Tampilkan postingan dengan label Dokumenter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dokumenter. Tampilkan semua postingan

1/27/2016

Resensi Film Amy (2015)



Mana yang lebih buruk, seorang ayah yang meninggalkan keluarganya dan selingkuh dengan perempuan lain, atau seorang laki-laki nakal sekaligus suami yang menjerumuskan istrinya? Bagi saya, keduanya sama-sama buruk. Kedua individu itulah yang membuat Amy Winehouse masuk ke dalam lingkaran setan berupa obat-obatan terlarang dan minuman keras hingga menjadikannya sosok wanita depresi semi cabe-cabean.

Amy Winehouse tidak lahir dari keluarga ideal dan penuh kedamaian. Ayahnya, Mitchell Winehouse, berselingkuh dari ibu Amy ketika ia masih kecil dan jarang berada di dekat anak-istrinya. Pada usia belasan tahun, Amy sempat ketergantungan obat penenang. Mantan suaminya, Blake Fielder, pernah menginap di lembaga permasyarakatan. Amy juga pernah direhabilitasi akibat ketergantungan narkotika. Di samping berita negatif yang sering menerpa, Amy Winehouse sangat sukses lewat musik soul, jazz, dan RnB. Lima Grammy Awards tahun 2008 untuk album Back to Black membuktikan kehebatan Amy di bidang musik. Hingga kematiannya pada 23 Juli 2011, Amy Winehouse akan selalu dikenang berkat talentanya sebagai musisi dan masalah hidup yang sangat fenomenal.


Penonton diajak meresapi kehidupan sang bintang melalui video dan foto-foto Amy Winehouse sejak kecil sampai akhir hayatnya. Video Amy ketika berusia 14 tahun sedang menyanyi ditemani sahabatnya, Juliette Ashby benar-benar memukau karena sisi lain dari Amy Winehouse ada di dalam video itu. Seorang Amy Winehouse yang periang, aktif, murah senyum, dan tidak terlihat muram. Suara Amy juga terdengar unik dan amat merdu. Tidak seperti suara saya. Saya yakin, orang tuli yang mendengar saya menyanyi pasti langsung menutup telinganya dengan kapas super tebal.

Kehidupan cintanya dengan beberapa lelaki yang (kelihatannya) sama-sama nakal dan tidak tahu diri menimbulkan rasa penasaran. Seberapa parahnya mereka hingga seorang Amy Winehouse menjadi sangat liar dan tak terurus seperti bulu kaki saya.? Apakah mereka sebegitu nakalnya hingga Amy kecanduan narkotika dan minuman keras? Semua terjawab dalam durasi 123 menit. Beberapa kekasih Amy memang tidak banyak dibahas, namun itu tidak banyak mempengaruhi keutuhan film. Jika saja Amy masih hidup, Saya akan menyuruhnya untuk mendengarkan lagu “Mirasantika” karya Rhoma Irama karena lagu itu membuat sebagian kecil orang bertobat, sebagian besarnya masih terus mabuk-mabukan.



Asif Kapadia sebagai sutradara mampu menggiring penonton untuk tetap mengikuti kisah hidup Amy sekaligus menanamkan simpati pada dirinya. Kesundalan Amy bukan karena sifat dasarnya, itu adalah buah dari lingkungan kurang kondusif dalam keluarga serta orang-orang terdekatnya. Asif Kapadia seolah berteriak lantang melalui rekaman suara para saksi hidup agar publik tidak langsung menghakimi sosok Amy dan terus-menerus memberi stigma negatif. Di balik pribadi yang terlihat liar, Amy hanya wanita biasa yang bisa sedih, marah dan kecewa. Jiwanya rapuh karena lingkungan negatif menyeret Amy ke tingkat yang paling dalam dan publisitas berlebihan memperparah keadaan tersebut. Semoga karya-karya Amy dapat menginspirasi banyak orang, dan semoga Rhoma Irama menghasilkan karya yang lebih berkualitas.

Share: 

1/21/2016

Resensi Film Cartel Land (2015)


Bang Napi selalu berkata, “Kejahatan tidak hanya terjadi karena niat pelakunya. Tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah,” sedangkan Cita-Citata selalu memekikkan ungkapan “Sakitnya tuh disini” lalu, bagaimana jika kedua individu itu disatukan? Cartel Land bisa jadi salah satu jawaban.

Bukan, ini bukan film dokumenter tentang Bang Napi atau Cita-Citata. Bukan pula film mengenai makhluk setengah Bang Napi setengah Cita-Citata, apalagi jika Anda mengira film ini menceritakan Bang Napi yang tobat dan berubah menjadi Cita-Citata atau sebaliknya. Cartel Land murni membahas kegiatan kartel narkotika di Meksiko dan gerakan masyarakat melawan kartel. Dua organisasi masyarakat dari dua negara berbeda, Meksiko dan Amerika Serikat, dikupas tuntas dalam film berdurasi 100 menit ini. Autodefensa dan Arizona Border Recon, nama dua kelompok tersebut, mempertahankan tanah mereka dari serangan kartel candu. Autodefensa, kelompok anti kartel asal meksiko, telah berhasil menaklukkan puluhan kota yang sebelumnya dikuasai kartel. Musuh kedua kelompok itu bukan hanya kartel, masih ada aparat yang menganggap mereka sebagai ancaman. Bahkan Autodefensa sempat dikecam oleh Presiden Meksiko. Arizona Border Recon juga tak kalah miris. Eksistensinya diklaim sudah meresahkan warga, walau tujuan mereka sangat mulia.

Dibuka dengan kemunculan beberapa orang bersenjata dibalik pakaian tertutup dengan wajah bermasker, penonton bisa merasakan atmosfer kejahatan kartel sejak awal. Kecemasan warga sipil juga ditonjolkan melalui ekspresi yang direkam dari jarak dekat. Ketegangan dalam adegan penggerebekan tokoh kartel dapat dikemas dengan baik lewat pergerakan cepat kamera dan suara-suara hentakan kecil. Kekejaman kartel dipaparkan secara gamblang dalam foto-foto korban pembunuhan kartel.

Cartel Land fokus pada beberapa sudut pandang, itulah membuat film ini unik dan tidak membosankan. Autodefensa, Arizona Border Recon, produsen narkoika, sampai para korban kebengisan kartel sukses ditampilkan mendetail, meski pada akhirnya kisah Autodefensa yang paling dominan.

Cartel Land kurang memberi porsi untuk Arizona Border Recon. Padahal, banyak poin-poin yang bisa digali dari mereka. Aksi pemberantasan kartel hanya terlihat dari pihak Autodefensa. Akan lebih menarik jika Arizona Border Recon mendapat porsi tampil lebih banyak serta ikut terekam dalam pemberangusan kartel.

Sebagai film dokumenter, kritik menohok disematkan melalui ucapan yang terlontar dari pejuang anti kartel. Apa yang bisa diharapkan dari pemerintah kalau kejahatan dibiarkan tanpa solusi? Sebagian besar kritik yang dikemukakan sangat relevan dengan peristiwa di seluruh penjuru dunia. Termasuk Indonesia. Bom yang telah menewaskan warga negara tak berdosa, aliran sesat tumbuh subur, harga bahan pokok melonjak, angka perceraian nasional dan pemerkosaan naik drastis, hampir tidak ada yang bisa diharapkan, kecuali cucu presiden yang sebentar lagi lahir. Semoga saja kehadirannya membawa berkah. Saya juga berharap pada Cita-Citata agar segera mendapat jodoh yang baik, sebaik Bang Napi yang sudah tobat.

Saya tidak bisa membayangkan reaksi warga jika terjadi kekejian kartel obat-obatan di Indonesia. Ketika ada penggerebekan atau baku tembak, saya yakin warga akan sibuk ber-selfie ria, atau menggosipkan ketampanan polisi. Tidak hanya itu, sebagian besar penduduk sekitar pasti akan mengabadikan diri mereka melalui foto pasca peristiwa di lokasi kejadian, atau berfoto bersama sang polisi ganteng. Mudah-mudahan Indonesia aman dari kartel dan kejahatannya, agar para warganya tidak kecanduan berfoto. Waspadalah terhadap kejahatan, agar Anda tidak merasakan sakit di mana-mana.


Share: 

1/13/2016

Resensi Film Going Clear: Scientology and The Prison of Belief (2015)


Anda mungkin lebih dahulu mendengar tentang Scientology melalui aktor terkenal Hollywood seperti John Travolta dan Tom Cruise. Ketika Cruise bercerai dengan Katie Holmes, banyak kabar menyebutkan bahwa salah satu penyebab perceraian mereka adalah The Church of Scientology yang terlalu mengintervensi hidup Cruise, termasuk kehidupan keluarganya. Lantas, apakah sebenarnya Scientology itu? Menilik dari namanya, Science artinya ilmu pengetahuan. Jadi, Scientology adalah keilmu-pengetahuanan. Kira-kira begitu artinya. Berarti, jika berhubungan dengan ilmu pengetahuan, siapakah para penganutnya? Apakah para ilmuwan cerdas dengan rambut hampir punah dan kacamata super tebal setebal bedak cabe-cabean? Atau mungkin para peneliti benda-benda purbakala dengan gaya khas Indiana Jones dan jarang mandi? Going Clear: Scientology and The Prison of Belief mengupas semua tentang Scientology.

Dalam film karya sutradara Alex Gibney ini, terdapat banyak wawancara-wawancara dengan sejumlah mantan penganut Scientology. Beberapa di antaranya adalah sutradara kondang Paul Haggis dan Jason Beghe, aktor yang saya kenal lewat perannya sebagai Sersan Henry “Hank” Voight dalam serial Chicago P.D. Selain itu, ditunjukkan pula video-video dari arsip The Church of Scientology. Penonton juga diajak untuk mengenal lebih dalam sosok L. Ron Hubbard, pendiri Scientology. LRH-sapaan akrab Ron Hubbard-sebelumnya dikenal sebagai penulis karya fiksi ilmiah murah dan dibayar per kata. Tak jarang dia harus membanjiri mesin ketiknya dengan keringat berliter-liter karena kerasnya dia bekerja. Sama seperti saya yang berkeringat ketika menahan kentut dalam angkot penuh penumpang. Hingga suatu hari, menurut salah satu sumber, LRH memutuskan untuk menulis buku berjudul Dianetics dan membuat agama baru untuk mendapat keuntungan finansial.


Salah satu aspek yang paling disorot film hasil adaptasi dari buku karya Lawrence Wright ini adalah kekerasan yang dialami para penganut Scientology. Saya mengingat, salah satu kekerasan tersebut adalah hukuman membersihkan toilet ketika banyak orang berlalu-lalang memasuki toilet. Jujur, saya sangat miris mendengar hukuman itu. Saya saja setelah buang hajat merasa jijik ketika melihat hajat saya sendiri. Organisasi internasional Scientology juga sangat anti pajak sampai mereka harus menyatakan perang dengan IRS, lembaga perpajakan di Amerika Serikat. Saya sangat geli setelah mendengar tentang perang anti pajak itu. Jujur, saya termasuk orang yang tidak membayar pajak karena untuk diri sendiri saja saya tidak mampu mencukupi kebutuhan, apalagi membayar pajak.



Subjektifitas bisa menjadi suatu kekuatan jika penggunannya tepat. Alex Gibney termasuk salah satu sutradara yang menggunakan subjektifitas dengan sangat tepat. Jika Anda seorang pria single dalam jangka waktu cukup panjang (baca: jomblo akut), pasti banyak yang menilai kejombloan Anda dengan sangat subjektif. Sebagian orang akan mennggunjingkan kejombloan Anda dengan berbagai sudut pandang tidak objektif. Contohnya: “Si A itu cowok tapi lama banget ya, jadi jomblo. Jangan-jangan dia nggak suka cewek, tapi suka cowok.” “Eh, cewek yang tadi itu katanya jadi jomblo sejak bapaknya kelilit utang. Cuma cowok yang bisa bayar utang bapaknya aja yang bisa jadi pasangannya. Padahal dianya juga nggak cantik. Emang ada yang mau bayar utang buat dapet cewek nggak cantik?” “Cowok sebelah rumahku kemarin katanya ngadain syukuran, syukuran jomblo perak. Soalnya udah 25 tahun jomblo. Katanya sih, dia jomblo gara-gara kerjanya serabutan. Terus wajahnya juga tidak layak pakai. Makanya sampai jomblo perak.” Masih ada banyak gosip subjektif lainnya yang mendiskreditkan kaum jomblo.



Subjektifitas Alex Gibney kurang lebih sama dengan masalah jomblo di atas, tapi lebih kuat karena diiringi dengan berbagai data-data dan rekaman pengakuan mantan anggota Organisasi Internasional Scientology. Penyiksaan anggota, kegilaan L. Ron Hubbard, pengemplangan pajak, semuanya dibahas dengan subjektifitas maksimal dan membuat film ini semakin menarik. Sebagai film dokumenter, Going Clear dapat memberi pencerahan tentang Scientology. Di sisi lain, subjektifitas yang ditampilkan mampu memperkuat segala aspek dalam film tanpa harus memaksakan diri untuk menjadi objektif.


Share: 

1/11/2016

Resensi Film The Look of Silence (2014)



Peristiwa tahun 1965 selalu menjadi topik yang menarik dan tak akan habis untuk dibahas. Kejadian-kejadian mengerikan yang terjadi pasa masa tersebut memang memiliki daya tarik tersendiri. Joshua Oppenheimer, sineas asal Amerika Serikat, membuka kembali tragedi pada masa tersebut lewat dua film dokumenternya, The Act of Killing dan The Look of Silence. The Act of Killing bahkan sukses mendapat nominasi Oscar tahun 2014 dalam kategori film dokumenter terbaik. Kali ini, saya akan membahas film kedua Oppenheimer tentang peristiwa 1965, The Look of Silence, atau Senyap dalam versi judul Bahasa Indonesia.

Adi, seorang pria paro baya yang kemungkinan berprofesi sebagai penjual kacamata karena hampir selalu membawa kacamata, adalah adik dari Ramli, salah satu korban pembantaian di Sumatera Utara karena dituding ikut dalam kegiatan komunis. Puluhan tahun setelah peristiwa tersebut, Adi lantas mengunjungi satu-persatu para pelaku pembantaian. Tidak hanya itu, Adi juga melakukan napak tilas bersama salah satu korban yang masih hidup.

Film ini memang menggambarkan dengan jelas mengenai pembantaian pada zaman itu lewat beberapa rekonstruksi adegan yang dilakukan oleh para eksekutor yang kini sudah sangat uzur. Bahkan sisa usianya bisa dihitung dengan jari. Tidak hanya rekonstruksi adegan, para pembantai juga menceritakan segala kejadian masa lalu dengan penuh semangat. Pemotongan organ tubuh, penusukan, hingga tertumpahnya darah, semuanya dijelaskan dengan penuh semangat. Saking semangatnya, kalau saja ada lomba mendongeng tingkat nasional untuk lansia, pasti para jagal tersebut akan memborong seluruh pialanya.

Walau banyak adegan yang merepresentasikan kesadisan para pembunuh tahun 1965, Joshua Oppenheimer masih menunjukkan sisi kemanusiaan pada diri mereka. Salah satu adegan menunjukkan Inong, seorang tokoh pembantaian, bermain-main dengan seekor monyet. Pembunuh macam apa yang suka bermain-main dengan monyet? Pembunuh super sadis macam Mad Dog dalam film The Raid saja tidak bermain-main dengan monyet. Selain itu, ada pula adegan dua orang mantan jagal yang memetik bunga di semak-semak dan menciuminya. Mereka terlihat seperti tukang kebun yang sedang mencuri bunga, tidak terlihat ekspresi khas jagal dalam wajah mereka ketika sedang mencium wangi bunga. Ekspresinya sangat mirip dengan ekspresi anak SD yang sedang menjilati tangannya yang penuh dengan bumbu Chitato.


Sesuai judulnya, The Look of Silence memang banyak diisi dengan tatapan-tatapan mata tanpa dialog. Setiap dua kalimat yang terlontar dari mulut para jagal atau mulut Adi, terselip tatapan-tatapan mata tanpa dialog yang cukup panjang. Bahkan, karena panjangnya durasi tatapan mata tanpa suara, saya curiga, jangan-jangan Adi sebenarnya adalah paranormal yang bisa mempengaruhi pikiran orang melalui tatapan mata.

Walau sebuah film dokumenter, The Look of Silence tetap memberikan hiburan lewat tingkah ayah dan ibu Adi. Sang ayah, lansia yang konon sudah lebih dari 100 tahun hidup di bumi, sering melakukan hal-hal konyol namun terasa menyedihkan. Salah satunya ketika menyanyi dengan suara lirih karena gigi yang sudah habis dimakan usia. Curhatan-curhatan sang ibu juga begitu menyentuh disertai beberapa dialog jenaka.


Secara keseluruhan, The Look of Silence berhasil menyuguhkan perspektif baru dalam sejarah kelam Republik Indonesia. Ekspresi dan tatapan mata minim dialog juga sukses menjadi kekuatan tersendiri. Bagi sebagian lapisan masyarakat, terutama organisasi yang mengaku organisasi kepemudaan namun diisi preman dengan kulit gelap, wajah pas-pasan tingkat dewa dan tubuh bau keringat, film ini tidak sesuai dengan perspektif mereka. Akan tetapi, bagi generasi-generasi penerus bangsa, film ini wajib ditonton untuk menambah wawasan sekaligus memberikan pandangan-pandangan baru mengenai peristiwa 1965.

Share: