Tampilkan postingan dengan label Crime. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Crime. Tampilkan semua postingan

1/02/2018

Resensi Film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)


Amarah akan selalu mengundang amarah lainnya. Pesan sederhana itu coba diangkat oleh Martin McDonagh lewat Three Billboards Outside Ebbing, Missouri. Kental akan sindiran sosial dan kegilaan Amerika Serikat khas Donald Trump, film yang dibintangi oleh Frances McDormand, Woody Harrelson dan Peter Dinklage itu memang pantas mendapat berbagai nominasi Golden Globe dan Screen Actor Guild Awards 2018 berkat kejelian McDonagh dan akting para pemerannya.

Mildred Hayes (Frances McDormand) berusaha menarik perhatian dari Kepolisian Kota Ebbing karena kasus pemerkosaan putrinya yang tak kunjung menemui titik terang hingga memaksanya untuk menyewa tiga papan iklan berukuran besar di perbatasan kota. Sheriff Bill Wiloughby (Woody Harrelson) mendengar kabar tersebut dan membuat batinnya tertekan. Para personel kepolisian lainnya juga memperparah situasi tersebut karena ketidakcakapannya dalam melakukan investigasi. Salah satu dari mereka adalah Opsir Jackson Dixon (Sam Rockwell) yang temperamental dan sering terlibat kasus penganiayaan warga kulit hitam. Seisi kota memanas pasca dipasangnya tiga papan iklan tersebut dan membuat situasi semakin tak terkendali.


Jika dilihat sekilas dari sinopsis di atas, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri mirip dengan film-film drama tentang ibu yang kehilangan buah hatinya. Namun, secara keseluruhan, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri adalah film komedi yang dengan jitu menertawakan ironi kehidupan para tokohnya. Mildred Hayes bukanlah perempuan yang mudah mengangis akibat kemalangan hidupnya, Hayes adalah perempuan keras kepala yang seolah tak peduli dengan lingkungannya. Tengok bagaimana Hayes menyulut emosi orang-orang terhormat seperti pendeta dan kepala polisi dan membuat warga satu kota benci kepadanya. Karakter yang kuat diiringi adegan unik seperti saat Hayes berbincang dengan Dixon di ruang interogasi atau ketika Wiloughby bercengkrama dengan putrinya saat piknik menambah kelucuan khas film bergenre komedi gelap.


Frances McDormand menampilkan kualitas terbaiknya sebagai orang tua tunggal yang depresi namun tetap keras kepala. Sorot matanya yang tajam namun menyimpan kesedihan sukses membuat penonton bersimpati padanya. Wiloughby yang bijaksana dan dekat dengan keluarganya diperankan dengan apik oleh Woody Harrelson. Meski sering memerankan tokoh yang jiwanya tertekan seperti dalam War for the Planet of the Apes dan The Hunger Games, Harrelson mampu memberikan pembeda dengan aktingnya di film-film terdahulunya melalui gestur dan ekspresi yang sangat tepat dalam menggambarkan suasana hati dari Wiloughby. Apresiasi paling tinggi patut diberikan pada Sam Rockwell. Kebodohan dan kecerobohan Dixon benar-benar dijiwai dengan sangat dalam oleh Rockwell. Cara Dixon berjalan, berbicara dengan rekan kerjanya sampai ocehan-ocehannya di bar sanggup mengocok perut sekaligus mengajak penonton untuk merenungi kehidupan.

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri bisa dibilang sebagai salah satu film komedi terbaik tahun 2017. Tidak hanya mampu memancing tawa dari penonton, penggambaran kondisi sosial Amerika Serikat beserta kekacauannya adalah kekuatan utama film yang juga ditulis oleh Martin Mcdonagh ini. Kritik terhadap sistem pemerintah dan masyarakat yang semakin membenci satu sama lain juga diselipkan dengan rapi oleh McDonagh. Pesan moral yang disampaikan juga sangat mudah dicerna dan tidak dipaksakan. Nominasi Oscar 2018 sangat pantas disematkan untuk Three Billboards Outside Ebbing, Missouri.




Share: 

5/27/2017

Resensi Film Headshot (2016)


Darah, tulang patah, kulit sobek, sampai kepala pecah adalah sebagian dari ciri khas The Mo Brothers dalam memvisualisasi karyanya. Setiap adegan kejar-kejaran atau baku hantam selalu menghadirkan kesadisan maksimal. Duet dengan nama asli Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel itu juga suka mengadaptasi teknik film horror atau slasher jepang yang total dan sedikit absurd. Skenario yang cukup baik dapat mengimbangi aspek brutal yang terlihat pada Ruma Dara dan Killers, karya kedua saudara itu sebelumnya. Dibintangi oleh Iko Uwais, salah satu aktor laga terpopuler Indonesia saat ini, mampukah Headshot mengimbangi atau bahkan tampil lebih baik dari karya Timo dan Kimo terdahulu?

Ishmael (Iko Uwais) terbangun dari koma akibat peluru yang menancap di dalam otaknya. Ailin (Chelsea Islan), dokter yang merawat Ishmael, ikut bahagia melihat pasiennya kembali pulih meski sang pasien hilang ingatan. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama karena gangguan dari gerombolan kriminal kakap pimpinan Lee (Sunny Pang) yang menginginkan nyawa Ishmael.


Dirawat, jatuh cinta, terpaksa berjuang demi cintanya, lalu berakhir bahagia. Sudah terlalu banyak FTV dan sinetron yang memakai pola tersebut. Sayangnya, Headshot menggunakan pola serupa meski dibumbui adegan laga berdarah-darah. Jika seluruh scene perkelahian dan pertarungan dihapus, akan muncul kisah cinta lebay ala FTV dengan judul Preman Baik dan Dokter Cantik atau Pacarku Pembunuh Professional. Akting Iko Uwais sedikit menyelamatkan adegan drama percintaan dalam Headshot. Bersama Chelsea Islan, hubungan keduanya tidak terasa seperti Aliando-Prilly dalam sinetron tentang serigala yang sudah bubar itu. Kedekatan keduanya juga terasa natural. Berbeda jauh dengan Citra Kirana-Andi Arsyil dalam sinetron yang juga sudah berakhir itu. Khusus untuk Chelsea, ia masih terlihat canggung beradu peran dengan Iko, walau masih enak ditonton.


Adegan laga benar-benar menjadi penyelamat bagi Headshot. Saya hampir saja meninggalkan tempat saya duduk dan berkhidmat ke toilet untuk membuang hajat yang telah lama disimpan. Namun, niat itu saya urungkan setelah melihat Ishmael beradu jotos dengan Rika (Julie Estelle). Keduanya total mengerahkan seluruh kemampuan aktingnya demi adegan yang tidak sampai 15 menit. Julie Estelle berperan cukup baik sebagai pembunuh, namun masih lebih garang ketika ia memerankan gadis berpalu di The Raid 2.

Mo Brothers memang ahlinya kesadisan dan ketegangan. Bahkan, ketika skenario yang ditulis oleh Timo Tjahjanto terasa standar dan mudah ditebak, suasana tegang yang diberikan masih mampu menolong dan menambal segala kekurangan pada aspek penulisan. Saya yakin, jika kualitas film-film mereka semakin meningkat, bukan tidak mungkin Mo bersaudara sanggup menembus box office Hollywood dan menjadi sutradara film aksi tersukses di Indonesia, lalu salah satu dari mereka mencalonkan diri menjadi presiden dan memenangkannya. Pasti Indonesia akan  sangat menegangkan dan dipenuhi baku hantam serta tulang remuk. Sama seperti Indonesia di rezim ayah Pangarep yang berkualitas rendah, serendah produk buatan Tiongkok



Share: 

1/05/2017

Resensi Film The Accountant (2016)


Setelah Batman vs Superman: Dawn of Justice, Ben Affleck hanya muncul di layar lebar sebagai cameo dalam Suicide Squad. The Accountant merupakan film kedua Affleck di tahun 2016 yang menampilkan dirinya sebagai tokoh utama. Bintang-bintang Hollywood seperti Anna Kendrick, J.K. Simmons dan Jeffrey Tambor turut serta dalam jajaran cast The Accountant. Kebintangan dan kualitas akting Ben Affleck serta aktor dan aktris populer yang terlibat dalam produksi film menjadikan The Accountant film thriller yang mencatat keuntungan besar dengan pemasukan USD 146 juta dari bujet USD 44 Juta.

Christian Wolff (Ben Affleck) merupakan seorang akuntan organisasi-organisasi kriminal tingkat tinggi yang mengidap autisme. Sebuah perusahaan teknologi meminta bantuan Wolff untuk megaudit keuangan mereka. Dalam perusahaan tersebut, Wolff bertemu akuntan perusahaan, Dana Cummings (Anna Kendrick). Dalam proses audit, nyawa orang-orang di sekitar Wolff terancam. Di sisi lain, agen pemerintah menginvestigasi keberadaan Wolff.


Tidak banyak hal berbeda yang ditawarkan oleh The Accountant dalam genre crime thriller. Selain autisme Christian Wolff, sebagian besar alur dan visualisasi film sudah jamak ditemui pada genre serupa. Penonton cukup sulit untuk terikat dalam cerita yang dipaparkan sepanjang 127 menit film berjalan. Plotnya seolah saling tindih tanpa ada yang menonjol. Kisah cinta antara Wolff dan Cummings kurang sukses menggali emosi penonton. Investigasi agen pemerintah yang diperankan oleh J.K. Simmons terkesan hanya sebagai pelengkap dan berlalu begitu saja. Pembunuhan yang dilakukan sekelompok kriminal misterius lebih mirip adegan pada film-film Steven Seagal beberapa tahun terakhir yang dipenuhi omong kosong tanpa makna dan ancaman-ancaman yang tidak menakutkan sama sekali, sama seperti ancaman UU ITE yang lembek dan kurang bertaji bagi para relawan media sosial calon kepala daerah yang membenci Islam.

Satu-satunya kesan baik yang membekas dari The Accountant  adalah akting Ben Affleck yang total memerankan pria autis yang amat detail, ahli bela diri dan menembak. Cara makan, menyetir, bahkan cara dia memejamkan mata sangat sesuai dengan kondisi autisme di dunia nyata. Saat dia bergulat dengan para pembunuh bayaran, saya teringat karakter Batman yang diperankannya. Ben Affleck di The Accountant adalah Batman dalam versi autis. Jika The Accountant diproduksi sekuelnya, mungkin  dia akan bertarung dengan Superman dan judulnya adalah The Accountant vs Superman: The Worst Movie Ever. Kualitas akting Ben Affleck memang sangat mumpuni. Berbeda dengan tersangka penodaan agama yang aktingnya terlihat dibuat-buat dan lebih buruk dari akting jajaran cast Anak Jalanan, Tukang Bubur Naik Haji, dan Anak Jalanan Naik Haji.



Ben Affleck kembali merilis film yang disutradarainya pada 25 Desember 2016 berjudul Live By Night. Semoga Ben Affleck dapat mengukir awal yang manis di tahun 2017, dan semoga para pemimpin yang suka bicara pedas, sering mengumbar air mata buaya dan pura-pura tidak bersalah bisa dihukum seberat-beratnya.


Share: 

8/04/2016

Resensi The Night of - Episode 1


Setelah berakhirnya True Detective musim kedua, HBO belum memproduksi serial detektif kelam nan realistis hingga kemunculan The Night of, sebuah miniseri yang dibintangi oleh Riz Ahmed dan John Turturro. Steve Zaillian dan Richard Price bertindak sebagai produser eksekutif, penulis skenario, sekaligus showrunner. Zaillian juga menyutradarai miniseri tersebut bersama dengan James Marsh yang pernah menyutradarai The Theory of Everything. Hasil karya Zaillian sebelumnya juga tak kalah apik. Sineas kelahiran California itu pernah menulis skenario pada film Moneyball,The Girl with the Dragon Tattoo, dan Exodus: Gods and Kings. Jajaran kru yang cukup berkualitas dan promo yang menarik membuat The Night of wajib mendapat perhatian dan pantas untuk ditonton (jika Anda memiliki waktu dan saluran HBO di rumah, atau mengunduh ilegal seperti kebanyakan penyuka film seperti saya dengan kondisi keuangan yang sangat mepet, jauh lebih mepet dari tempat parkir sepeda motor di mal ketika menjelang lebaran).

Nasir Khan (Riz Ahmed) hidup dalam keluarga muslim Pakistan di New York. Sang ayah, Salman Khan (Peyman Moaadi) adalah sopir taksi yang harus berbagi pendapatan dengan dua rekannya. Sang ibu, Safar Khan (Poorna Jagannathan) adalah pedagang kain di pasar. Hidup Naz-sapaan akrab Nasir Khan- berubah ketika dia bertemu Andrea Cornish (Sofia Black D’Elia) perempuan yang masuk ke taksi yang saat itu dikemudikan oleh Naz. Sosok Andrea yang nakal namun cantik dan sangat menarik membuat Naz menyetujui permintaan Andrea untuk bermalam di rumahnya. Nahas, dini hari saat Naz bangun, Andrea sudah tidak bernyawa dengan banyak tusukan di tubuh. Naz pun harus berurusan dengan Detektif Dennis Box (Bill Camp), polisi yang menangani kasus tersebut.


Penampilan Riz Ahmed yang sebelumnya pernah bermain di film Nightcrawler sukses mencuri perhatian. Karakter Naz yang canggung dengan emosi yang tidak stabil sangat cocok diperankan oleh Ahmed. Kecanggungan Naz mengingatkan saya pada masa kecil saya. Dulu, saya adalah bocah canggung namun banyak omong. Kombinasi kedua sifat tersebut membuat saya terlihat bodoh. Luar biasa bodoh. Kalau diingat kembali, mungkin saya adalah versi nyata Harry dan Lloyd dalam Dumb and Dumber.


Kemunculan John Turturro yang hanya sesaat pada episode pertama sedikit mengurangi intensitas cerita, tapi cukup membantu membangun plot untuk episode selanjutnya. Gerak tubuh, cara bicara, dan gaya busana John Stone, nama tokoh yang diperankan oleh Turturro, memiliki ciri khas tersendiri. Terutama kakinya yang mengidap penyakit aneh sehingga kakinya terlihat seperti kaki orang yang tidur di kebun tanpa obat nyamuk dan autan. Gaya bicaranya juga mirip pria mabuk yang baru kehilangan pekerjaannya akibat direshuffle oleh presiden.

Share: 

3/15/2016

American Crime Season 2 Episode 7-10


Episode Seven

Adik Eric mencuri cat semprot dan melakukan vandalisme di sekolah. Taylor babak belur akibat pengeroyokoan yang dilakukan teman satu tim Eric. Dokumen kesehatan Anne bocor di internet. Taylor depresi dan mencuri senjata api di rumah pamannya.

Konflik sudah memasuki titik puncak. Kepadatan cerita jauh lebih baik dibanding episode-episode sebelumnya. Episode Seven memfokuskan diri pada penderitaan Taylor pasca semua tragedi yang menimpanya. Sosok Taylor semakin mengundang simpati penonton. Perilaku setiap karakter mengikat emosi penonton pada sebagian besar adegan.

Episode Seven memberi contoh tentang kengenesan seorang jomlo. Namun, kengenesan itu diakibatkan oleh peristiwa ketika sang tokoh masih berpasangan dengan seseorang. Hanya jomlo sejati yang bisa merasakan penderitaan jomlo lain, karena itulah saya paham betapa sakitnya hati Taylor yang jomlo dan tidak punya kawan yang bisa melindunginya. Adegan ketika Taylor sedang berhalusinasi di tengah hutan menyadarkan para jomlo mengenai pentingnya mencurahkan isi hati pada orang terdekat. Termasuk kepada sesama jomlo. Karena jomlo yang bersatu bisa mengubah dunia.


Episode Eight

Taylor ditahan atas tuduhan penembakan di Leyland. Seluruh anggota tim basket berkabung atas kematian Wes. Putri Dan Sullivan (Sky Azure van Vliet), mengakui perbuatannya dan dihukum oleh sang ayah. Sebastian (Richard Cabral) mendatangi Anne dan menjelaskan maksud kedatangannya.

Tak seperti episode-episode sebelumnya, pada Episode Eight tampak beberapa video wawancara dengan berbagai latar belakang. Keberadaan video itu bertujuan untuk mendukung cerita karena semua narasumbernya adalah orang-orang yang pernah bersinggungan langsung dalam kasus penembakan di sekolah, bullying, dan kekerasan terhadap minoritas. Namun, video tersebut masih terasa kurang menyatu dengan isi cerita dan membuat penonton kurang bisa menikmati dan merasakan emosi dalam episode kedelapan ini. Walau memiliki kekurangan pada aspek emosi, sebagai episode yang sudah mendekati akhir serial, Episode Eight menawarkan konklusi yang menarik dan tidak monoton.


Bicara soal minoritas, bagi saya, kaum jomlo sudah menjadi minoritas di tengah maraknya muda-mudi yang berpacaran dan menikah. Kini seorang jomlo bagaikan lansia yang sanggup bermain sepak bola selama 90 menit. Sangat sedikit jumlahnya. Bahkan, menurut prediksi saya, jomlo bisa saja punah seperti dinosaurus dan burung dodo. Jika jomlo sudah punah, saya yakin banyak museum yang tertarik untuk menyimpan koleksi yang berbau jomlo. Mie instan, tisu, serta air mata, misalnya. Bahkan, bisa saja ada museum yang mengabadikan fosil jomlo purbakala atau fosil homo jomblonicus.
 
Episode Nine

Sebastian membantu Anne dengan kemampuan teknologinya. Dixon disidang oleh Dinas Pendidikan. Steph Sullivan mendatangi kediaman Anne dan memohon untuk tidak mencatut nama anaknya pada kasus Taylor. Eric Tanner bertemu kembali dengan adik dan ibunya. Kevin bertengkar dengan rekan satu timnya.

American Crime akan memasuki episode pamungkasnya. Sebagian klimaks sudah mulai dimunculkan pada Episode Nine. Salah satunya adalah reaksi Chris Dixon, kepala sekolah negeri tempat Taylor belajar. Selain itu, beberapa masalah sudah sedikit menampakkan titik terang. Emosi penonton kembali digali saat adegan-adegan yang menampilkan setiap karakter dan kesedihannya masing-masing. Ekspresi sebagian besar tokohnya juga tidak terkesan berlebihan dan cukup mengundang simpati bagi penonton.

Episode kesembilan ini banyak membahas perjuangan orang tua yang membela sang anak meskipun anak itu bersalah. Ketika anak mencuri mangga, misalnya. Pasti ada sebagian orang tua yang membela lewat berbagai cara. Pura-pura tidak tahu, pura-pura berubah jadi pohon mangga, bahkan pura-pura berubah jadi mangga. Seperti kata pepatah, batu akik tidak jatuh jauh dari embannya, sesungguhnya sifat anak adalah cerminan sifat orang tua. Jika sang ayah adalah musisi sombong yang kini menjadi wakil walikota dengan Harley Davidson segudang dan cincin akik di sepuluh jari, hampir pasti buah hatinya menjadi pribadi yang sombong pula, dengan cincin akik di sepuluh jari, namun tanpa Harley Davidson karena kakinya masih terlalu pendek untuk menginjak rem motor Harley, kecuali dia mau dan mampu menaiki Harley tanpa menginjak rem. Semoga dia selamat walau tidak mengerem sama sekali.


Episode Ten

Setelah mengudara selama sepuluh pekan atau dua bulan lebih, American Crime musim kedua telah mencapai episode terakhir. Secara keseluruhan, season kedua lebih seru dan lebih “menyentil” dibanding musim pendahulunya. Keluarga, rasisme, kesetiaan, kejujuran, hingga institusi pendidikan dikritisi melalui peceritaan menarik diiringi karakter yang kuat dan naskah tajam.

Taylor memberi keputusan terkait persidangannya. Becca Sullivan, putri Dan Sullivan, ditangkap akibat kasus penjualan narkotika. Sebastian dikagetkan oleh peretas lain. Tante Leslie Graham, tante-tante kepala sekolah Leyland mengalami masa terberat dalam hidupnya. Kevin dipanggil oleh pihak kepolisian untuk dimintai keterangan.

Sebagai episode penutup, Episode Ten banyak diisi konklusi-konklusi cerita yang tidak terlalu mengejutkan namun tetap menarik untuk diikuti sampai tuntas. Hadirnya tokoh Sebastian terkesan sedikit dipaksakan demi akhir serial yang menakjubkan dan meninggalkan perasaan kurang ikhlas pada penonton. Seperti ketika seorang perempuan berpacaran dengan laki-laki tampan namun tidak tahu nama sang pria, karakter Sebastian mirip dengan peristiwa itu. Penonton hanya mengenal Sebastian pada sepertiga akhir serial tanpa mengenal sosoknya lebih dalam. Sebastian seolah menjadi kunci dari episode terakhir tanpa penokohan yang kuat. Walaupun agak kurang pada karakter Sebastian, episode pamungkas American Crime tetap wajib ditonton karena akhir yang menegangkan sekaligus melegakan seperti permen Stensils pelega tenggorokan.

Seberapa baikkah Anda? Pertanyaan itu memang amat susah untuk dijawab. Saya sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Kalau boleh memilih, lebih baik saya diberi tanggung jawab untuk memakan petai dua kilogram setiap hari selama sebulan daripada harus menjawab pertanyaan di atas. American Crime Season 2 mengajak kita untuk merenungkan hidup dan mempertanyakan kebaikan sesama manusia karena terkadang sesuatu yang terlihat baik dari luar sebenarnya tidak baik jika dilihat lebih jeli. Seperti petai dua kilogram yang cukup nikmat tapi tidak baik untuk aroma mulut serta nafas konsumennya.

Share: 

2/25/2016

Resensi American Crime Season 2 Episode 5 & 6



Episode Five


Fakta-fakta mengejutkan mengenai Leland, sekolah lama Taylor, terungkap. Dan Sullivan mendapat saran dari istrinya untuk segera meninggalkan Leland dan pindah ke perguruan tinggi karena masalah yang menimpa tim basket sekolah. Taylor menghadapi hari-hari penuh kesendirian. Eric pulang dari rumah sakit.

Episode kelima menceritakan kehidupan semua karakternya dengan sangat adil. Tidak ada tokoh yang menonjol atau muncul terlalu sering. Porsi kemunculannya sangat berimbang. Dialog-dialog antar karakter juga terasa mengalir dan tidak berlebihan. Pergerakan kamera ketika pentas tari dilangsungkan cukup membuat penonton meresapi ironi dari kondisi pendidikan yang runyam.

Untuk pertama kali dalam sejarah penayangan American Crime musim kedua, saya merasa ada yang lebih mengenaskan kejomloannya dari saya. Adegan-adegan saat Taylor sendirian di rumah, berbaring di kasur tanpa teman, dan memencet tombol di microwave dengan ekspresi kesepian mengundang empati dari sesama jomlo seperti saya. Malam minggu diiringi hujan deras dan hanya ditemani oleh mie instan yang hampir kadaluarsa adalah malam-malam terburuk seorang jomlo. Apalagi jika tidak ada pulsa atau akses internet. Lengkap sudah penderitaan. Para jomlo hanya bisa pasrah dan berharap malam minggu segera berakhir atau berharap sosok Godzilla keluar dari bawah tanah dan melahap orang-orang yang sedang bermesaraan dengan kekasihnya.

Episode Six


Taylor meneruskan terapinya. Siswa hispanik di sekolah Taylor tetap melanjutkan unjuk rasa. Eric kembali bersekolah. Orang tua Kevin mencoba berbagai cara untuk menghindarkan dia dari tuntutan.

Episode keenam berjalan cukup baik meski temponya sedikit lebih lambat dari episode sebelumnya. Pergolakan emosi Taylor semakin intensif dan membuat penonton bisa memaklumi segala tindakannya. Pengembangan karakter bisa dimaksimalkan dengan baik dan menghasilkan suasana serta dialog yang menarik sekaligus realistis. Keluarnya tokoh baru sedikit mengganggu jalannya episode karena kurang utuhnya penggambaran watak sang tokoh.

Episode Six banyak menyorot perjuangan orang tua agar anaknya bisa hidup tenang. Bahkan, ada orang tua yang rela melakukan perbuatan negatif demi anaknya. Buah tak pernah jatuh jauh dari pohonnya, kira-kira begitu kata peribahasa. Jika seorang ayah suka gonta-ganti istri dan mendidik anaknya dengan serampangan, bisa dipastikan anaknya menjadi nakal dan kebut-kebutan di jalan tol hingga menewaskan tujuh orang. Sayangnya, sang ayah kini akan menjadi calon gubernur ibukota. Jika sang ayah adalah pemimpin negara yang baik, jujur, dan tidak suka gonta-ganti istri, tidak mungkin lahir anak yang menjadi desainer ngondek, ketua umum partai yang tidak jelas juntrungannya, atau melahirkan cucu yang pernah berpacaran dengan Jane Shalimar dan kini tidak jelas bagaimana nasibnya.

Ayah yang mendidik anaknya dengan baik akan menghasilkan pribadi yang baik pula. Pribadi yang mau bekerja keras hingga bisa berjualan martabak dan memiliki katering untuk pernikahan. Sebentar lagi sang anak akan “menghadiahkan” orang tuanya cucu yang diharapkan sanggup menjadi pemimpin yang jujur, tidak seperti kakeknya


Share: 

2/02/2016

Resensi American Crime Season 2 Episode 3 & 4



Episode Three

Nama Kevin disebut dalam berita mengenai kasus pelecehan seksual yang menimpa Taylor. Polisi semakin intensif menyelidiki kasus tersebut. Dan Sullivan berusaha mencari solusi dibantu istrinya, Steph Sullivan. Episode ketiga memberikan alternatif jalan cerita dengan semakin bervariasinya tokoh yang muncul. Seperti Elvis Nolasco sebagai Chris Dixon, kepala sekolah negeri tempat kekasih Taylor bersekolah dan karakter Eric Tanner yang lebih digali walau belum cukup dalam. Sedikitnya adegan yang menampilkan kegelisahan Taylor membuat reaksinya sebagai korban kurang diekspos dan meninggalkan rasa mengganjal bagi penonton.

Seperti biasa, sinematografi American Crime bisa dibilang sangat indah dibandingkan serial-serial TV yang lain. Namun, Episode Three tidak terlalu menonjolkan keindahan itu. Meski tidak seindah episode sebelumnya, American Crime masih berada di jalur yang benar dan masih layak ditunggu kelanjutannya. Selain itu, kaum jomlo* lebih dihargai pada episode ini dengan tiadanya adegan-adegan percintaan yang berlebih. Sebagai jomlo, saya sangat mengapresiasi usaha serial karya John Ridley ini. Semoga program TV lainnya bisa ikut serta dalam menghormati dan menghargai kaum jomlo, terutama jomlo ngenes.


Episode Four

Polisi telah mendapatkan hasil dari pemeriksaan barang bukti. Kebenaran mulai terkuak. Dan Sullivan merasa terpukul akibat kebohongan seluruh anggota tim basket. Leslie Graham berkencan dengan kekasihnya. Taylor pindah ke sekolah negeri. Kepingan-kepingan cerita di atas dirangkai dengan sangat indah lewat sudut pengambilan gambar, ekspresi masing-masing karakter dan dialog-dialog kuat diiringi sedikit sentilan untuk masyarakat luas.

Saya tak bisa melupakan adegan saat Leslie Graham menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Amarah meluap dalam diri saya. Bagaimana bisa seorang kepala sekolah bermesraan saat sekolahnya sedang dirundung masalah pelik? Kalau saja saya murid dari Leland, nama sekolah tempat Leslie bekerja, saya akan memecat kepala sekolah saya dan menggantinya dengan perempuan yang lebih baik, berpengalaman, tidak banyak pacaran, dan yang paling utama, harus cantik agar para siswanya betah. Selain itu, kepala sekolah wajib menggratiskan kantin sekolah, karena kantin adalah penguras uang saku siswa nomor dua setelah pulsa. Bahkan, kalau bisa, sekolah memberi pulsa gratis untuk siswanya.

Kritik sosial yang disampaikan oleh Episode Four amat mengena namun tidak menyakitkan. Penonton merasa terikat dengan ceritanya sehingga kebenaran sekaligus kritik yang diselipkan lebih mudah dicerna. Bagi saya, Episode Four jauh lebih baik dari episode pendahulunya di American Crime musim kedua. Semoga episode-episode selanjutnya dapat mempertahankan kualitas itu, dan semoga sistem pendidikan di seluruh penjuru dunia lebih melek akan kebutuhan siswanya. Terutama kebutuhan pulsa dan akses internet untuk foto alay.

*) Jomlo menurut KBBI artinya "gadis tua" dan kini maknanya bergeser menjadi "orang yang     tak kunjung punya pasangan"

Share: 

1/25/2016

Resensi Film Sicario (2015)



 Apa persamaan dari Angelina Jolie, Jennifer Lawrence, dan Emily Blunt? Ketiganya cantik dan sangat tangguh ketika berperan sebagai perempuan bersenjata. Siapapun laki-laki yang berhadapan dengan mereka, pasti akan merasa jatuh cinta pada ketangguhan ketiga bidadari Hollywood itu. Saya bahkan berharap bisa selalu melihat mereka menenteng senjata. Apalagi jika ada yang menyelipkan buku nikah di balik senjatanya dan terdapat foto saya berdampingan dengan salah satu dari ketiganya. Saya rasa angan-angan saya terlalu tinggi.

Sicario menjadi ajang pembuktian keperkasaan Emily Blunt. Berperan sebagai Kate Macer, agen FBI yang ditugaskan untuk membantu Matt Graver (Josh Brolin), menangkap pembunuh bayaran kartel narkoba Meksiko, Manuel Diaz. Dalam keberangkatan, Kate bertemu Alejandro Gillick (Benicio Del Toro), pria dingin rekan kerja Matt. Selama perjalanan dan penugasannya bersama Matt dan Alejandro, Kate menemukan banyak kejanggalan.


Jika Anda sudah menonton Prisoners (2013), yang sama-sama disutradarai Dennis Villeneuve,  alur Sicario mirip dengan film tersebut. Villeneuve membangun misteri sejak menit pertama. Karakter Kate, Matt, dan Alejandro punya daya tarik masing-masing yang membuat kemisteriusan dalam film terus terjaga sampai akhir. Sinematografi karya Roger Deakins mampu mempertebal kesan misterius dan sedikit mencekam. Awan kelabu di balik jasad-jasad manusia, kegelapan malam Kota Juarez, anak-anak bermain bola diiringi suara tembakan dan ledakan, masih banyak pemandangan-pemandangan indah sekaligus menegangkan yang mengajak penonton ikut masuk dalam kelamnya perbatasan Meksiko.

Narkoba sangat merusak moral bangsa. Karena narkoba, Andhika Kangen Band mendekam di jeruji besi, karena narkoba, selebriti pria digerebek bersama Wanda Hamidah,  narkoba juga menjadi penyebab terjadinya pemecatan massal pilot dan pramugari pesawat. Betapa rusaknya Indonesia karena narkoba. Patut diapresiasi rencana kepala BNN menempatkan buaya unuk menjaga lapas narkotika. Kalau bisa, tidak hanya buaya saja yang ditangkar di depan lapas, Harimau Sumatera, Badak Jawa, Jalak Bali, Gajah Sumatera, dan hewan-hewan lainnya perlu diberi tempat di kompleks lapas, sehingga lapas bisa mengelola suaka margasatwa secara independen. Bicara soal narkoba, Sicario menyelipkan pesan anti narkoba dengan tersirat tapi tetap mengena.


Pada beberapa bagian, tempo film terasa cukup lambat. Lambatnya tempo dapat dibayar dengan tuntas lewat karakter yang dibangun dengan matang dan terjaganya plot tanpa distraksi dari subplot yang mengganggu. Sinematografi Roger Deakins dan scoring Jóhann Jóhannsson sukses menyatu dan memperindah setiap momen. Nominasi Oscar 2016 memang pantas diraih keduanya.


Saya berharap, semoga buaya-buaya yang segera ditempatkan sebagai penjaga lapas narkotika bisa menjalankan tugasnya dengan baik tanpa ada gangguan pihak-pihak lain yang mencoba menyuap mereka dengan uang, makanan, atau obat-obatan terlarang, dan semoga Emily Blunt mendapat lebih banyak kesempatan bermain di film laga agar saya bisa terus menyaksikan sosok keren dan cantiknya.

Share: 

1/21/2016

Resensi Film Cartel Land (2015)


Bang Napi selalu berkata, “Kejahatan tidak hanya terjadi karena niat pelakunya. Tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah,” sedangkan Cita-Citata selalu memekikkan ungkapan “Sakitnya tuh disini” lalu, bagaimana jika kedua individu itu disatukan? Cartel Land bisa jadi salah satu jawaban.

Bukan, ini bukan film dokumenter tentang Bang Napi atau Cita-Citata. Bukan pula film mengenai makhluk setengah Bang Napi setengah Cita-Citata, apalagi jika Anda mengira film ini menceritakan Bang Napi yang tobat dan berubah menjadi Cita-Citata atau sebaliknya. Cartel Land murni membahas kegiatan kartel narkotika di Meksiko dan gerakan masyarakat melawan kartel. Dua organisasi masyarakat dari dua negara berbeda, Meksiko dan Amerika Serikat, dikupas tuntas dalam film berdurasi 100 menit ini. Autodefensa dan Arizona Border Recon, nama dua kelompok tersebut, mempertahankan tanah mereka dari serangan kartel candu. Autodefensa, kelompok anti kartel asal meksiko, telah berhasil menaklukkan puluhan kota yang sebelumnya dikuasai kartel. Musuh kedua kelompok itu bukan hanya kartel, masih ada aparat yang menganggap mereka sebagai ancaman. Bahkan Autodefensa sempat dikecam oleh Presiden Meksiko. Arizona Border Recon juga tak kalah miris. Eksistensinya diklaim sudah meresahkan warga, walau tujuan mereka sangat mulia.

Dibuka dengan kemunculan beberapa orang bersenjata dibalik pakaian tertutup dengan wajah bermasker, penonton bisa merasakan atmosfer kejahatan kartel sejak awal. Kecemasan warga sipil juga ditonjolkan melalui ekspresi yang direkam dari jarak dekat. Ketegangan dalam adegan penggerebekan tokoh kartel dapat dikemas dengan baik lewat pergerakan cepat kamera dan suara-suara hentakan kecil. Kekejaman kartel dipaparkan secara gamblang dalam foto-foto korban pembunuhan kartel.

Cartel Land fokus pada beberapa sudut pandang, itulah membuat film ini unik dan tidak membosankan. Autodefensa, Arizona Border Recon, produsen narkoika, sampai para korban kebengisan kartel sukses ditampilkan mendetail, meski pada akhirnya kisah Autodefensa yang paling dominan.

Cartel Land kurang memberi porsi untuk Arizona Border Recon. Padahal, banyak poin-poin yang bisa digali dari mereka. Aksi pemberantasan kartel hanya terlihat dari pihak Autodefensa. Akan lebih menarik jika Arizona Border Recon mendapat porsi tampil lebih banyak serta ikut terekam dalam pemberangusan kartel.

Sebagai film dokumenter, kritik menohok disematkan melalui ucapan yang terlontar dari pejuang anti kartel. Apa yang bisa diharapkan dari pemerintah kalau kejahatan dibiarkan tanpa solusi? Sebagian besar kritik yang dikemukakan sangat relevan dengan peristiwa di seluruh penjuru dunia. Termasuk Indonesia. Bom yang telah menewaskan warga negara tak berdosa, aliran sesat tumbuh subur, harga bahan pokok melonjak, angka perceraian nasional dan pemerkosaan naik drastis, hampir tidak ada yang bisa diharapkan, kecuali cucu presiden yang sebentar lagi lahir. Semoga saja kehadirannya membawa berkah. Saya juga berharap pada Cita-Citata agar segera mendapat jodoh yang baik, sebaik Bang Napi yang sudah tobat.

Saya tidak bisa membayangkan reaksi warga jika terjadi kekejian kartel obat-obatan di Indonesia. Ketika ada penggerebekan atau baku tembak, saya yakin warga akan sibuk ber-selfie ria, atau menggosipkan ketampanan polisi. Tidak hanya itu, sebagian besar penduduk sekitar pasti akan mengabadikan diri mereka melalui foto pasca peristiwa di lokasi kejadian, atau berfoto bersama sang polisi ganteng. Mudah-mudahan Indonesia aman dari kartel dan kejahatannya, agar para warganya tidak kecanduan berfoto. Waspadalah terhadap kejahatan, agar Anda tidak merasakan sakit di mana-mana.


Share: 

1/19/2016

Resensi American Crime Season 2 Episode 1&2


Jika saya sebelumnya menulis resensi dari Master of None langsung dalam satu season penuh, kali ini saya akan mencoba menulis resensi serial TV per episode. Serial yang saya pilih juga tidak sembarangan. American Crime, serial antologi pilihan saya, diganjar 10 nominasi Primetime Emmy Awards dan memenangi satu di antaranya. Golden Globe Awards 2016 menjadi ajang kejayaannya dengan tiga nominasi. Semua nominasi di atas adalah nominasi musim pertamanya. Karena season pertama yang menakjubkan dan membuat hati saya berdegup kencang sambil bergoyang dumang, saya putuskan untuk meresensi tiap episode pada musim kedua.

Episode One

Episode pertama diawali dengan suara telpon seorang wanita. “911, apa keluhan Anda?” “Saya tersedak batu akik.” “Maaf, kami tidak menerima poles akik.” “Saya tersedak, bukan mau poles akik” “Kami juga tidak menerima bedak untuk akik.” “Saya TERSEDAK!” Lalu keluarlah batu akik dari mulut wanita itu. Batu akik tersebut lantas berubah menjadi siluman batu akik. Beberapa kalimat yang saya tulis tadi bukan sinopsis asli episode pertama American Crime. Itu sebenarnya sinopsis film TV di stasiun yang suka menayangkan film laga tak jelas dan hanya mengandalkan ketampanan sang aktor dengan diselingi animasi naga yang lebih jelek dari gambaran anak SD.

American Crime dimulai dengan laporan telepon kepada 911 mengenai pemerkosaan. Ternyata itu adalah suara dari Anne Blaine (Lili Taylor), ibu dari Taylor Blaine (Connor Jessup), korban dari pemerkosaan tersebut. Sebelumnya Anne telah melaporkan kejadian ini pada Leslie Graham, tante-tante kepala sekolah yang diperankan oleh Felicity Huffman. Merasa tak puas dengan tanggapan tante kepala sekolah, Anne melaporkan pemerkosaan terhadap anaknya ke polisi. Pelaporan itu terjadi akibat foto-foto tidak senonoh Taylor yang tersebar di media sosial.

Selain peristiwa yang dialami Taylor, pelatih tim basket sekolah, Dan Sullivan (Timothy Hutton) sedang cemas karena putrinya yang bertindak bagaikan cabe-cabean kelas kakap. Sebagai episode pembuka, penonton bisa ikut terhanyut dalam gejolak emosi karakter-karakternya tanpa harus susah payah menerka jalan cerita. Karakter dan cerita terlihat sangat menyatu dan hampir tanpa celah. Walau ada beberapa adegan yang terlalu bertele-tele, salah satunya ketika Kevin, salah satu anggota tim basket sekolah, bermesraan dengan kekasihnya. Saya rasa itu hanya membuang-buang durasi dan membuat penonton kurang nyaman. Apalagi penonton jomblo seperti saya.


Episode Two

Taylor diperiksa oleh petugas medis. Anne mendatangi seorang detektif. Sama seperti tante kepala sekolah, tanggapan sang detektif tak bisa menyenangkan hati Anne. Dia langsung mencari cara lain untuk menegakkan keadilan bagi anaknya. Di sisi lain, Leslie Graham, tante-tante merangkap kepala sekolah, menggosok giginya.

Dalam episode ini, beberapa karakter mulai terlihat peranannya. Ibu Kevin dan Eric Tanner, wakil kapten tim basket, adalah beberapa di antaranya. Ibu Kevin digambarkan sebagai sosok pengatur berpengaruh. Saat hampir mencelakai orang karena kelalaian mengemudi, dia malah memfoto nomor polisi si korban dan melaporkannya hanya karena si korban marah padanya.

Episode kedua sedikit lebih kompleks dari episode sebelumnya, namun intensitas cerita dan emosi karakter masih terjaga. Salah satu aspek yang paling saya suka pada serial ini adalah sudut pengambilan gambar, dan episode ini merupakan yang terbaik untuk aspek tersebut. Ekspresi marah Taylor, kegelisahan ibunya, sampai adegan gosok gigi Leslie dapat terekam dengan indah. Lagi-lagi, episode ini membuat para jomblo kesal karena perlakuan Kevin yang membelanjakan USD 900 untuk kekasihnya. Kalau saja saya memiliki uang sebanyak itu, saya akan menampar wajah Kevin dengan uang saya.

Share: