Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

1/02/2018

Resensi Film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)


Amarah akan selalu mengundang amarah lainnya. Pesan sederhana itu coba diangkat oleh Martin McDonagh lewat Three Billboards Outside Ebbing, Missouri. Kental akan sindiran sosial dan kegilaan Amerika Serikat khas Donald Trump, film yang dibintangi oleh Frances McDormand, Woody Harrelson dan Peter Dinklage itu memang pantas mendapat berbagai nominasi Golden Globe dan Screen Actor Guild Awards 2018 berkat kejelian McDonagh dan akting para pemerannya.

Mildred Hayes (Frances McDormand) berusaha menarik perhatian dari Kepolisian Kota Ebbing karena kasus pemerkosaan putrinya yang tak kunjung menemui titik terang hingga memaksanya untuk menyewa tiga papan iklan berukuran besar di perbatasan kota. Sheriff Bill Wiloughby (Woody Harrelson) mendengar kabar tersebut dan membuat batinnya tertekan. Para personel kepolisian lainnya juga memperparah situasi tersebut karena ketidakcakapannya dalam melakukan investigasi. Salah satu dari mereka adalah Opsir Jackson Dixon (Sam Rockwell) yang temperamental dan sering terlibat kasus penganiayaan warga kulit hitam. Seisi kota memanas pasca dipasangnya tiga papan iklan tersebut dan membuat situasi semakin tak terkendali.


Jika dilihat sekilas dari sinopsis di atas, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri mirip dengan film-film drama tentang ibu yang kehilangan buah hatinya. Namun, secara keseluruhan, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri adalah film komedi yang dengan jitu menertawakan ironi kehidupan para tokohnya. Mildred Hayes bukanlah perempuan yang mudah mengangis akibat kemalangan hidupnya, Hayes adalah perempuan keras kepala yang seolah tak peduli dengan lingkungannya. Tengok bagaimana Hayes menyulut emosi orang-orang terhormat seperti pendeta dan kepala polisi dan membuat warga satu kota benci kepadanya. Karakter yang kuat diiringi adegan unik seperti saat Hayes berbincang dengan Dixon di ruang interogasi atau ketika Wiloughby bercengkrama dengan putrinya saat piknik menambah kelucuan khas film bergenre komedi gelap.


Frances McDormand menampilkan kualitas terbaiknya sebagai orang tua tunggal yang depresi namun tetap keras kepala. Sorot matanya yang tajam namun menyimpan kesedihan sukses membuat penonton bersimpati padanya. Wiloughby yang bijaksana dan dekat dengan keluarganya diperankan dengan apik oleh Woody Harrelson. Meski sering memerankan tokoh yang jiwanya tertekan seperti dalam War for the Planet of the Apes dan The Hunger Games, Harrelson mampu memberikan pembeda dengan aktingnya di film-film terdahulunya melalui gestur dan ekspresi yang sangat tepat dalam menggambarkan suasana hati dari Wiloughby. Apresiasi paling tinggi patut diberikan pada Sam Rockwell. Kebodohan dan kecerobohan Dixon benar-benar dijiwai dengan sangat dalam oleh Rockwell. Cara Dixon berjalan, berbicara dengan rekan kerjanya sampai ocehan-ocehannya di bar sanggup mengocok perut sekaligus mengajak penonton untuk merenungi kehidupan.

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri bisa dibilang sebagai salah satu film komedi terbaik tahun 2017. Tidak hanya mampu memancing tawa dari penonton, penggambaran kondisi sosial Amerika Serikat beserta kekacauannya adalah kekuatan utama film yang juga ditulis oleh Martin Mcdonagh ini. Kritik terhadap sistem pemerintah dan masyarakat yang semakin membenci satu sama lain juga diselipkan dengan rapi oleh McDonagh. Pesan moral yang disampaikan juga sangat mudah dicerna dan tidak dipaksakan. Nominasi Oscar 2018 sangat pantas disematkan untuk Three Billboards Outside Ebbing, Missouri.




Share: 

8/27/2017

Resensi Glow - Season 1 (2017)


Di abad 21, gulat wanita sudah menjadi bagian yang lumrah di dunia olahraga. World Wrestling Entertainment (WWE) salah satu penyelenggara kompetisi gulat professional terbesar di dunia, memiliki puluhan pegulat wanita yang aktif kontraknya hingga detik ini. Belum lagi penyelenggara kompetisi lain seperti Global Force Wrestling (GFW) atau Ring of Honor (RoH). Pada medio ’80-an, muncul kompetisi gulat wanita professional pertama bernama GLOW (Gorgeous Ladies of Wrestling). Itulah yang coba diangkat oleh duet sineas perempuan Liz Flahive dan Carly Mensch. Duo kreator serial itu menampilkan 14 perempuan pegulat yang terinspirasi dari kisah nyata GLOW. Ditayangkan oleh Netflix dan dibintangi Alison Brie, GLOW bagi saya adalah salah satu serial komedi terbaik Netflix.

Ruth Wilder (Alison Brie) sudah berkali-kali gagal dalam casting di berbagai film dan serial televisi hingga suatu ketika, kesempatan datang kepadanya saat sutradara eksentrik yang biasa memproduksi film berbujet kecil dan berkualitas rendah, Sam Sylvia (Marc Maron), membutuhkan beberapa perempuan untuk berperan dalam ajang gulat wanita pertama di televisi. Ruth bertemu banyak perempuan dengan karakter yang berbeda satu sama lain. Seperti Sheila (Gayle Rankin) yang merasa dirinya adalah serigala, Arthie Premkumar (Sunita Mani) seorang gadis keturunan India yang sangat menyukai gulat, Carmen Wade (Britney Young), putri pegulat legendaris yang sedang berkonflik dengan ayahnya akibat larangan menekuni gulat, hingga Cherry Bang (Sydelle Noel), pemeran pengganti wanita yang berada dalam kesulitan ekonomi. Ruth tanpa sengaja menarik sahabatnya yang juga mantan bintang opera sabun, Debbie Eagan (Betty Gilpin) ke dalam pusaran dunia gulat akibat masalah pribadinya dengan Debbie. Ruth berusaha menampilkan kemampuan terbaiknya sebagai pegulat sembari berusaha mengakhiri pertengkarannya dengan Debbie.


Tidak mudah mengumpulkan 14 perempuan tanpa kemampuan dasar sebagai pegulat. Menempatkan mereka dalam peran pegulat professional memang perkara yang rumit. Itu adalah salah satu kekuatan yang sukses ditonjolkan oleh GLOW. Kebingungan yang terjadi karena minimnya pengalaman, jadwal yang berantakan karena pegulat yang tidak siap, hingga konflik antar pemeran tersaji dengan sangat menarik. GLOW bukanlah perang argumen lewat twitter untuk pencitraan salah satu petinggi partai baru yang masih mahasiswi itu. Bukan pula kegaduhan akibat menteri dalam negeri yang tidak becus menangani persoalannnya. GLOW merupakan gabungan komedi, drama, gulat dan kritik sosial yang berkolaborasi dengan indah, seindah duet penyanyi perempuan yang kini tengah naik daun dalam tembang Anganku Anganmu. Tengok saja adegan ketika seluruh perempuan itu berkumpul  dan menonton berita televisi mengenai pembajakan pesawat oleh teroris asal Lebanon. Sangat mewakili kondisi sosial masa kini yang memandang aksi semacam itu sebagai bumbu kehidupan yang tidak terlalu menghebohkan. Isu sensitif seperti aborsi juga ikut diangkat melalui karakter Ruth dan Sam yang bertolak belakang namun saling melengkapi.

Memuji kehebatan GLOW dalam mengemas jalan cerita terasa kurang lengkap jika tidak memuji akting para pemerannya yang mampu menampilkan kemampuan terbaiknya. Betty Gilpin sangat menjiwai perannya sebagai seorang ibu muda yang berjuang mengatasi masalah dengan suaminya yang selingkuh . Marc Maron berhasil menghadirkan seniman gagal pecandu kokain di masa tua yang ingin bangkit lewat jalur yang tidak pernah dia minati. Sam memang pribadi yang menyusahkan, penuh sinisme dan kurang menghargai orang lain, namun segala keburukan itu sanggup ditutupi oleh karisma Maron sehingga tokohnya masih sanggup dicintai oleh penonton walau perilakunya sangat mengganggu. Alison Brie juga cukup sukses menempatkan dirinya sebagai aktris kurang beruntung yang sedang terjebak dalam krisis usia 30 tahun tanpa pasangan dan nihil pekerjaan. Belum lagi para pemeran pendukung seperti Britney Young yang mampu mencuri perhatian dan Kate Nash yang menampilkan karakternya dengan apik sebagai perempuan inggris yang anggun.


Akting seluruh cast GLOW jauh lebih baik dari akting remaja hasil pencitraan para pendukung rezim ceroboh. Remaja yang terkenal karena tulisannya di Facebook itu terlihat sangat memuakkan ekspresi wajahnya. Sampai-sampai saya butuh obat mag untuk menahan rasa mual saya. Belum lagi kepemimpinan yang membunuh daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat kini lebih rendah dari nilai rata-rata rapor Nobita di Doraemon. Juga tidak lebih tinggi dari tinggi badan saya yang di bawah rata-rata. Saya bahkan termasuk lelaki  terpendek di antara pria-pria pendek lainnya.

GLOW adalah contoh serial televisi yang menggambarkan perjuangan perempuan dengan detail dan indah. Jika kualitasnya tetap terjaga, sampai musim ke-20 pun akan tetap disukai penonton. Jangan seperti kepala negara yang baru 3 tahun sudah sangat membosankan dan memancing derita.
Share: 

7/10/2017

Resensi Film Requiem for a Dream (2000)


Narkotika sudah tidak diragukan lagi bahayanya. Mulai berhalusinasi hingga kematian, efek buruk obat-obatan terlarang seolah tak habis dibahas seumur hidup. Darren Aronofsky, sutradara yang sangat populer berkat The Black Swan yang artistik dan cukup membuat galau itu pada awal karirnya menulis dan menyutradarai Requiem for a Dream. Berkisah tentang empat orang yang kecanduan obat dan dibintangi oleh Jared Leto, Marlon Wayans dan Jennifer Connelly, banyak kritikus yang merekomendasikan film layar lebar kedua Aronofsky itu sebagai film yang menggambarkan kehidupan para candu dengan detail sekaligus menguras air mata.

Berkutat pada kehidupan empat orang dalam lingkungan urban Kota New York, pasangan Harry Goldfarb (Jared Leto) dan Marion Silver (Jennifer Connelly), sahabat Harry, Tyrone C. Love (Marlon Wayans) dan ibu kandung Harry, Sara (Ellen Burstyn). Marion didukung oleh sang pacar membangun usaha garmen, namun mimpi mereka terhalang kecanduan narkotika yang semakin parah. Tyrone berusaha membantu sang sahabat dengan menjual narkotika bersama dengannya. Sedangkan Sara diberi tawaran menjadi kontestan kuis televisi dan berjuang menurunkan berat badannya agar gaun favorit suaminya muat dikenakan oleh dirinya ketika tampil di layar kaca. Sang ibu akhirnya tenggelam dalam kecanduan pil diet.


Requiem for a Dream memiliki plot yang cukup sederhana. Kehidupan para pecandu obat-obatan terlarang dan kemunduran pada hidup mereka. Naskah karya Aronofsky dan penulis novel originalnya, Hubert Selby Jr, sangat mudah dicerna dengan dialog yang tidak berbelit-belit dan mirip dengan kehidupan sehari-hari. Percakapan Harry Dengan ibunya termasuk salah satu yang terlihat sangat natural dan amat sesuai dengan realita mengenai anak laki-laki nakal yang tetap ingin membahagiakan sang ibu. Percintaan Marion dan Harry terasa begitu memabukkan secara harfiah. Iya, keduanya memang sering bercengkrama dalam keadaan mabuk narkotika. Kehebatan Jennifer Connelly sebagai pemeran Marion yang tetap anggun meski terjebak dalam candu obat sangat terlihat. Connelly piawai dalam menggambarkan ekspresi pecandu yang sedang melayang pada halusinasinya namun tetap terlihat menarik sebagai seorang wanita. Amat berbeda dengan mantan aktris yang tubuhnya kini seperti kanvas lukis. Sang aktris yang konon suka sesama jenis itu tetap terlihat tidak menarik dalam keadaan mabuk ataupun sadar. Ekspresinya tetap terlihat seperti pemabuk gagal beranak banyak yang hidup di pesisir pantai mengandalkan bantuan turis asing.

Darren Aronofsky bisa dibilang jenius dalam memainkan kamera. Bukan presiden yang suka memainkan hati rakyat, Aronofsky banyak melakukan pengambilan gambar cepat dan memvisualkan adegan ketergantungan narkotika dengan sangat apik dengan bantuan sinematografi karya Matthew Libatique. Suntikan obat, pil yang ditelan, sampai halusinasi tentang kulkas yang berjalan dapat dimaksimalkan dan menambah keindahan dari Requiem for a Dream. Adegan klimaksnya juga penuh dengan filosofi dalam balutan gambar yang indah mengenai kehidupan keempat tokohnya pasca titik puncak kecanduan mereka. Semoga saja Aronofsky mau memproduksi film yang mengeksplorasi keindahan alam Indonesia karena keindahan alam + kompetensi Aronofsky = karya menakjubkan. Sama seperti soto babat yang memiliki rumus: kuah soto + babat yang empuk dan tidak terasa seperti handuk = soto super nikmat.


Dengan terus meningkatnya korban dari obat-obatan terlarang di Indonesia, sudah sepatutnya Requiem for a Dream masuk menjadi film wajib pada penyuluhan yang diselenggarakan oleh BNN. Bahkan, kalau bisa, BNN membagikan soto babat gratis bagi peserta sosialisasi anti narkotika di seluruh Indonesia.



Share: 

5/27/2017

Resensi Film Headshot (2016)


Darah, tulang patah, kulit sobek, sampai kepala pecah adalah sebagian dari ciri khas The Mo Brothers dalam memvisualisasi karyanya. Setiap adegan kejar-kejaran atau baku hantam selalu menghadirkan kesadisan maksimal. Duet dengan nama asli Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel itu juga suka mengadaptasi teknik film horror atau slasher jepang yang total dan sedikit absurd. Skenario yang cukup baik dapat mengimbangi aspek brutal yang terlihat pada Ruma Dara dan Killers, karya kedua saudara itu sebelumnya. Dibintangi oleh Iko Uwais, salah satu aktor laga terpopuler Indonesia saat ini, mampukah Headshot mengimbangi atau bahkan tampil lebih baik dari karya Timo dan Kimo terdahulu?

Ishmael (Iko Uwais) terbangun dari koma akibat peluru yang menancap di dalam otaknya. Ailin (Chelsea Islan), dokter yang merawat Ishmael, ikut bahagia melihat pasiennya kembali pulih meski sang pasien hilang ingatan. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama karena gangguan dari gerombolan kriminal kakap pimpinan Lee (Sunny Pang) yang menginginkan nyawa Ishmael.


Dirawat, jatuh cinta, terpaksa berjuang demi cintanya, lalu berakhir bahagia. Sudah terlalu banyak FTV dan sinetron yang memakai pola tersebut. Sayangnya, Headshot menggunakan pola serupa meski dibumbui adegan laga berdarah-darah. Jika seluruh scene perkelahian dan pertarungan dihapus, akan muncul kisah cinta lebay ala FTV dengan judul Preman Baik dan Dokter Cantik atau Pacarku Pembunuh Professional. Akting Iko Uwais sedikit menyelamatkan adegan drama percintaan dalam Headshot. Bersama Chelsea Islan, hubungan keduanya tidak terasa seperti Aliando-Prilly dalam sinetron tentang serigala yang sudah bubar itu. Kedekatan keduanya juga terasa natural. Berbeda jauh dengan Citra Kirana-Andi Arsyil dalam sinetron yang juga sudah berakhir itu. Khusus untuk Chelsea, ia masih terlihat canggung beradu peran dengan Iko, walau masih enak ditonton.


Adegan laga benar-benar menjadi penyelamat bagi Headshot. Saya hampir saja meninggalkan tempat saya duduk dan berkhidmat ke toilet untuk membuang hajat yang telah lama disimpan. Namun, niat itu saya urungkan setelah melihat Ishmael beradu jotos dengan Rika (Julie Estelle). Keduanya total mengerahkan seluruh kemampuan aktingnya demi adegan yang tidak sampai 15 menit. Julie Estelle berperan cukup baik sebagai pembunuh, namun masih lebih garang ketika ia memerankan gadis berpalu di The Raid 2.

Mo Brothers memang ahlinya kesadisan dan ketegangan. Bahkan, ketika skenario yang ditulis oleh Timo Tjahjanto terasa standar dan mudah ditebak, suasana tegang yang diberikan masih mampu menolong dan menambal segala kekurangan pada aspek penulisan. Saya yakin, jika kualitas film-film mereka semakin meningkat, bukan tidak mungkin Mo bersaudara sanggup menembus box office Hollywood dan menjadi sutradara film aksi tersukses di Indonesia, lalu salah satu dari mereka mencalonkan diri menjadi presiden dan memenangkannya. Pasti Indonesia akan  sangat menegangkan dan dipenuhi baku hantam serta tulang remuk. Sama seperti Indonesia di rezim ayah Pangarep yang berkualitas rendah, serendah produk buatan Tiongkok



Share: 

5/18/2017

Resensi Film Get Out (2017)


Kehidupan masyarakat kulit hitam masih menjadi tema yang seksi untuk diangkat ke dalam karya layar lebar. Moonlight dan Fences adalah contoh kisah orang kulit hitam yang sukses menembus nominasi Oscar 2017. Moonlight bahkan dinobatkan sebagai film terbaik di ajang tersebut. Masih banyak karya tentang individu kulit hitam lainnya yang populer di tahun 2017. Get Out salah satunya. Disutradarai oleh Jordan Peele, salah satu komedian kulit hitam yang sedang naik daun dalam beberapa tahun terakhir berkat program sketsa komedi televisi yang dibintanginya bersama Keegan- Michael Key. “Hanya” menghabiskan bujet USD 4,5 juta, Get Out meraup USD 194,9 juta hingga bulan Mei 2017. Pemasukan sebanyak itu menahbiskan namanya pada sejarah perfilman Holllywood sebagai film debut dengan skenario original berpenghasilan terbesar, mengalahkan rekor 18 tahun yang dipegang The Blair Witch Project.

Chris Washington (Daniel Kaluuya), mengunjungi rumah calon mertuanya bersama sang kekasih, Rose Armitage (Allison Williams). Keluarga Armitage mempekerjakan dua orang kulit hitam berperilaku aneh, Georgina (Betty Gabriel) dan Walter (Marcus Henderson). Chris memiliki firasat buruk terhadap apa yang terjadi dalam keluarga Armitage. Ia berusaha mencari tahu tentang keluarga tersebut dibantu oleh sahabatnya yang konyol, Rod Williams (Lil Rel Howery).


Tidak banyak film komedi horror yang sukses memadukan ketegangan dan kejenakaan. Get Out termasuk salah satu yang amat baik dalam menampilkan keduanya. Dialog-dialog cerdas namun menggelitik seperti “My dad is not racist, he would vote for Obama if he can run again as a president.” Atau “They are going to use you as a sex slave!” mewarnai 103 menit film tersebut. Kelucuan yang timbul juga tidak dipaksakan seperti kebanyakan film komedi horror. Daniel Kaluuya juga sukses memerankan tokoh Chris yang cerdas dan jeli. Wajah Kaluuya sebagai Chris cukup mirip dengan wajah pria yang mencari pasangan di Tinder namun selalu gagal karena tidak ada wanita yang menyukai wajah sang lelaki.

Get Out mengangkat isu perbedaan dengan cara yang unik. Hampir semua karakter kulit putih yang muncul tidak seperti orang rasis kebanyakan dan membenci orang kulit hitam seperti jamur membenci Kalpanax atau seperti para pendukung calon gubernur yang gagal move on sehingga terus-menerus menyalahkan umat islam yang religius dan menganggap mereka adalah biang kegagalan sang calon gubernur gila. Sebagian besar dari mereka malah memuji orang-orang kulit hitam dan menganggap orang-orang kulit hitam sebagai makhluk yang sedang hits dan kuat. Namun, di balik pujian itu, mereka tidak peduli dengan perasaan orang-orang kulit hitam.

Get Out sangat cocok ditonton bersama pasangan. Apalagi bagi pasangan yang akan bertemu calon mertua masing-masing. Lebih baik lagi jika para pasangan yang menonton mau mengajak orang-orang jomblo untuk ikut menikmati karya Jordan Peele itu. Karena sebagian besar makhluk jomblo kurang mendapat hiburan kecuali ada yang mau membantu menghiburnya.



Jordan Peele benar-benar sukses mengeksplorasi komedi dalam horror dan isu rasisme yang sedang hangat-hangatnya. Peele berpotensi menjadi sutradara kulit hitam berprestasi namun tetap populer, kehebatannya bahkan bisa menandingi F.Gary Gray atau Spike Lee yang sudah malang melintang selama puluhan tahun di industri film. Saking lamanya menjadi sutradara,  wajah Spike Lee kini terlihat seperti kertas skenario kusut.

Share: 

5/04/2017

Resensi 13 Reasons Why? Season 1 (2017)


Bunuh diri adalah salah satu topik yang amat jarang diangkat ke dalam karya televisi. 13 Reasons Why? Termasuk salah satu serial televisi yang berani mengangkat kisah bunuh diri lewat pendekatan remaja. Hasil adaptasi novel berjudul sama karya Jay Asher itu disutradarai oleh nama-nama mentereng di Hollywood seperti Tom McCarthy yang pernah menakhkodai Spotlight dan Greg Arakki yang pernah menggarap Mysterious Skin. Di kursi produser eksekutif, ada Selena Gomez dan produser kawakan Steve Golin yang tangan dinginnya terlibat dalam produksi Spotlight, The Revenant dan True Detective.

Clay Jensen (Dylan Minnette) mendapat paket berisi rekaman suara Hannah Baker (Katharine Langford), teman sekolahnya yang baru saja meninggal akibat bunuh diri. Rekaman tersebut berisi 13 alasan Hannah bunuh diri. Clay harus menguak fakta tidak menyenangkan tentang teman-teman sekolahnya sekaligus bertindak demi keadilan untuk Hannah. Clay juga terpaksa menyembunyikan rekaman suara itu dari orang tuanya.


Tidak ada bunuh diri yang menyenangkan. Pesan tersebut disisipkan sepanjang 13 episode 13 Reasons Why?. Hannah yang frustasi digambarkan sangat apik dengan tata rias khas korban depresi. Tangisan-tangisan Hannah, keterkejutannya saat dikuntit, hingga canda tawanya bersama Clay benar-benar merasuk ke dalam emosi penonton namun tidak sampai masuk taraf lebay seperti sinetron-sinetron yang suka bicara sendiri dan tangis buatan hasil olesan bawang.

Karakter yang konsisten adalah kunci dari kualitas semua karya seni. 13 Reasons Why? Menampilkan kekuatan tersebut pada tiap episodenya. Clay yang pendiam namun humoris, Hannah yang depresif, Tony (Christian Navarro) yang selalu ingin membantu, hingga Zach (Ross Butler) yang berhati baik namun kurang tegas terhadap keburukan di sekitarnya. Tidak ada karakter yang terlalu menonjol dan dibuat bak dewa super baik atau iblis ekstra jahat. Semuanya wajar dan realistis. Sejahat-jahatnya Justin Foley (Brandon Flynn), dia masih sangat peduli terhadap sang kekasih dan membelanya saat ia disakiti. Clay juga bukan anak baik yang selalu patuh terhadap orangtuanya, meski dia yang paling getol membela Hannah pasca kematiannya. Berbeda dengan sinetron Indonesia yang hanya bisa menampilkan ekspresi jahat pada karakter jahat, ekspresi baik pada karakter baik, atau ekspresi kebelet pada karakter yang beser.


13 Reasons Why? Bisa dikategorikan sebagai salah satu serial drama terbaik yang dipersembahkan Netflix. Cukup banyak karya original Netflix yang berkualitas, 13 Reasons Why? masih bisa menonjol di antara karya-karya tersebut. Seperti bibir di wajah Tukul Arwana, atau kelicikan di wajah Setya Novanto. Keberanian 13 Reasons Why? patut diacungi jempol dalam mengangkat isu-isu sensitif seperti bunuh diri, kehidupan penyuka sesama jenis, sampai kekerasan dalam rumah tangga. Aktor dan aktris yang beragam dan multi etnis juga termasuk salah satu kenggulan serial yang dirilis pada 31 Maret 2017 itu. Bahkan, ada salah satu aktor keturunan Indonesia yang cukup banyak berperan. Ross Butler, nama aktor tersebut, memiliki darah Tionghoa Indonesia dari sang ibu. Butler menjadi salah satu bukti jika keturunan Tionghoa Indonesia bisa berprestasi, tidak hanya mengumpat dan menghujat seperti Gubernur DKI Jakarta yang baru saja kalah dalam pemilihan umum.


13 Reasons Why? memang bukan Master of None yang hadir hampir tanpa celah dan menjadi serial masterpiece dari Netflix. Namun, gabungan antara misteri dan drama yang mengikat emosi penonton ditambah karakter yang konsisten serta realistis sudah cukup menjadi bekal 13 Reasons Why? untuk dikenang sebagai salah satu serial drama misteri remaja terbaik sepanjang masa.



Share: 

1/05/2017

Resensi Film The Accountant (2016)


Setelah Batman vs Superman: Dawn of Justice, Ben Affleck hanya muncul di layar lebar sebagai cameo dalam Suicide Squad. The Accountant merupakan film kedua Affleck di tahun 2016 yang menampilkan dirinya sebagai tokoh utama. Bintang-bintang Hollywood seperti Anna Kendrick, J.K. Simmons dan Jeffrey Tambor turut serta dalam jajaran cast The Accountant. Kebintangan dan kualitas akting Ben Affleck serta aktor dan aktris populer yang terlibat dalam produksi film menjadikan The Accountant film thriller yang mencatat keuntungan besar dengan pemasukan USD 146 juta dari bujet USD 44 Juta.

Christian Wolff (Ben Affleck) merupakan seorang akuntan organisasi-organisasi kriminal tingkat tinggi yang mengidap autisme. Sebuah perusahaan teknologi meminta bantuan Wolff untuk megaudit keuangan mereka. Dalam perusahaan tersebut, Wolff bertemu akuntan perusahaan, Dana Cummings (Anna Kendrick). Dalam proses audit, nyawa orang-orang di sekitar Wolff terancam. Di sisi lain, agen pemerintah menginvestigasi keberadaan Wolff.


Tidak banyak hal berbeda yang ditawarkan oleh The Accountant dalam genre crime thriller. Selain autisme Christian Wolff, sebagian besar alur dan visualisasi film sudah jamak ditemui pada genre serupa. Penonton cukup sulit untuk terikat dalam cerita yang dipaparkan sepanjang 127 menit film berjalan. Plotnya seolah saling tindih tanpa ada yang menonjol. Kisah cinta antara Wolff dan Cummings kurang sukses menggali emosi penonton. Investigasi agen pemerintah yang diperankan oleh J.K. Simmons terkesan hanya sebagai pelengkap dan berlalu begitu saja. Pembunuhan yang dilakukan sekelompok kriminal misterius lebih mirip adegan pada film-film Steven Seagal beberapa tahun terakhir yang dipenuhi omong kosong tanpa makna dan ancaman-ancaman yang tidak menakutkan sama sekali, sama seperti ancaman UU ITE yang lembek dan kurang bertaji bagi para relawan media sosial calon kepala daerah yang membenci Islam.

Satu-satunya kesan baik yang membekas dari The Accountant  adalah akting Ben Affleck yang total memerankan pria autis yang amat detail, ahli bela diri dan menembak. Cara makan, menyetir, bahkan cara dia memejamkan mata sangat sesuai dengan kondisi autisme di dunia nyata. Saat dia bergulat dengan para pembunuh bayaran, saya teringat karakter Batman yang diperankannya. Ben Affleck di The Accountant adalah Batman dalam versi autis. Jika The Accountant diproduksi sekuelnya, mungkin  dia akan bertarung dengan Superman dan judulnya adalah The Accountant vs Superman: The Worst Movie Ever. Kualitas akting Ben Affleck memang sangat mumpuni. Berbeda dengan tersangka penodaan agama yang aktingnya terlihat dibuat-buat dan lebih buruk dari akting jajaran cast Anak Jalanan, Tukang Bubur Naik Haji, dan Anak Jalanan Naik Haji.



Ben Affleck kembali merilis film yang disutradarainya pada 25 Desember 2016 berjudul Live By Night. Semoga Ben Affleck dapat mengukir awal yang manis di tahun 2017, dan semoga para pemimpin yang suka bicara pedas, sering mengumbar air mata buaya dan pura-pura tidak bersalah bisa dihukum seberat-beratnya.


Share: 

10/29/2016

Resensi Film In a Valley of Violence (2016)


Setelah era John Wayne dan Clint Eastwood, genre film western semakin ditinggalkan. Tiap tahun, bisa dihitung dengan jari jumlah film western yang diproduksi dan ditayangkan pada layar lebar. The Revenant, The Hateful Eight dan Magnificent Seven adalah sebagian dari film western yang telah dirilis tahun 2016. Ti West, sutradara yang populer di bidang horror dan thriller, mencoba peruntungannya dalam genre western lewat In a Valley of Violence. Dibintangi oleh sederet aktor dan aktris kondang seperti John Travolta, Ethan Hawke, dan Taissa Farmiga serta diproduseri oleh Jason Blum yang pernah membidani beberapa film ternama seperti Paranormal Activity, Sinister, dan Insidious, ekspektasi penggemar berat film bertema koboi cukup tinggi untuk film berbujet cukup rendah ini.


Paul (Ethan Hawke) dan Anjingnya, Abbie, sedang mengembara menuju Meksiko. Di tengah perjalanan, keduanya bertemu dengan pastor mabuk (Burn Gorman) yang sedang meminta pertolongan. Sang pastor menunjukkan jalan ke meksiko melalui sebuah kota kecil bernama Denton. Sesampainya di Denton, Paul dan Abbie bertemu dengan Gilly (James Ransone), pria arogan yang juga anak dari Marshal Clyde Martin (John Travolta). Dalam masa singgahnya di Denton, Paul banyak dibantu oleh Mary-Anne (Taissa Farmiga), pengelola motel sekaligus calon adik ipar Gilly. Banyak masalah menimpa Paul dan Abbie akibat ulah Gilly dan kawan-kawannya.

Film-film western memang tidak mudah dieksplorasi dalam bidang penceritaan. Kehidupan keras dunia koboi, percintaan sang tokoh dengan perempuan di kota yang sama, duel pistol demi kehormatan, hingga karakter mabuk yang sering mendukung peredaran bir saat menjadi gubernur merupakan sebagian besar kisah yang melatarbelakangi sinema western. Latar tempat yang dipakai juga banyak memiliki kesamaan antara satu film dengan film lainnya. In a Valley of Violence berpotensi jatuh ke lubang kebosanan seperti hasil karya western yang lain. Untungnya, akting Ethan Hawke beserta para pemeran pendukung sukses menghidupkan suasana tegang sekaligus mengasyikkan. Sosok seorang Paul memang bukanlah protagonis tanpa cacat. Masa lalunya yang kelam dan kondisinya kini memaksa dia menjadi pria yang kasar dan tanpa ampun. John Travolta sebagai ayah yang menyayangi putranya namun terlalu memanjakan berpadu apik dengan karakter Paul, dan Gilly yang menyebalkan namun bodoh. Penokohan Gilly dalam In a Valley of Violence  mengingatkan saya pada sosok lelaki pengecut namun arogan yang suka menindas rakyat kecil dan menistakan agama lain. Sayangnya, Gilly bukan koboi dari pesisir Belitung.


Seperti beberapa film western terdahulu, In a Valley of Violence menambahkan bumbu komedi pada setiap aksinya. Tidak selalu berhasil, memang. Tapi, jika sekedar memancing tawa kecil, dialog-dialog jenaka dari Marshal, Paul, dan kawan-kawan Gilly cukup baik dalam menjalankan tugasnya. Kalimat-kalimat seperti “Tubby is not my real name, I’m Lawrence.” atau “ I will call you whatever you want, but please, stay out of the goddamn window.” membuat saya mengembangkan senyum dan sedikit tertawa. Komedi dalam  In a Valley of Violence agak mirip dengan canda dari calon gubernur petahana DKI 2017: tidak selalu lucu dan cukup menyebalkan bagi orang lain.


Patut disayangkan, In a Valley of Violence mengakhiri kisahnya terlalu klise. Adegan tembak-menembak di akhir cerita memang cukup menegangkan dan bisa dinikmati, namun setelah itu, tidak banyak perbedaan dengan sesama film koboi yang sudah-sudah. Endingnya mudah ditebak dan tidak memberikan kejutan bagi penonton. Semoga Pilkada DKI tahun 2017 memberikan kejutan yang menggembirakan bagi publik Jakarta. Bukan kejutan yang menyengsarakan, seperti terpilihnya incumbent untuk periode kedua, contohnya.


Share: 

8/04/2016

Resensi The Night of - Episode 1


Setelah berakhirnya True Detective musim kedua, HBO belum memproduksi serial detektif kelam nan realistis hingga kemunculan The Night of, sebuah miniseri yang dibintangi oleh Riz Ahmed dan John Turturro. Steve Zaillian dan Richard Price bertindak sebagai produser eksekutif, penulis skenario, sekaligus showrunner. Zaillian juga menyutradarai miniseri tersebut bersama dengan James Marsh yang pernah menyutradarai The Theory of Everything. Hasil karya Zaillian sebelumnya juga tak kalah apik. Sineas kelahiran California itu pernah menulis skenario pada film Moneyball,The Girl with the Dragon Tattoo, dan Exodus: Gods and Kings. Jajaran kru yang cukup berkualitas dan promo yang menarik membuat The Night of wajib mendapat perhatian dan pantas untuk ditonton (jika Anda memiliki waktu dan saluran HBO di rumah, atau mengunduh ilegal seperti kebanyakan penyuka film seperti saya dengan kondisi keuangan yang sangat mepet, jauh lebih mepet dari tempat parkir sepeda motor di mal ketika menjelang lebaran).

Nasir Khan (Riz Ahmed) hidup dalam keluarga muslim Pakistan di New York. Sang ayah, Salman Khan (Peyman Moaadi) adalah sopir taksi yang harus berbagi pendapatan dengan dua rekannya. Sang ibu, Safar Khan (Poorna Jagannathan) adalah pedagang kain di pasar. Hidup Naz-sapaan akrab Nasir Khan- berubah ketika dia bertemu Andrea Cornish (Sofia Black D’Elia) perempuan yang masuk ke taksi yang saat itu dikemudikan oleh Naz. Sosok Andrea yang nakal namun cantik dan sangat menarik membuat Naz menyetujui permintaan Andrea untuk bermalam di rumahnya. Nahas, dini hari saat Naz bangun, Andrea sudah tidak bernyawa dengan banyak tusukan di tubuh. Naz pun harus berurusan dengan Detektif Dennis Box (Bill Camp), polisi yang menangani kasus tersebut.


Penampilan Riz Ahmed yang sebelumnya pernah bermain di film Nightcrawler sukses mencuri perhatian. Karakter Naz yang canggung dengan emosi yang tidak stabil sangat cocok diperankan oleh Ahmed. Kecanggungan Naz mengingatkan saya pada masa kecil saya. Dulu, saya adalah bocah canggung namun banyak omong. Kombinasi kedua sifat tersebut membuat saya terlihat bodoh. Luar biasa bodoh. Kalau diingat kembali, mungkin saya adalah versi nyata Harry dan Lloyd dalam Dumb and Dumber.


Kemunculan John Turturro yang hanya sesaat pada episode pertama sedikit mengurangi intensitas cerita, tapi cukup membantu membangun plot untuk episode selanjutnya. Gerak tubuh, cara bicara, dan gaya busana John Stone, nama tokoh yang diperankan oleh Turturro, memiliki ciri khas tersendiri. Terutama kakinya yang mengidap penyakit aneh sehingga kakinya terlihat seperti kaki orang yang tidur di kebun tanpa obat nyamuk dan autan. Gaya bicaranya juga mirip pria mabuk yang baru kehilangan pekerjaannya akibat direshuffle oleh presiden.

Share: 

4/02/2016

Resensi Film Deadpool (2016)


Deadpool mencatatkan keuntungan yang luar biasa sejak penayangan perdananya pada 8 Februari 2016 di Paris. Sampai tanggal 24 Maret 2016, Deadpool meraih total pemasukan sebesar USD 735,6 juta dari budget yang “hanya” USD 58 juta. Promosi unik, ketampanan Ryan Reynolds, serta komiknya yang sangat dicintai oleh para penggemar merupakan beberapa faktor yang membuat Deadpool begitu sukses secara finansial. Bagaimana dengan kualitas filmnya?

Wade Winston Wilson (Ryan Reynolds) terjebak dalam keterpurukan akibat penyakit kanker yang dia derita. Vanessa (Morena Baccarin), kekasih Wilson,  yakin jika sang pacar akan segera sembuh. Wilson pun menerima tawaran dari orang yang tak dikenal demi kesembuhannya. Namun, ia tak bisa sembuh dengan mudah karena orang yang membantu Wilson, Francis alias Ajax (Ed Skrein), memiliki niat buruk yang berakibat fatal bagi Wilson. Kulit di sekujur tubuhnya rusak dan wajahnya menjadi buruk rupa. Wilson bertekad membalaskan dendamnya pada Ajax lewat identitas barunya sebagai Deadpool.


Tidak seperti kisah-kisah manusia super lainnya (kecuali Mario Teguh) yang menonjolkan sifat heroik, aksi pemberantasan kejahatan dan kostum-kostum ketat yang menampilkan otot yang terlampau besar, Deadpool lebih berfokus pada kehidupan seorang pria yang hancur dan usaha untuk membangun kembali hidupnya. Wilson alias Deadpool bahkan menyebut dirinya sebagai manusia super yang bukan pahlawan. Deadpool memang seorang pria biasa dengan kekuatan super yang memakai jam tangan bergambar tokoh kartun Adventure Time. Dia juga tidak pernah membayar taksi yang ditumpanginya. Wilson juga tetap tergoda saat melihat wanita cantik seperti Vanessa. Berbeda dengan Batman dan Superman ketika bertemu Wonder Woman tetap tidak tergoda dengan kecantikan dirinya.  Mungkin Batman dan Superman bukan lelaki normal.

Alur maju-mundur yang dibangun oleh Tim Miller pada debut penyutradaraannya ini cukup efektif dalam penghantaran karakter. Penonton awam tidak merasa asing dengan karakter Deadpool karena plot yang banyak diisi oleh pengenalan karakter dan kehidupan Wilson sebelum bertransformasi menjadi Deadpool. Namun, ada kekurangan yang sedikit mengganggu cerita. Kekurangan itu adalah kisah cinta Wilson dan Vanessa. Mereka berdua hanya digambarkan sebagai sepasang kekasih yang dimabuk cinta berbalut nafsu, bukan pasangan yang saling mencintai karena perasaan yang tulus. Pasangan Wilson-Vanessa tidak terlihat sebagai pasangan sehidup-semati seperti Habibie dan Ainun. Wilson dan Vanessa  lebih mirip dengan Risty Tagor dan Stuart Collins yang bercerai terlalu cepat, secepat membeli nasi padang di rumah makan minang.


Terlepas dari berbagai kekurangannya, Deadpool termasuk salah satu film yang wajib ditonton bagi penggemar pahlawan super dan sahabat-sahabat super yang setiap minggunya menonton acara motivasi dari pria berkaca mata tanpa rambut di kepala. Keseruan adegan-adegan laga sukses dikombinasikan dengan komedi dan drama yang cukup menghibur. Meski begitu, ada beberapa jenis orang yang tidak dianjurkan untuk menonton Deadpool. Pertama, orang (atau jomlo) yang mudah baper. Karena Wilson dan Vanessa beberapa kali melakukan kegiatan romantis yang berpotensi mengakibatkan baper berkepanjangan bagi penderita baper akut atau lelaki jomlo. Kedua, orang yang sedang diare. Karena beristirahat di atas tempat tidur jauh lebih baik daripada menonton film yang dipenuhi darah bercucuran, tangan yang diamputasi, serta isi kepala yang berhamburan.                                    


Share: 

3/20/2016

Resensi Film Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie (2016)


Funny or Die, perusahaan production house milik Will Ferrel, Adam McKay, dan Chris Henchy, merilis film ketiganya. Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie, judul film tersebut, dibintangi oleh pemeran kelas atas seperti Johnny Depp, Alfred Molina, hingga aktor pendatang baru yang mencuri perhatian lewat Room, Jacob Tremblay. Kenny Loggins yang populer sebagai pengisi original soundtrack film Caddyshack, Top Gun, dan Over the Top didapuk menjadi penyanyi lagu The Art of the Deal yang diciptakan khusus untuk film ini. Melihat jajaran aktor dan musisi yang terlibat dalam produksi Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie, ekspektasi tinggi pantas disematkan pada film karya Jeremy Konner ini.

Sineas kawakan Ron Howard yang bermain sebagai dirinya sendiri menemukan sebuah kaset VHS berisi film yang disutradarai, ditulis dan diperankan oleh Donald Trump (Johnny Depp). Film itu berkisah tentang perjuangan hidup dan tips bisnis dari Trump untuk anak kecil yang tanpa sengaja masuk ke ruang kerjanya. Salah satu perjuangan Trump adalah membeli Taj Mahal Casino dari pengusaha Merv Griffin (Patton Oswalt). Kisah cinta Trump dengan mantan istrinya, Ivana (Michaela Watkins) juga beberapa kali dibahas.



Kisah hidup orang-orang yang sukses di bidang tertentu memang amat menarik untuk difilmkan. Sudah tak terhitung berapa jumlah film yang terinspirasi dari kisah orang sukses. Banyak dari film-film tersebut mengambil tema sedih dan memaksakan filmnya untuk terlihat sedih walau sebenarnya tidak menyedihkan. Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie memberikan warna yang berbeda. Cerita kehidupan Donald Trump tidak dibuat memilukan dan tidak pula menguras air mata. Salah satunya karena Donald Trump sejak kecil tidak pernah jatuh miskin dan hidupnya relatif aman. Tidak seperti Saiful Jamil yang hidupnya penuh hambatan. Nikah-cerai, ditinggal wafat sang istri, menjalin hubungan dengan beberapa perempuan namun selalu kandas, sampai ditangkap polisi akibat membangunkan seorang remaja pria dan mengajaknya sholat subuh dengan cara yang tidak senonoh.

Ada satu kesamaan yang dimiliki Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie dengan Saiful Jamil. Kesamaan itu adalah tidak mulusnya jalan cerita. Film yang ditulis oleh Joe Randazzo ini bukanlah film yang luar biasa, sama seperti Saiful yang tidak luar biasa. Secara pengemasan komedi, Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie sudah cukup maksimal. Hanya sedikit dialog yang masih perlu digali lebih dalam untuk memancing tawa penonton. Kekurangan itu bisa ditutupi oleh dialog dan adegan-adegan lain yang sangat absurd dan jenaka. Salah satunya adegan ketika grup musik The Fat Boys menyanyi bersama Trump. Kalimat yang diucapkan Trump seperti “It’s not a fake estate, it’s a real estate.” Atau “It’s the opposite of mistake. It’s a good stake.” Terdengar cukup absurd tapi tetap berpeluang menghasilkan tawa bagi sebagian penonton.



Selain Donald Trump, banyak tokoh-tokoh yang menjadi inspirasi bagi para pembuat film. Saiful Jamil bisa jadi salah satu dari tokoh itu. Kehidupannya selalu menginspirasi masyarakat luas agar senantiasa bersyukur. Peristiwa miris sangat sering menimpa Saiful. Banyak manusia di dunia ini yang lebih beruntung dari dia. Sebagian besar masyarakat belum pernah ditahan karena membangunkan seorang remaja. Banyak pula orang yang tidak mengalami kecelakaan hebat di jalan tol dan terenggut pasangan hidupnya. Lebih banyak lagi yang tidak pernah menjadi juri kompetisi murahan.


Mungkin Saiful memang ditakdirkan untuk jadi objek kesialan. Karena orang sial pasti pernah beruntung. Bisa saja ada keberuntungan besar yang akan segera menghampiri Saiful. Dicalonkan sebagai presiden, misalnya. Sama seperti Donald Trump yang kini mencalonkan dirinya. Saya rasa Saiful dan Nassar cocok jika dipasangkan sebagai capres dan cawapres dari Partai Dangdut Indonesia Pergoyangan (PDIP).

Share: 

2/25/2016

Resensi American Crime Season 2 Episode 5 & 6



Episode Five


Fakta-fakta mengejutkan mengenai Leland, sekolah lama Taylor, terungkap. Dan Sullivan mendapat saran dari istrinya untuk segera meninggalkan Leland dan pindah ke perguruan tinggi karena masalah yang menimpa tim basket sekolah. Taylor menghadapi hari-hari penuh kesendirian. Eric pulang dari rumah sakit.

Episode kelima menceritakan kehidupan semua karakternya dengan sangat adil. Tidak ada tokoh yang menonjol atau muncul terlalu sering. Porsi kemunculannya sangat berimbang. Dialog-dialog antar karakter juga terasa mengalir dan tidak berlebihan. Pergerakan kamera ketika pentas tari dilangsungkan cukup membuat penonton meresapi ironi dari kondisi pendidikan yang runyam.

Untuk pertama kali dalam sejarah penayangan American Crime musim kedua, saya merasa ada yang lebih mengenaskan kejomloannya dari saya. Adegan-adegan saat Taylor sendirian di rumah, berbaring di kasur tanpa teman, dan memencet tombol di microwave dengan ekspresi kesepian mengundang empati dari sesama jomlo seperti saya. Malam minggu diiringi hujan deras dan hanya ditemani oleh mie instan yang hampir kadaluarsa adalah malam-malam terburuk seorang jomlo. Apalagi jika tidak ada pulsa atau akses internet. Lengkap sudah penderitaan. Para jomlo hanya bisa pasrah dan berharap malam minggu segera berakhir atau berharap sosok Godzilla keluar dari bawah tanah dan melahap orang-orang yang sedang bermesaraan dengan kekasihnya.

Episode Six


Taylor meneruskan terapinya. Siswa hispanik di sekolah Taylor tetap melanjutkan unjuk rasa. Eric kembali bersekolah. Orang tua Kevin mencoba berbagai cara untuk menghindarkan dia dari tuntutan.

Episode keenam berjalan cukup baik meski temponya sedikit lebih lambat dari episode sebelumnya. Pergolakan emosi Taylor semakin intensif dan membuat penonton bisa memaklumi segala tindakannya. Pengembangan karakter bisa dimaksimalkan dengan baik dan menghasilkan suasana serta dialog yang menarik sekaligus realistis. Keluarnya tokoh baru sedikit mengganggu jalannya episode karena kurang utuhnya penggambaran watak sang tokoh.

Episode Six banyak menyorot perjuangan orang tua agar anaknya bisa hidup tenang. Bahkan, ada orang tua yang rela melakukan perbuatan negatif demi anaknya. Buah tak pernah jatuh jauh dari pohonnya, kira-kira begitu kata peribahasa. Jika seorang ayah suka gonta-ganti istri dan mendidik anaknya dengan serampangan, bisa dipastikan anaknya menjadi nakal dan kebut-kebutan di jalan tol hingga menewaskan tujuh orang. Sayangnya, sang ayah kini akan menjadi calon gubernur ibukota. Jika sang ayah adalah pemimpin negara yang baik, jujur, dan tidak suka gonta-ganti istri, tidak mungkin lahir anak yang menjadi desainer ngondek, ketua umum partai yang tidak jelas juntrungannya, atau melahirkan cucu yang pernah berpacaran dengan Jane Shalimar dan kini tidak jelas bagaimana nasibnya.

Ayah yang mendidik anaknya dengan baik akan menghasilkan pribadi yang baik pula. Pribadi yang mau bekerja keras hingga bisa berjualan martabak dan memiliki katering untuk pernikahan. Sebentar lagi sang anak akan “menghadiahkan” orang tuanya cucu yang diharapkan sanggup menjadi pemimpin yang jujur, tidak seperti kakeknya


Share: 

2/16/2016

Resensi Film Spotlight (2015)


Tahun 2001, editor-in-chief baru di kantor berita The Boston Globe, Marty Baron (Liev Schreiber), tertarik dengan kolom mengenai seorang kardinal yang dituduh mengetahui pencabulan yang dilakukan pastor Geoghan. Baron meminta Walter “Robby” Robinson (Michael Keaton), ketua tim investigasi Spotlight yang memiliki spesialisasi dalam penulisan artikel investigasi tingkat tinggi untuk mengusut kasus itu. Robby dan anggotanya, Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), dan Matt Carroll (Brian d’Arcy James) berusaha melakukan investigasi. Mereka mendekati berbagai individu seperti pengacara Mitchell Garabidien (Stanley Tucci), psikoterapis Richard Sipe (Richard Jenkins), dan anggota jaringan korban pelecehan pastor Phil Saviano (Neal Huff). Ternyata kasus tersebut memunculkan banyak fakta mengejutkan.

Pelecehan seksual seolah sudah menjadi masalah yang sangat umum. Institusi pendidikan, kesehatan, lingkungan masyarakat hingga lembaga keagamaan hampir setiap hari mengisi pemberitaan media massa lewat kasus pelecehan seksual. Jumlah pelaku juga tidak kunjung turun, malah mengalami kenaikan. Investigasi tim Spotlight berfokus pada problematika di atas. Wawancara, analisa dokumen dan arsip, sampai pengamatan melalui berita-berita masa lampau bermuara pada satu tujuan. Tom McCarthy sebagai sutradara dapat mengajak penonton memahami perjuangan para kuli tinta. Penolakan wawancara karena pengaruh dari keluarga atau kerabat, waktu yang semakin singkat, konfrontasi antar wartawan, dan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab digambarkan dengan sangat brilian.


Akting para pemeran patut diapresiasi. Karakter mereka yang berbeda satu sama lain namun tetap terlihat padu berhasil memukau penonton. Penghargaan Screen Actors Guild Awards untuk seluruh aktor dan aktris yang terlibat dalam Spotlight pantas mereka raih. Karakter Michael Rezendes yang diperankan Mark Ruffalo cukup mencuri perhatian. Sebagai jurnalis ambisius dengan emosi yang kadang meledak-ledak, Ruffalo dapat mencerminkan watak tersebut melalui ekspresi wajah dan gestur tubuh. Rachel McAdams juga tak ketinggalan menampilkan salah satu performa terbaiknya sepanjang karir sang aktris.

Spotlight meninggalkan tanda tanya besar untuk penonton. Bagaimana cara menghentikan segala kejahatan seksual yang kini seakan tak pernah putus? Saya tak bisa menjawabnya. Saya bukan ahli kesehatan atau seksolog macam Boyke yang agak keperempuan-perempuanan itu. Saya juga bukan Ryan Thamrin yang tampil di program kesehatan salah satu televisi swasta tiap pekan dan kini membintangi iklan air mineral yang konon rasanya manis, semanis sirup Maridjan rasa stroberi. Saya hanya seorang jomlo yang tidak keperempuan-perempuanan (baca: ngondek) dan tidak pula tampan. Saya juga bukan bintang iklan air mineral manis atau iklan sirup Maridjan.



Semoga kasus pencabulan bisa ditekan semaksimal mungkin, dan semoga para pelaku pencabulan dihukum seberat mungkin. Karena saya percaya, seburuk-buruknya orang yang tidak cabul, masih lebih buruk orang yang cabul.


Share: