemenangan sang presiden yang (katanya) membela rakyat itu.

Share: 

1/21/2016

Resensi Film Cartel Land (2015)


Bang Napi selalu berkata, “Kejahatan tidak hanya terjadi karena niat pelakunya. Tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah,” sedangkan Cita-Citata selalu memekikkan ungkapan “Sakitnya tuh disini” lalu, bagaimana jika kedua individu itu disatukan? Cartel Land bisa jadi salah satu jawaban.

Bukan, ini bukan film dokumenter tentang Bang Napi atau Cita-Citata. Bukan pula film mengenai makhluk setengah Bang Napi setengah Cita-Citata, apalagi jika Anda mengira film ini menceritakan Bang Napi yang tobat dan berubah menjadi Cita-Citata atau sebaliknya. Cartel Land murni membahas kegiatan kartel narkotika di Meksiko dan gerakan masyarakat melawan kartel. Dua organisasi masyarakat dari dua negara berbeda, Meksiko dan Amerika Serikat, dikupas tuntas dalam film berdurasi 100 menit ini. Autodefensa dan Arizona Border Recon, nama dua kelompok tersebut, mempertahankan tanah mereka dari serangan kartel candu. Autodefensa, kelompok anti kartel asal meksiko, telah berhasil menaklukkan puluhan kota yang sebelumnya dikuasai kartel. Musuh kedua kelompok itu bukan hanya kartel, masih ada aparat yang menganggap mereka sebagai ancaman. Bahkan Autodefensa sempat dikecam oleh Presiden Meksiko. Arizona Border Recon juga tak kalah miris. Eksistensinya diklaim sudah meresahkan warga, walau tujuan mereka sangat mulia.

Dibuka dengan kemunculan beberapa orang bersenjata dibalik pakaian tertutup dengan wajah bermasker, penonton bisa merasakan atmosfer kejahatan kartel sejak awal. Kecemasan warga sipil juga ditonjolkan melalui ekspresi yang direkam dari jarak dekat. Ketegangan dalam adegan penggerebekan tokoh kartel dapat dikemas dengan baik lewat pergerakan cepat kamera dan suara-suara hentakan kecil. Kekejaman kartel dipaparkan secara gamblang dalam foto-foto korban pembunuhan kartel.

Cartel Land fokus pada beberapa sudut pandang, itulah membuat film ini unik dan tidak membosankan. Autodefensa, Arizona Border Recon, produsen narkoika, sampai para korban kebengisan kartel sukses ditampilkan mendetail, meski pada akhirnya kisah Autodefensa yang paling dominan.

Cartel Land kurang memberi porsi untuk Arizona Border Recon. Padahal, banyak poin-poin yang bisa digali dari mereka. Aksi pemberantasan kartel hanya terlihat dari pihak Autodefensa. Akan lebih menarik jika Arizona Border Recon mendapat porsi tampil lebih banyak serta ikut terekam dalam pemberangusan kartel.

Sebagai film dokumenter, kritik menohok disematkan melalui ucapan yang terlontar dari pejuang anti kartel. Apa yang bisa diharapkan dari pemerintah kalau kejahatan dibiarkan tanpa solusi? Sebagian besar kritik yang dikemukakan sangat relevan dengan peristiwa di seluruh penjuru dunia. Termasuk Indonesia. Bom yang telah menewaskan warga negara tak berdosa, aliran sesat tumbuh subur, harga bahan pokok melonjak, angka perceraian nasional dan pemerkosaan naik drastis, hampir tidak ada yang bisa diharapkan, kecuali cucu presiden yang sebentar lagi lahir. Semoga saja kehadirannya membawa berkah. Saya juga berharap pada Cita-Citata agar segera mendapat jodoh yang baik, sebaik Bang Napi yang sudah tobat.

Saya tidak bisa membayangkan reaksi warga jika terjadi kekejian kartel obat-obatan di Indonesia. Ketika ada penggerebekan atau baku tembak, saya yakin warga akan sibuk ber-selfie ria, atau menggosipkan ketampanan polisi. Tidak hanya itu, sebagian besar penduduk sekitar pasti akan mengabadikan diri mereka melalui foto pasca peristiwa di lokasi kejadian, atau berfoto bersama sang polisi ganteng. Mudah-mudahan Indonesia aman dari kartel dan kejahatannya, agar para warganya tidak kecanduan berfoto. Waspadalah terhadap kejahatan, agar Anda tidak merasakan sakit di mana-mana.


Share: 

11/16/2015

Film, Keabsurdan, dan Subjektifitas

  Jauh Setelah Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI diproduksi, terjadi peristiwa besar di Republik Indonesia. Sebuah tragedi yang sangat memilukan. Belasan petinggi TNI dibunuh pada malam yang sama. Darah berceceran, rakyat resah, Jokowi, yang kala itu masih berusia empat tahun mungkin berlari-lari ketakutan tanpa baju. Karena disuruh ibunya untuk segera mandi. Mungkin juga ibunda Jokowi yang berlari-lari ketakutan karena ternyata dia juga belum mandi. Entahlah.

  Adaptasi peristiwa G30S/PKI ke dalam film adalah contoh representasi realita. Dengan menonton film, manusia bisa memahami kehidupannya lewat alur, karakter, dan elemen-elemen film yang lain. Itulah representasi realita. Jadi, definisi singkat representasi realita adalah: realita yang direpresentasikan. Entah apa makna dari "realita yang direpresentasikan" saya menulis kalimat tersebut hanya untuk mengisi celah dalam blog karena kemiskinan ide akibat pidato salah satu presiden dari negara yang tidak berkembang di Brookings Institute yang membuat saya berpikir dengan kurang jernih. Mungkin saya butuh Pure it untuk menjernihkan otak saya.

Absurd, menurut KBBI artinya, sesuatu yang tidak masuk akal atau mustahil. Contoh dari hal absurd adalah bertahannya Jokowi di kursi presiden selama satu tahun. Keabsurdan adalah bagian dari kehidupan. Sebenarnya hidup ini adalah kumpulan dari sesuatu yang absurd dan terjadi berulang-ulang hingga hal yang absurd itu berubah menjadi sesuatu yang normal. Contohnya, perempuan bergoncengan tiga tanpa helm. Kalau semua perempuan di dunia masih waras, tidak ada cabe-cabean yang biasa bergoncengan tiga. Gonceng dua saja susah bagi orang gemuk seperti saya.

Sedangkan subjektif adalah lebih kepada keadaan dimana seseorang berpikiran relatif, hasil dari menduga duga, berdasarkan perasaan atau selera orang. perkiraan dan asumsi. Dalam blog ini, saya akan menulis hal-hal yang sangat berkaitan dengan film. Salah satunya resensi. Dan resensi film saya akan bersifat subjektif karena saya tidak objektif. Saya akan sangat susah bersikap objektif ketika melihat karya seni.

Silahkan Anda nikmati blog saya ini. Kalau Anda tidak cocok dengan pendapat saya, tidak apa-apa. Karena film itu sama dengan kentut. Semua orang pasti punya bau dan suara kentut yang berbeda-beda. Tidak ada film yang sama persis satu sama lain. Kecuali film yang memang sama persis.
Share: