Tampilkan postingan dengan label Sangat Bagus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sangat Bagus. Tampilkan semua postingan

1/02/2018

Resensi Film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)


Amarah akan selalu mengundang amarah lainnya. Pesan sederhana itu coba diangkat oleh Martin McDonagh lewat Three Billboards Outside Ebbing, Missouri. Kental akan sindiran sosial dan kegilaan Amerika Serikat khas Donald Trump, film yang dibintangi oleh Frances McDormand, Woody Harrelson dan Peter Dinklage itu memang pantas mendapat berbagai nominasi Golden Globe dan Screen Actor Guild Awards 2018 berkat kejelian McDonagh dan akting para pemerannya.

Mildred Hayes (Frances McDormand) berusaha menarik perhatian dari Kepolisian Kota Ebbing karena kasus pemerkosaan putrinya yang tak kunjung menemui titik terang hingga memaksanya untuk menyewa tiga papan iklan berukuran besar di perbatasan kota. Sheriff Bill Wiloughby (Woody Harrelson) mendengar kabar tersebut dan membuat batinnya tertekan. Para personel kepolisian lainnya juga memperparah situasi tersebut karena ketidakcakapannya dalam melakukan investigasi. Salah satu dari mereka adalah Opsir Jackson Dixon (Sam Rockwell) yang temperamental dan sering terlibat kasus penganiayaan warga kulit hitam. Seisi kota memanas pasca dipasangnya tiga papan iklan tersebut dan membuat situasi semakin tak terkendali.


Jika dilihat sekilas dari sinopsis di atas, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri mirip dengan film-film drama tentang ibu yang kehilangan buah hatinya. Namun, secara keseluruhan, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri adalah film komedi yang dengan jitu menertawakan ironi kehidupan para tokohnya. Mildred Hayes bukanlah perempuan yang mudah mengangis akibat kemalangan hidupnya, Hayes adalah perempuan keras kepala yang seolah tak peduli dengan lingkungannya. Tengok bagaimana Hayes menyulut emosi orang-orang terhormat seperti pendeta dan kepala polisi dan membuat warga satu kota benci kepadanya. Karakter yang kuat diiringi adegan unik seperti saat Hayes berbincang dengan Dixon di ruang interogasi atau ketika Wiloughby bercengkrama dengan putrinya saat piknik menambah kelucuan khas film bergenre komedi gelap.


Frances McDormand menampilkan kualitas terbaiknya sebagai orang tua tunggal yang depresi namun tetap keras kepala. Sorot matanya yang tajam namun menyimpan kesedihan sukses membuat penonton bersimpati padanya. Wiloughby yang bijaksana dan dekat dengan keluarganya diperankan dengan apik oleh Woody Harrelson. Meski sering memerankan tokoh yang jiwanya tertekan seperti dalam War for the Planet of the Apes dan The Hunger Games, Harrelson mampu memberikan pembeda dengan aktingnya di film-film terdahulunya melalui gestur dan ekspresi yang sangat tepat dalam menggambarkan suasana hati dari Wiloughby. Apresiasi paling tinggi patut diberikan pada Sam Rockwell. Kebodohan dan kecerobohan Dixon benar-benar dijiwai dengan sangat dalam oleh Rockwell. Cara Dixon berjalan, berbicara dengan rekan kerjanya sampai ocehan-ocehannya di bar sanggup mengocok perut sekaligus mengajak penonton untuk merenungi kehidupan.

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri bisa dibilang sebagai salah satu film komedi terbaik tahun 2017. Tidak hanya mampu memancing tawa dari penonton, penggambaran kondisi sosial Amerika Serikat beserta kekacauannya adalah kekuatan utama film yang juga ditulis oleh Martin Mcdonagh ini. Kritik terhadap sistem pemerintah dan masyarakat yang semakin membenci satu sama lain juga diselipkan dengan rapi oleh McDonagh. Pesan moral yang disampaikan juga sangat mudah dicerna dan tidak dipaksakan. Nominasi Oscar 2018 sangat pantas disematkan untuk Three Billboards Outside Ebbing, Missouri.




Share: 

8/27/2017

Resensi Glow - Season 1 (2017)


Di abad 21, gulat wanita sudah menjadi bagian yang lumrah di dunia olahraga. World Wrestling Entertainment (WWE) salah satu penyelenggara kompetisi gulat professional terbesar di dunia, memiliki puluhan pegulat wanita yang aktif kontraknya hingga detik ini. Belum lagi penyelenggara kompetisi lain seperti Global Force Wrestling (GFW) atau Ring of Honor (RoH). Pada medio ’80-an, muncul kompetisi gulat wanita professional pertama bernama GLOW (Gorgeous Ladies of Wrestling). Itulah yang coba diangkat oleh duet sineas perempuan Liz Flahive dan Carly Mensch. Duo kreator serial itu menampilkan 14 perempuan pegulat yang terinspirasi dari kisah nyata GLOW. Ditayangkan oleh Netflix dan dibintangi Alison Brie, GLOW bagi saya adalah salah satu serial komedi terbaik Netflix.

Ruth Wilder (Alison Brie) sudah berkali-kali gagal dalam casting di berbagai film dan serial televisi hingga suatu ketika, kesempatan datang kepadanya saat sutradara eksentrik yang biasa memproduksi film berbujet kecil dan berkualitas rendah, Sam Sylvia (Marc Maron), membutuhkan beberapa perempuan untuk berperan dalam ajang gulat wanita pertama di televisi. Ruth bertemu banyak perempuan dengan karakter yang berbeda satu sama lain. Seperti Sheila (Gayle Rankin) yang merasa dirinya adalah serigala, Arthie Premkumar (Sunita Mani) seorang gadis keturunan India yang sangat menyukai gulat, Carmen Wade (Britney Young), putri pegulat legendaris yang sedang berkonflik dengan ayahnya akibat larangan menekuni gulat, hingga Cherry Bang (Sydelle Noel), pemeran pengganti wanita yang berada dalam kesulitan ekonomi. Ruth tanpa sengaja menarik sahabatnya yang juga mantan bintang opera sabun, Debbie Eagan (Betty Gilpin) ke dalam pusaran dunia gulat akibat masalah pribadinya dengan Debbie. Ruth berusaha menampilkan kemampuan terbaiknya sebagai pegulat sembari berusaha mengakhiri pertengkarannya dengan Debbie.


Tidak mudah mengumpulkan 14 perempuan tanpa kemampuan dasar sebagai pegulat. Menempatkan mereka dalam peran pegulat professional memang perkara yang rumit. Itu adalah salah satu kekuatan yang sukses ditonjolkan oleh GLOW. Kebingungan yang terjadi karena minimnya pengalaman, jadwal yang berantakan karena pegulat yang tidak siap, hingga konflik antar pemeran tersaji dengan sangat menarik. GLOW bukanlah perang argumen lewat twitter untuk pencitraan salah satu petinggi partai baru yang masih mahasiswi itu. Bukan pula kegaduhan akibat menteri dalam negeri yang tidak becus menangani persoalannnya. GLOW merupakan gabungan komedi, drama, gulat dan kritik sosial yang berkolaborasi dengan indah, seindah duet penyanyi perempuan yang kini tengah naik daun dalam tembang Anganku Anganmu. Tengok saja adegan ketika seluruh perempuan itu berkumpul  dan menonton berita televisi mengenai pembajakan pesawat oleh teroris asal Lebanon. Sangat mewakili kondisi sosial masa kini yang memandang aksi semacam itu sebagai bumbu kehidupan yang tidak terlalu menghebohkan. Isu sensitif seperti aborsi juga ikut diangkat melalui karakter Ruth dan Sam yang bertolak belakang namun saling melengkapi.

Memuji kehebatan GLOW dalam mengemas jalan cerita terasa kurang lengkap jika tidak memuji akting para pemerannya yang mampu menampilkan kemampuan terbaiknya. Betty Gilpin sangat menjiwai perannya sebagai seorang ibu muda yang berjuang mengatasi masalah dengan suaminya yang selingkuh . Marc Maron berhasil menghadirkan seniman gagal pecandu kokain di masa tua yang ingin bangkit lewat jalur yang tidak pernah dia minati. Sam memang pribadi yang menyusahkan, penuh sinisme dan kurang menghargai orang lain, namun segala keburukan itu sanggup ditutupi oleh karisma Maron sehingga tokohnya masih sanggup dicintai oleh penonton walau perilakunya sangat mengganggu. Alison Brie juga cukup sukses menempatkan dirinya sebagai aktris kurang beruntung yang sedang terjebak dalam krisis usia 30 tahun tanpa pasangan dan nihil pekerjaan. Belum lagi para pemeran pendukung seperti Britney Young yang mampu mencuri perhatian dan Kate Nash yang menampilkan karakternya dengan apik sebagai perempuan inggris yang anggun.


Akting seluruh cast GLOW jauh lebih baik dari akting remaja hasil pencitraan para pendukung rezim ceroboh. Remaja yang terkenal karena tulisannya di Facebook itu terlihat sangat memuakkan ekspresi wajahnya. Sampai-sampai saya butuh obat mag untuk menahan rasa mual saya. Belum lagi kepemimpinan yang membunuh daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat kini lebih rendah dari nilai rata-rata rapor Nobita di Doraemon. Juga tidak lebih tinggi dari tinggi badan saya yang di bawah rata-rata. Saya bahkan termasuk lelaki  terpendek di antara pria-pria pendek lainnya.

GLOW adalah contoh serial televisi yang menggambarkan perjuangan perempuan dengan detail dan indah. Jika kualitasnya tetap terjaga, sampai musim ke-20 pun akan tetap disukai penonton. Jangan seperti kepala negara yang baru 3 tahun sudah sangat membosankan dan memancing derita.
Share: 

7/10/2017

Resensi Film Requiem for a Dream (2000)


Narkotika sudah tidak diragukan lagi bahayanya. Mulai berhalusinasi hingga kematian, efek buruk obat-obatan terlarang seolah tak habis dibahas seumur hidup. Darren Aronofsky, sutradara yang sangat populer berkat The Black Swan yang artistik dan cukup membuat galau itu pada awal karirnya menulis dan menyutradarai Requiem for a Dream. Berkisah tentang empat orang yang kecanduan obat dan dibintangi oleh Jared Leto, Marlon Wayans dan Jennifer Connelly, banyak kritikus yang merekomendasikan film layar lebar kedua Aronofsky itu sebagai film yang menggambarkan kehidupan para candu dengan detail sekaligus menguras air mata.

Berkutat pada kehidupan empat orang dalam lingkungan urban Kota New York, pasangan Harry Goldfarb (Jared Leto) dan Marion Silver (Jennifer Connelly), sahabat Harry, Tyrone C. Love (Marlon Wayans) dan ibu kandung Harry, Sara (Ellen Burstyn). Marion didukung oleh sang pacar membangun usaha garmen, namun mimpi mereka terhalang kecanduan narkotika yang semakin parah. Tyrone berusaha membantu sang sahabat dengan menjual narkotika bersama dengannya. Sedangkan Sara diberi tawaran menjadi kontestan kuis televisi dan berjuang menurunkan berat badannya agar gaun favorit suaminya muat dikenakan oleh dirinya ketika tampil di layar kaca. Sang ibu akhirnya tenggelam dalam kecanduan pil diet.


Requiem for a Dream memiliki plot yang cukup sederhana. Kehidupan para pecandu obat-obatan terlarang dan kemunduran pada hidup mereka. Naskah karya Aronofsky dan penulis novel originalnya, Hubert Selby Jr, sangat mudah dicerna dengan dialog yang tidak berbelit-belit dan mirip dengan kehidupan sehari-hari. Percakapan Harry Dengan ibunya termasuk salah satu yang terlihat sangat natural dan amat sesuai dengan realita mengenai anak laki-laki nakal yang tetap ingin membahagiakan sang ibu. Percintaan Marion dan Harry terasa begitu memabukkan secara harfiah. Iya, keduanya memang sering bercengkrama dalam keadaan mabuk narkotika. Kehebatan Jennifer Connelly sebagai pemeran Marion yang tetap anggun meski terjebak dalam candu obat sangat terlihat. Connelly piawai dalam menggambarkan ekspresi pecandu yang sedang melayang pada halusinasinya namun tetap terlihat menarik sebagai seorang wanita. Amat berbeda dengan mantan aktris yang tubuhnya kini seperti kanvas lukis. Sang aktris yang konon suka sesama jenis itu tetap terlihat tidak menarik dalam keadaan mabuk ataupun sadar. Ekspresinya tetap terlihat seperti pemabuk gagal beranak banyak yang hidup di pesisir pantai mengandalkan bantuan turis asing.

Darren Aronofsky bisa dibilang jenius dalam memainkan kamera. Bukan presiden yang suka memainkan hati rakyat, Aronofsky banyak melakukan pengambilan gambar cepat dan memvisualkan adegan ketergantungan narkotika dengan sangat apik dengan bantuan sinematografi karya Matthew Libatique. Suntikan obat, pil yang ditelan, sampai halusinasi tentang kulkas yang berjalan dapat dimaksimalkan dan menambah keindahan dari Requiem for a Dream. Adegan klimaksnya juga penuh dengan filosofi dalam balutan gambar yang indah mengenai kehidupan keempat tokohnya pasca titik puncak kecanduan mereka. Semoga saja Aronofsky mau memproduksi film yang mengeksplorasi keindahan alam Indonesia karena keindahan alam + kompetensi Aronofsky = karya menakjubkan. Sama seperti soto babat yang memiliki rumus: kuah soto + babat yang empuk dan tidak terasa seperti handuk = soto super nikmat.


Dengan terus meningkatnya korban dari obat-obatan terlarang di Indonesia, sudah sepatutnya Requiem for a Dream masuk menjadi film wajib pada penyuluhan yang diselenggarakan oleh BNN. Bahkan, kalau bisa, BNN membagikan soto babat gratis bagi peserta sosialisasi anti narkotika di seluruh Indonesia.



Share: 

5/18/2017

Resensi Film Get Out (2017)


Kehidupan masyarakat kulit hitam masih menjadi tema yang seksi untuk diangkat ke dalam karya layar lebar. Moonlight dan Fences adalah contoh kisah orang kulit hitam yang sukses menembus nominasi Oscar 2017. Moonlight bahkan dinobatkan sebagai film terbaik di ajang tersebut. Masih banyak karya tentang individu kulit hitam lainnya yang populer di tahun 2017. Get Out salah satunya. Disutradarai oleh Jordan Peele, salah satu komedian kulit hitam yang sedang naik daun dalam beberapa tahun terakhir berkat program sketsa komedi televisi yang dibintanginya bersama Keegan- Michael Key. “Hanya” menghabiskan bujet USD 4,5 juta, Get Out meraup USD 194,9 juta hingga bulan Mei 2017. Pemasukan sebanyak itu menahbiskan namanya pada sejarah perfilman Holllywood sebagai film debut dengan skenario original berpenghasilan terbesar, mengalahkan rekor 18 tahun yang dipegang The Blair Witch Project.

Chris Washington (Daniel Kaluuya), mengunjungi rumah calon mertuanya bersama sang kekasih, Rose Armitage (Allison Williams). Keluarga Armitage mempekerjakan dua orang kulit hitam berperilaku aneh, Georgina (Betty Gabriel) dan Walter (Marcus Henderson). Chris memiliki firasat buruk terhadap apa yang terjadi dalam keluarga Armitage. Ia berusaha mencari tahu tentang keluarga tersebut dibantu oleh sahabatnya yang konyol, Rod Williams (Lil Rel Howery).


Tidak banyak film komedi horror yang sukses memadukan ketegangan dan kejenakaan. Get Out termasuk salah satu yang amat baik dalam menampilkan keduanya. Dialog-dialog cerdas namun menggelitik seperti “My dad is not racist, he would vote for Obama if he can run again as a president.” Atau “They are going to use you as a sex slave!” mewarnai 103 menit film tersebut. Kelucuan yang timbul juga tidak dipaksakan seperti kebanyakan film komedi horror. Daniel Kaluuya juga sukses memerankan tokoh Chris yang cerdas dan jeli. Wajah Kaluuya sebagai Chris cukup mirip dengan wajah pria yang mencari pasangan di Tinder namun selalu gagal karena tidak ada wanita yang menyukai wajah sang lelaki.

Get Out mengangkat isu perbedaan dengan cara yang unik. Hampir semua karakter kulit putih yang muncul tidak seperti orang rasis kebanyakan dan membenci orang kulit hitam seperti jamur membenci Kalpanax atau seperti para pendukung calon gubernur yang gagal move on sehingga terus-menerus menyalahkan umat islam yang religius dan menganggap mereka adalah biang kegagalan sang calon gubernur gila. Sebagian besar dari mereka malah memuji orang-orang kulit hitam dan menganggap orang-orang kulit hitam sebagai makhluk yang sedang hits dan kuat. Namun, di balik pujian itu, mereka tidak peduli dengan perasaan orang-orang kulit hitam.

Get Out sangat cocok ditonton bersama pasangan. Apalagi bagi pasangan yang akan bertemu calon mertua masing-masing. Lebih baik lagi jika para pasangan yang menonton mau mengajak orang-orang jomblo untuk ikut menikmati karya Jordan Peele itu. Karena sebagian besar makhluk jomblo kurang mendapat hiburan kecuali ada yang mau membantu menghiburnya.



Jordan Peele benar-benar sukses mengeksplorasi komedi dalam horror dan isu rasisme yang sedang hangat-hangatnya. Peele berpotensi menjadi sutradara kulit hitam berprestasi namun tetap populer, kehebatannya bahkan bisa menandingi F.Gary Gray atau Spike Lee yang sudah malang melintang selama puluhan tahun di industri film. Saking lamanya menjadi sutradara,  wajah Spike Lee kini terlihat seperti kertas skenario kusut.

Share: 

5/04/2017

Resensi 13 Reasons Why? Season 1 (2017)


Bunuh diri adalah salah satu topik yang amat jarang diangkat ke dalam karya televisi. 13 Reasons Why? Termasuk salah satu serial televisi yang berani mengangkat kisah bunuh diri lewat pendekatan remaja. Hasil adaptasi novel berjudul sama karya Jay Asher itu disutradarai oleh nama-nama mentereng di Hollywood seperti Tom McCarthy yang pernah menakhkodai Spotlight dan Greg Arakki yang pernah menggarap Mysterious Skin. Di kursi produser eksekutif, ada Selena Gomez dan produser kawakan Steve Golin yang tangan dinginnya terlibat dalam produksi Spotlight, The Revenant dan True Detective.

Clay Jensen (Dylan Minnette) mendapat paket berisi rekaman suara Hannah Baker (Katharine Langford), teman sekolahnya yang baru saja meninggal akibat bunuh diri. Rekaman tersebut berisi 13 alasan Hannah bunuh diri. Clay harus menguak fakta tidak menyenangkan tentang teman-teman sekolahnya sekaligus bertindak demi keadilan untuk Hannah. Clay juga terpaksa menyembunyikan rekaman suara itu dari orang tuanya.


Tidak ada bunuh diri yang menyenangkan. Pesan tersebut disisipkan sepanjang 13 episode 13 Reasons Why?. Hannah yang frustasi digambarkan sangat apik dengan tata rias khas korban depresi. Tangisan-tangisan Hannah, keterkejutannya saat dikuntit, hingga canda tawanya bersama Clay benar-benar merasuk ke dalam emosi penonton namun tidak sampai masuk taraf lebay seperti sinetron-sinetron yang suka bicara sendiri dan tangis buatan hasil olesan bawang.

Karakter yang konsisten adalah kunci dari kualitas semua karya seni. 13 Reasons Why? Menampilkan kekuatan tersebut pada tiap episodenya. Clay yang pendiam namun humoris, Hannah yang depresif, Tony (Christian Navarro) yang selalu ingin membantu, hingga Zach (Ross Butler) yang berhati baik namun kurang tegas terhadap keburukan di sekitarnya. Tidak ada karakter yang terlalu menonjol dan dibuat bak dewa super baik atau iblis ekstra jahat. Semuanya wajar dan realistis. Sejahat-jahatnya Justin Foley (Brandon Flynn), dia masih sangat peduli terhadap sang kekasih dan membelanya saat ia disakiti. Clay juga bukan anak baik yang selalu patuh terhadap orangtuanya, meski dia yang paling getol membela Hannah pasca kematiannya. Berbeda dengan sinetron Indonesia yang hanya bisa menampilkan ekspresi jahat pada karakter jahat, ekspresi baik pada karakter baik, atau ekspresi kebelet pada karakter yang beser.


13 Reasons Why? Bisa dikategorikan sebagai salah satu serial drama terbaik yang dipersembahkan Netflix. Cukup banyak karya original Netflix yang berkualitas, 13 Reasons Why? masih bisa menonjol di antara karya-karya tersebut. Seperti bibir di wajah Tukul Arwana, atau kelicikan di wajah Setya Novanto. Keberanian 13 Reasons Why? patut diacungi jempol dalam mengangkat isu-isu sensitif seperti bunuh diri, kehidupan penyuka sesama jenis, sampai kekerasan dalam rumah tangga. Aktor dan aktris yang beragam dan multi etnis juga termasuk salah satu kenggulan serial yang dirilis pada 31 Maret 2017 itu. Bahkan, ada salah satu aktor keturunan Indonesia yang cukup banyak berperan. Ross Butler, nama aktor tersebut, memiliki darah Tionghoa Indonesia dari sang ibu. Butler menjadi salah satu bukti jika keturunan Tionghoa Indonesia bisa berprestasi, tidak hanya mengumpat dan menghujat seperti Gubernur DKI Jakarta yang baru saja kalah dalam pemilihan umum.


13 Reasons Why? memang bukan Master of None yang hadir hampir tanpa celah dan menjadi serial masterpiece dari Netflix. Namun, gabungan antara misteri dan drama yang mengikat emosi penonton ditambah karakter yang konsisten serta realistis sudah cukup menjadi bekal 13 Reasons Why? untuk dikenang sebagai salah satu serial drama misteri remaja terbaik sepanjang masa.



Share: 

8/04/2016

Resensi The Night of - Episode 1


Setelah berakhirnya True Detective musim kedua, HBO belum memproduksi serial detektif kelam nan realistis hingga kemunculan The Night of, sebuah miniseri yang dibintangi oleh Riz Ahmed dan John Turturro. Steve Zaillian dan Richard Price bertindak sebagai produser eksekutif, penulis skenario, sekaligus showrunner. Zaillian juga menyutradarai miniseri tersebut bersama dengan James Marsh yang pernah menyutradarai The Theory of Everything. Hasil karya Zaillian sebelumnya juga tak kalah apik. Sineas kelahiran California itu pernah menulis skenario pada film Moneyball,The Girl with the Dragon Tattoo, dan Exodus: Gods and Kings. Jajaran kru yang cukup berkualitas dan promo yang menarik membuat The Night of wajib mendapat perhatian dan pantas untuk ditonton (jika Anda memiliki waktu dan saluran HBO di rumah, atau mengunduh ilegal seperti kebanyakan penyuka film seperti saya dengan kondisi keuangan yang sangat mepet, jauh lebih mepet dari tempat parkir sepeda motor di mal ketika menjelang lebaran).

Nasir Khan (Riz Ahmed) hidup dalam keluarga muslim Pakistan di New York. Sang ayah, Salman Khan (Peyman Moaadi) adalah sopir taksi yang harus berbagi pendapatan dengan dua rekannya. Sang ibu, Safar Khan (Poorna Jagannathan) adalah pedagang kain di pasar. Hidup Naz-sapaan akrab Nasir Khan- berubah ketika dia bertemu Andrea Cornish (Sofia Black D’Elia) perempuan yang masuk ke taksi yang saat itu dikemudikan oleh Naz. Sosok Andrea yang nakal namun cantik dan sangat menarik membuat Naz menyetujui permintaan Andrea untuk bermalam di rumahnya. Nahas, dini hari saat Naz bangun, Andrea sudah tidak bernyawa dengan banyak tusukan di tubuh. Naz pun harus berurusan dengan Detektif Dennis Box (Bill Camp), polisi yang menangani kasus tersebut.


Penampilan Riz Ahmed yang sebelumnya pernah bermain di film Nightcrawler sukses mencuri perhatian. Karakter Naz yang canggung dengan emosi yang tidak stabil sangat cocok diperankan oleh Ahmed. Kecanggungan Naz mengingatkan saya pada masa kecil saya. Dulu, saya adalah bocah canggung namun banyak omong. Kombinasi kedua sifat tersebut membuat saya terlihat bodoh. Luar biasa bodoh. Kalau diingat kembali, mungkin saya adalah versi nyata Harry dan Lloyd dalam Dumb and Dumber.


Kemunculan John Turturro yang hanya sesaat pada episode pertama sedikit mengurangi intensitas cerita, tapi cukup membantu membangun plot untuk episode selanjutnya. Gerak tubuh, cara bicara, dan gaya busana John Stone, nama tokoh yang diperankan oleh Turturro, memiliki ciri khas tersendiri. Terutama kakinya yang mengidap penyakit aneh sehingga kakinya terlihat seperti kaki orang yang tidur di kebun tanpa obat nyamuk dan autan. Gaya bicaranya juga mirip pria mabuk yang baru kehilangan pekerjaannya akibat direshuffle oleh presiden.

Share: 

2/16/2016

Resensi Film Spotlight (2015)


Tahun 2001, editor-in-chief baru di kantor berita The Boston Globe, Marty Baron (Liev Schreiber), tertarik dengan kolom mengenai seorang kardinal yang dituduh mengetahui pencabulan yang dilakukan pastor Geoghan. Baron meminta Walter “Robby” Robinson (Michael Keaton), ketua tim investigasi Spotlight yang memiliki spesialisasi dalam penulisan artikel investigasi tingkat tinggi untuk mengusut kasus itu. Robby dan anggotanya, Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), dan Matt Carroll (Brian d’Arcy James) berusaha melakukan investigasi. Mereka mendekati berbagai individu seperti pengacara Mitchell Garabidien (Stanley Tucci), psikoterapis Richard Sipe (Richard Jenkins), dan anggota jaringan korban pelecehan pastor Phil Saviano (Neal Huff). Ternyata kasus tersebut memunculkan banyak fakta mengejutkan.

Pelecehan seksual seolah sudah menjadi masalah yang sangat umum. Institusi pendidikan, kesehatan, lingkungan masyarakat hingga lembaga keagamaan hampir setiap hari mengisi pemberitaan media massa lewat kasus pelecehan seksual. Jumlah pelaku juga tidak kunjung turun, malah mengalami kenaikan. Investigasi tim Spotlight berfokus pada problematika di atas. Wawancara, analisa dokumen dan arsip, sampai pengamatan melalui berita-berita masa lampau bermuara pada satu tujuan. Tom McCarthy sebagai sutradara dapat mengajak penonton memahami perjuangan para kuli tinta. Penolakan wawancara karena pengaruh dari keluarga atau kerabat, waktu yang semakin singkat, konfrontasi antar wartawan, dan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab digambarkan dengan sangat brilian.


Akting para pemeran patut diapresiasi. Karakter mereka yang berbeda satu sama lain namun tetap terlihat padu berhasil memukau penonton. Penghargaan Screen Actors Guild Awards untuk seluruh aktor dan aktris yang terlibat dalam Spotlight pantas mereka raih. Karakter Michael Rezendes yang diperankan Mark Ruffalo cukup mencuri perhatian. Sebagai jurnalis ambisius dengan emosi yang kadang meledak-ledak, Ruffalo dapat mencerminkan watak tersebut melalui ekspresi wajah dan gestur tubuh. Rachel McAdams juga tak ketinggalan menampilkan salah satu performa terbaiknya sepanjang karir sang aktris.

Spotlight meninggalkan tanda tanya besar untuk penonton. Bagaimana cara menghentikan segala kejahatan seksual yang kini seakan tak pernah putus? Saya tak bisa menjawabnya. Saya bukan ahli kesehatan atau seksolog macam Boyke yang agak keperempuan-perempuanan itu. Saya juga bukan Ryan Thamrin yang tampil di program kesehatan salah satu televisi swasta tiap pekan dan kini membintangi iklan air mineral yang konon rasanya manis, semanis sirup Maridjan rasa stroberi. Saya hanya seorang jomlo yang tidak keperempuan-perempuanan (baca: ngondek) dan tidak pula tampan. Saya juga bukan bintang iklan air mineral manis atau iklan sirup Maridjan.



Semoga kasus pencabulan bisa ditekan semaksimal mungkin, dan semoga para pelaku pencabulan dihukum seberat mungkin. Karena saya percaya, seburuk-buruknya orang yang tidak cabul, masih lebih buruk orang yang cabul.


Share: 

1/27/2016

Resensi Film Amy (2015)



Mana yang lebih buruk, seorang ayah yang meninggalkan keluarganya dan selingkuh dengan perempuan lain, atau seorang laki-laki nakal sekaligus suami yang menjerumuskan istrinya? Bagi saya, keduanya sama-sama buruk. Kedua individu itulah yang membuat Amy Winehouse masuk ke dalam lingkaran setan berupa obat-obatan terlarang dan minuman keras hingga menjadikannya sosok wanita depresi semi cabe-cabean.

Amy Winehouse tidak lahir dari keluarga ideal dan penuh kedamaian. Ayahnya, Mitchell Winehouse, berselingkuh dari ibu Amy ketika ia masih kecil dan jarang berada di dekat anak-istrinya. Pada usia belasan tahun, Amy sempat ketergantungan obat penenang. Mantan suaminya, Blake Fielder, pernah menginap di lembaga permasyarakatan. Amy juga pernah direhabilitasi akibat ketergantungan narkotika. Di samping berita negatif yang sering menerpa, Amy Winehouse sangat sukses lewat musik soul, jazz, dan RnB. Lima Grammy Awards tahun 2008 untuk album Back to Black membuktikan kehebatan Amy di bidang musik. Hingga kematiannya pada 23 Juli 2011, Amy Winehouse akan selalu dikenang berkat talentanya sebagai musisi dan masalah hidup yang sangat fenomenal.


Penonton diajak meresapi kehidupan sang bintang melalui video dan foto-foto Amy Winehouse sejak kecil sampai akhir hayatnya. Video Amy ketika berusia 14 tahun sedang menyanyi ditemani sahabatnya, Juliette Ashby benar-benar memukau karena sisi lain dari Amy Winehouse ada di dalam video itu. Seorang Amy Winehouse yang periang, aktif, murah senyum, dan tidak terlihat muram. Suara Amy juga terdengar unik dan amat merdu. Tidak seperti suara saya. Saya yakin, orang tuli yang mendengar saya menyanyi pasti langsung menutup telinganya dengan kapas super tebal.

Kehidupan cintanya dengan beberapa lelaki yang (kelihatannya) sama-sama nakal dan tidak tahu diri menimbulkan rasa penasaran. Seberapa parahnya mereka hingga seorang Amy Winehouse menjadi sangat liar dan tak terurus seperti bulu kaki saya.? Apakah mereka sebegitu nakalnya hingga Amy kecanduan narkotika dan minuman keras? Semua terjawab dalam durasi 123 menit. Beberapa kekasih Amy memang tidak banyak dibahas, namun itu tidak banyak mempengaruhi keutuhan film. Jika saja Amy masih hidup, Saya akan menyuruhnya untuk mendengarkan lagu “Mirasantika” karya Rhoma Irama karena lagu itu membuat sebagian kecil orang bertobat, sebagian besarnya masih terus mabuk-mabukan.



Asif Kapadia sebagai sutradara mampu menggiring penonton untuk tetap mengikuti kisah hidup Amy sekaligus menanamkan simpati pada dirinya. Kesundalan Amy bukan karena sifat dasarnya, itu adalah buah dari lingkungan kurang kondusif dalam keluarga serta orang-orang terdekatnya. Asif Kapadia seolah berteriak lantang melalui rekaman suara para saksi hidup agar publik tidak langsung menghakimi sosok Amy dan terus-menerus memberi stigma negatif. Di balik pribadi yang terlihat liar, Amy hanya wanita biasa yang bisa sedih, marah dan kecewa. Jiwanya rapuh karena lingkungan negatif menyeret Amy ke tingkat yang paling dalam dan publisitas berlebihan memperparah keadaan tersebut. Semoga karya-karya Amy dapat menginspirasi banyak orang, dan semoga Rhoma Irama menghasilkan karya yang lebih berkualitas.

Share: 

1/13/2016

Resensi Film Going Clear: Scientology and The Prison of Belief (2015)


Anda mungkin lebih dahulu mendengar tentang Scientology melalui aktor terkenal Hollywood seperti John Travolta dan Tom Cruise. Ketika Cruise bercerai dengan Katie Holmes, banyak kabar menyebutkan bahwa salah satu penyebab perceraian mereka adalah The Church of Scientology yang terlalu mengintervensi hidup Cruise, termasuk kehidupan keluarganya. Lantas, apakah sebenarnya Scientology itu? Menilik dari namanya, Science artinya ilmu pengetahuan. Jadi, Scientology adalah keilmu-pengetahuanan. Kira-kira begitu artinya. Berarti, jika berhubungan dengan ilmu pengetahuan, siapakah para penganutnya? Apakah para ilmuwan cerdas dengan rambut hampir punah dan kacamata super tebal setebal bedak cabe-cabean? Atau mungkin para peneliti benda-benda purbakala dengan gaya khas Indiana Jones dan jarang mandi? Going Clear: Scientology and The Prison of Belief mengupas semua tentang Scientology.

Dalam film karya sutradara Alex Gibney ini, terdapat banyak wawancara-wawancara dengan sejumlah mantan penganut Scientology. Beberapa di antaranya adalah sutradara kondang Paul Haggis dan Jason Beghe, aktor yang saya kenal lewat perannya sebagai Sersan Henry “Hank” Voight dalam serial Chicago P.D. Selain itu, ditunjukkan pula video-video dari arsip The Church of Scientology. Penonton juga diajak untuk mengenal lebih dalam sosok L. Ron Hubbard, pendiri Scientology. LRH-sapaan akrab Ron Hubbard-sebelumnya dikenal sebagai penulis karya fiksi ilmiah murah dan dibayar per kata. Tak jarang dia harus membanjiri mesin ketiknya dengan keringat berliter-liter karena kerasnya dia bekerja. Sama seperti saya yang berkeringat ketika menahan kentut dalam angkot penuh penumpang. Hingga suatu hari, menurut salah satu sumber, LRH memutuskan untuk menulis buku berjudul Dianetics dan membuat agama baru untuk mendapat keuntungan finansial.


Salah satu aspek yang paling disorot film hasil adaptasi dari buku karya Lawrence Wright ini adalah kekerasan yang dialami para penganut Scientology. Saya mengingat, salah satu kekerasan tersebut adalah hukuman membersihkan toilet ketika banyak orang berlalu-lalang memasuki toilet. Jujur, saya sangat miris mendengar hukuman itu. Saya saja setelah buang hajat merasa jijik ketika melihat hajat saya sendiri. Organisasi internasional Scientology juga sangat anti pajak sampai mereka harus menyatakan perang dengan IRS, lembaga perpajakan di Amerika Serikat. Saya sangat geli setelah mendengar tentang perang anti pajak itu. Jujur, saya termasuk orang yang tidak membayar pajak karena untuk diri sendiri saja saya tidak mampu mencukupi kebutuhan, apalagi membayar pajak.



Subjektifitas bisa menjadi suatu kekuatan jika penggunannya tepat. Alex Gibney termasuk salah satu sutradara yang menggunakan subjektifitas dengan sangat tepat. Jika Anda seorang pria single dalam jangka waktu cukup panjang (baca: jomblo akut), pasti banyak yang menilai kejombloan Anda dengan sangat subjektif. Sebagian orang akan mennggunjingkan kejombloan Anda dengan berbagai sudut pandang tidak objektif. Contohnya: “Si A itu cowok tapi lama banget ya, jadi jomblo. Jangan-jangan dia nggak suka cewek, tapi suka cowok.” “Eh, cewek yang tadi itu katanya jadi jomblo sejak bapaknya kelilit utang. Cuma cowok yang bisa bayar utang bapaknya aja yang bisa jadi pasangannya. Padahal dianya juga nggak cantik. Emang ada yang mau bayar utang buat dapet cewek nggak cantik?” “Cowok sebelah rumahku kemarin katanya ngadain syukuran, syukuran jomblo perak. Soalnya udah 25 tahun jomblo. Katanya sih, dia jomblo gara-gara kerjanya serabutan. Terus wajahnya juga tidak layak pakai. Makanya sampai jomblo perak.” Masih ada banyak gosip subjektif lainnya yang mendiskreditkan kaum jomblo.



Subjektifitas Alex Gibney kurang lebih sama dengan masalah jomblo di atas, tapi lebih kuat karena diiringi dengan berbagai data-data dan rekaman pengakuan mantan anggota Organisasi Internasional Scientology. Penyiksaan anggota, kegilaan L. Ron Hubbard, pengemplangan pajak, semuanya dibahas dengan subjektifitas maksimal dan membuat film ini semakin menarik. Sebagai film dokumenter, Going Clear dapat memberi pencerahan tentang Scientology. Di sisi lain, subjektifitas yang ditampilkan mampu memperkuat segala aspek dalam film tanpa harus memaksakan diri untuk menjadi objektif.


Share: 

1/11/2016

Resensi Film The Look of Silence (2014)



Peristiwa tahun 1965 selalu menjadi topik yang menarik dan tak akan habis untuk dibahas. Kejadian-kejadian mengerikan yang terjadi pasa masa tersebut memang memiliki daya tarik tersendiri. Joshua Oppenheimer, sineas asal Amerika Serikat, membuka kembali tragedi pada masa tersebut lewat dua film dokumenternya, The Act of Killing dan The Look of Silence. The Act of Killing bahkan sukses mendapat nominasi Oscar tahun 2014 dalam kategori film dokumenter terbaik. Kali ini, saya akan membahas film kedua Oppenheimer tentang peristiwa 1965, The Look of Silence, atau Senyap dalam versi judul Bahasa Indonesia.

Adi, seorang pria paro baya yang kemungkinan berprofesi sebagai penjual kacamata karena hampir selalu membawa kacamata, adalah adik dari Ramli, salah satu korban pembantaian di Sumatera Utara karena dituding ikut dalam kegiatan komunis. Puluhan tahun setelah peristiwa tersebut, Adi lantas mengunjungi satu-persatu para pelaku pembantaian. Tidak hanya itu, Adi juga melakukan napak tilas bersama salah satu korban yang masih hidup.

Film ini memang menggambarkan dengan jelas mengenai pembantaian pada zaman itu lewat beberapa rekonstruksi adegan yang dilakukan oleh para eksekutor yang kini sudah sangat uzur. Bahkan sisa usianya bisa dihitung dengan jari. Tidak hanya rekonstruksi adegan, para pembantai juga menceritakan segala kejadian masa lalu dengan penuh semangat. Pemotongan organ tubuh, penusukan, hingga tertumpahnya darah, semuanya dijelaskan dengan penuh semangat. Saking semangatnya, kalau saja ada lomba mendongeng tingkat nasional untuk lansia, pasti para jagal tersebut akan memborong seluruh pialanya.

Walau banyak adegan yang merepresentasikan kesadisan para pembunuh tahun 1965, Joshua Oppenheimer masih menunjukkan sisi kemanusiaan pada diri mereka. Salah satu adegan menunjukkan Inong, seorang tokoh pembantaian, bermain-main dengan seekor monyet. Pembunuh macam apa yang suka bermain-main dengan monyet? Pembunuh super sadis macam Mad Dog dalam film The Raid saja tidak bermain-main dengan monyet. Selain itu, ada pula adegan dua orang mantan jagal yang memetik bunga di semak-semak dan menciuminya. Mereka terlihat seperti tukang kebun yang sedang mencuri bunga, tidak terlihat ekspresi khas jagal dalam wajah mereka ketika sedang mencium wangi bunga. Ekspresinya sangat mirip dengan ekspresi anak SD yang sedang menjilati tangannya yang penuh dengan bumbu Chitato.


Sesuai judulnya, The Look of Silence memang banyak diisi dengan tatapan-tatapan mata tanpa dialog. Setiap dua kalimat yang terlontar dari mulut para jagal atau mulut Adi, terselip tatapan-tatapan mata tanpa dialog yang cukup panjang. Bahkan, karena panjangnya durasi tatapan mata tanpa suara, saya curiga, jangan-jangan Adi sebenarnya adalah paranormal yang bisa mempengaruhi pikiran orang melalui tatapan mata.

Walau sebuah film dokumenter, The Look of Silence tetap memberikan hiburan lewat tingkah ayah dan ibu Adi. Sang ayah, lansia yang konon sudah lebih dari 100 tahun hidup di bumi, sering melakukan hal-hal konyol namun terasa menyedihkan. Salah satunya ketika menyanyi dengan suara lirih karena gigi yang sudah habis dimakan usia. Curhatan-curhatan sang ibu juga begitu menyentuh disertai beberapa dialog jenaka.


Secara keseluruhan, The Look of Silence berhasil menyuguhkan perspektif baru dalam sejarah kelam Republik Indonesia. Ekspresi dan tatapan mata minim dialog juga sukses menjadi kekuatan tersendiri. Bagi sebagian lapisan masyarakat, terutama organisasi yang mengaku organisasi kepemudaan namun diisi preman dengan kulit gelap, wajah pas-pasan tingkat dewa dan tubuh bau keringat, film ini tidak sesuai dengan perspektif mereka. Akan tetapi, bagi generasi-generasi penerus bangsa, film ini wajib ditonton untuk menambah wawasan sekaligus memberikan pandangan-pandangan baru mengenai peristiwa 1965.

Share: 

12/13/2015

Resensi Film Inside Out (2015)


Pernahkah Anda merasa senang setelah membuka tutup botol berhadiah Rp 1 milyar, lalu tiba-tiba sedih karena Anda tidak sengaja membuang tutup botol tersebut, tak lama kemudian Anda marah pada diri sendiri karena rencananya uang tersebut dipakai untuk membayar cicilan motor yang sudah menunggak 8 tahun. Belum lagi cicilan rumah dengan tunggakan 5 tahun, cicilan ponsel, televisi, sepatu, tas, jaket, topi, sarung, serta hutang-hutang makanan dan minuman yang belum dibayar ke warung terdekat.

Jika ada pernah merasakan perubahan emosi seperti contoh di atas, itu juga yang dialami Riley Andersen, tokoh utama film Inside Out. Riley yang disuarakan oleh Kaitlyn Dias adalah seorang anak dengan lima jenis emosi yang mengendalikan otaknya melalui sebuah ruang kendali, Joy (Amy Poehler), Sadness (Phyllis Smith), Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black), dan Disgust (Mindy Kaling). Riley mengalami masa-masa sulit pada hidupnya ketika harus pindah dari kota kelahirannya dari Minnesota ke San Fransisco karena ayahnya (Kyle MacLachlan) mendapat pekerjaan baru. Dalam proses adaptasi dengan lingkungan baru, terjadi kecelakaan di dalam ruang kendali otak Riley. Kecelakaan tersebut membuat Joy dan Sadness “terlempar” keluar dari ruang kendali, sama seperti seorang laki-laki yang terlempar alias dicampakkan oleh seorang perempuan karena wajahnya terlalu pas-pasan, kedua karakter yang berbeda jauh itu harus berjuang untuk memperbaiki keadaan dan mengembalikan diri mereka ke ruang kendali.


Saya sangat menyukai film yang bisa membawa penonton merasakan perasaan yang sama dengan karakter dalam film dan Inside Out berhasil melakukannya. Sejak awal hingga akhir, penonton merasakan simpati teramat dalam pada sosok Riley. Seorang remaja perempuan baik-baik, bukan seorang alay, bukan cabe-cabean, bukan anak Setya Novanto, bukan pula NM atau PR. Dengan masa-masa sulit yang harus dihadapi, salah satunya ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah baru, membuat saya merasa kasihan padanya. Saya bisa merasakan hal yang sama karena saya sering mengalami masa sulit sebagai seorang jomblo. Ketika malam minggu tiba, pria yang memiliki pacar bisa berduaan dengan pacarnya dan mengelus-elus rambut sang perempuan. Saya hanya bisa berduaan dengan komputer saya, menonton film mengenai orang yang sedang jatuh cinta sambil mengelus-elus bulu hidung saya sendiri. Rasanya begitu sepi. Jika pria dengan pasangan bisa berfoto dengan pasangannya pada malam minggu, saya hanya bisa berfoto dengan poster Nabilah JKT48, sembari berharap suatu hari nanti Nabilah bisa mengenal saya.

Film ini juga diperkuat dengan animasi yang spektakuler dan terasa sangat realistis. Salah satunya adalah animasi yang menggambarkan lingkungan tempat Riley tinggal. Pete Docter sebagai sutradara juga sukses memanfaatkan persona para pengisi suara. Lewis Black yang terkenal dengan persona marah-marahnya berhasil membuat peran Anger semakin melekat di hati penonton dengan suara khasnya.  Phyllis Smith sebagai pengisi suara Sadness membuat saya bisa merasakan kesedihan mendalam, sedalam kesedihan yang saya derita setiap malam minggu.



Meski sebuah film animasi, seluruh cerita dalam film sangat relevan dengan realita kehidupan. Salah satunya dalam adegan Riley sedang marah di meja makan. Dengan relevansi yang begitu tinggi, penonton tidak hanya menonton film, tetapi juga bisa memahami kehidupan lewat alur yang sangat indah dan rapi. Saya sangat berharap film ini bisa meraih penghargaan sebagai animated feature film terbaik di ajang Golden Globe dan Oscar yang segera diselenggarakan pada awal 2016.

Share: 

12/02/2015

Resensi Film The Gift (2015)


Pertama kali melihat poster filmnya, saya kira film ini dibintangi oleh Luis Suarez, penggawa Barcelona dengan gigitan khasnya itu. Raut mukanya, mata tajamnya, cambang tebalnya, anting kiri khas terong-terongannya. Semua begitu mirip dengan Suarez. Namun, dugaan saya salah. Orang dalam poster film dan sedang memegang kado itu tak lain adalah Joel Edgerton. Sutradara, penulis skenario, sekaligus pemeran dalam film yang dirilis ketika saya masih jomblo itu.

Kehidupan pasangan Simon (Jason Bateman) dan Robyn Callum (Rebecca Hall) sedang dalam masa transisi ke lingkungan baru. Persis seperti PSSI yang sedang dalam masa transisi tanpa solusi jelas. Ketika mereka berdua sedang berbelanja, seorang pria bernama Gordon Moseley (Joel Edgerton), mendekati Simon dan mengaku sebagai teman SMA nya. Setelah pertemuan tersebut, Gordo-sapaan akrab Gordon Moseley-datang ke rumah Simon, makan malam bersama dia dan istrinya, datang ke rumah tanpa diundang, persis seperti jaelangkung. Bahkan mengirimkan hadiah, salah satunya ikan koi beserta makanannya. Jika saja Simon bukan orang kaya dengan rumah yang cukup mewah, mungkin Gordo akan mengirim ikan cupang untuk simon, ikan sapu-sapu, atau bahkan kecebong.


Kebaikan Gordo dengan hadiah-hadiahnya membuat Simon merasa tak nyaman. Namun Robyn, sang istri, menganggap perasaan Simon sebagai sesuatu yang berlebihan, sama berlebihnya dengan lemak pada tubuh orang obesitas. Inilah yang membuat The Gift terasa menegangkan. Kecurigaan, rasa tidak nyaman, galau, dan was-was yang menghinggapi diri pasangan itu bak kecoak terbang yang tiba-tiba hinggap di kepala. Begitu menakutkan dan membuat perasaan tidak nyaman. Joel Edgerton sebagai sutradara cukup berhasil membawa perasaan tidak enak pada kedua karakter suami-istri itu dan membuat penonton mengikuti alur cerita hingga adegan terakhir.

Karakter Gordo dengan segala kebaikannya memang terlihat sangat mencurigakan dan sukses menanamkan ketegangan pada pikiran penonton. Gordo memang terlihat seperti lelaki kikuk dengan sejuta misteri, sama seperti pengemudi Lamborghini dengan satu korban jiwa yang ternyata juga menyimpan sejuta misteri dalam kehidupannya.



Kelebihan lain film ini adalah kritik sosial dan pesan moral yang begitu kuat. Salah satunya pesan tentang pertanggungjawaban pada segala yang terjadi di masa lalu. Seperti salah satu quote yang diucapkan Gordo, “See, You’re done with the past, but the past is not done with you.” Karena apapun yang terjadi pada masa lampau, pasti manusia harus bertanggung jawab. Contohnya, ketika Anda mengupil, lalu dengan sengaja membuang upil Anda sekaligus menyia-nyiakan upil tersebut, bisa jadi upil yang Anda sia-siakan itu akan membalas perbuatan Anda. Salah satunya dengan bertransformasi menjadi upil terbang dan hinggap di kepala Anda.

Share: