Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan

1/02/2018

Resensi Film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)


Amarah akan selalu mengundang amarah lainnya. Pesan sederhana itu coba diangkat oleh Martin McDonagh lewat Three Billboards Outside Ebbing, Missouri. Kental akan sindiran sosial dan kegilaan Amerika Serikat khas Donald Trump, film yang dibintangi oleh Frances McDormand, Woody Harrelson dan Peter Dinklage itu memang pantas mendapat berbagai nominasi Golden Globe dan Screen Actor Guild Awards 2018 berkat kejelian McDonagh dan akting para pemerannya.

Mildred Hayes (Frances McDormand) berusaha menarik perhatian dari Kepolisian Kota Ebbing karena kasus pemerkosaan putrinya yang tak kunjung menemui titik terang hingga memaksanya untuk menyewa tiga papan iklan berukuran besar di perbatasan kota. Sheriff Bill Wiloughby (Woody Harrelson) mendengar kabar tersebut dan membuat batinnya tertekan. Para personel kepolisian lainnya juga memperparah situasi tersebut karena ketidakcakapannya dalam melakukan investigasi. Salah satu dari mereka adalah Opsir Jackson Dixon (Sam Rockwell) yang temperamental dan sering terlibat kasus penganiayaan warga kulit hitam. Seisi kota memanas pasca dipasangnya tiga papan iklan tersebut dan membuat situasi semakin tak terkendali.


Jika dilihat sekilas dari sinopsis di atas, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri mirip dengan film-film drama tentang ibu yang kehilangan buah hatinya. Namun, secara keseluruhan, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri adalah film komedi yang dengan jitu menertawakan ironi kehidupan para tokohnya. Mildred Hayes bukanlah perempuan yang mudah mengangis akibat kemalangan hidupnya, Hayes adalah perempuan keras kepala yang seolah tak peduli dengan lingkungannya. Tengok bagaimana Hayes menyulut emosi orang-orang terhormat seperti pendeta dan kepala polisi dan membuat warga satu kota benci kepadanya. Karakter yang kuat diiringi adegan unik seperti saat Hayes berbincang dengan Dixon di ruang interogasi atau ketika Wiloughby bercengkrama dengan putrinya saat piknik menambah kelucuan khas film bergenre komedi gelap.


Frances McDormand menampilkan kualitas terbaiknya sebagai orang tua tunggal yang depresi namun tetap keras kepala. Sorot matanya yang tajam namun menyimpan kesedihan sukses membuat penonton bersimpati padanya. Wiloughby yang bijaksana dan dekat dengan keluarganya diperankan dengan apik oleh Woody Harrelson. Meski sering memerankan tokoh yang jiwanya tertekan seperti dalam War for the Planet of the Apes dan The Hunger Games, Harrelson mampu memberikan pembeda dengan aktingnya di film-film terdahulunya melalui gestur dan ekspresi yang sangat tepat dalam menggambarkan suasana hati dari Wiloughby. Apresiasi paling tinggi patut diberikan pada Sam Rockwell. Kebodohan dan kecerobohan Dixon benar-benar dijiwai dengan sangat dalam oleh Rockwell. Cara Dixon berjalan, berbicara dengan rekan kerjanya sampai ocehan-ocehannya di bar sanggup mengocok perut sekaligus mengajak penonton untuk merenungi kehidupan.

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri bisa dibilang sebagai salah satu film komedi terbaik tahun 2017. Tidak hanya mampu memancing tawa dari penonton, penggambaran kondisi sosial Amerika Serikat beserta kekacauannya adalah kekuatan utama film yang juga ditulis oleh Martin Mcdonagh ini. Kritik terhadap sistem pemerintah dan masyarakat yang semakin membenci satu sama lain juga diselipkan dengan rapi oleh McDonagh. Pesan moral yang disampaikan juga sangat mudah dicerna dan tidak dipaksakan. Nominasi Oscar 2018 sangat pantas disematkan untuk Three Billboards Outside Ebbing, Missouri.




Share: 

8/27/2017

Resensi Glow - Season 1 (2017)


Di abad 21, gulat wanita sudah menjadi bagian yang lumrah di dunia olahraga. World Wrestling Entertainment (WWE) salah satu penyelenggara kompetisi gulat professional terbesar di dunia, memiliki puluhan pegulat wanita yang aktif kontraknya hingga detik ini. Belum lagi penyelenggara kompetisi lain seperti Global Force Wrestling (GFW) atau Ring of Honor (RoH). Pada medio ’80-an, muncul kompetisi gulat wanita professional pertama bernama GLOW (Gorgeous Ladies of Wrestling). Itulah yang coba diangkat oleh duet sineas perempuan Liz Flahive dan Carly Mensch. Duo kreator serial itu menampilkan 14 perempuan pegulat yang terinspirasi dari kisah nyata GLOW. Ditayangkan oleh Netflix dan dibintangi Alison Brie, GLOW bagi saya adalah salah satu serial komedi terbaik Netflix.

Ruth Wilder (Alison Brie) sudah berkali-kali gagal dalam casting di berbagai film dan serial televisi hingga suatu ketika, kesempatan datang kepadanya saat sutradara eksentrik yang biasa memproduksi film berbujet kecil dan berkualitas rendah, Sam Sylvia (Marc Maron), membutuhkan beberapa perempuan untuk berperan dalam ajang gulat wanita pertama di televisi. Ruth bertemu banyak perempuan dengan karakter yang berbeda satu sama lain. Seperti Sheila (Gayle Rankin) yang merasa dirinya adalah serigala, Arthie Premkumar (Sunita Mani) seorang gadis keturunan India yang sangat menyukai gulat, Carmen Wade (Britney Young), putri pegulat legendaris yang sedang berkonflik dengan ayahnya akibat larangan menekuni gulat, hingga Cherry Bang (Sydelle Noel), pemeran pengganti wanita yang berada dalam kesulitan ekonomi. Ruth tanpa sengaja menarik sahabatnya yang juga mantan bintang opera sabun, Debbie Eagan (Betty Gilpin) ke dalam pusaran dunia gulat akibat masalah pribadinya dengan Debbie. Ruth berusaha menampilkan kemampuan terbaiknya sebagai pegulat sembari berusaha mengakhiri pertengkarannya dengan Debbie.


Tidak mudah mengumpulkan 14 perempuan tanpa kemampuan dasar sebagai pegulat. Menempatkan mereka dalam peran pegulat professional memang perkara yang rumit. Itu adalah salah satu kekuatan yang sukses ditonjolkan oleh GLOW. Kebingungan yang terjadi karena minimnya pengalaman, jadwal yang berantakan karena pegulat yang tidak siap, hingga konflik antar pemeran tersaji dengan sangat menarik. GLOW bukanlah perang argumen lewat twitter untuk pencitraan salah satu petinggi partai baru yang masih mahasiswi itu. Bukan pula kegaduhan akibat menteri dalam negeri yang tidak becus menangani persoalannnya. GLOW merupakan gabungan komedi, drama, gulat dan kritik sosial yang berkolaborasi dengan indah, seindah duet penyanyi perempuan yang kini tengah naik daun dalam tembang Anganku Anganmu. Tengok saja adegan ketika seluruh perempuan itu berkumpul  dan menonton berita televisi mengenai pembajakan pesawat oleh teroris asal Lebanon. Sangat mewakili kondisi sosial masa kini yang memandang aksi semacam itu sebagai bumbu kehidupan yang tidak terlalu menghebohkan. Isu sensitif seperti aborsi juga ikut diangkat melalui karakter Ruth dan Sam yang bertolak belakang namun saling melengkapi.

Memuji kehebatan GLOW dalam mengemas jalan cerita terasa kurang lengkap jika tidak memuji akting para pemerannya yang mampu menampilkan kemampuan terbaiknya. Betty Gilpin sangat menjiwai perannya sebagai seorang ibu muda yang berjuang mengatasi masalah dengan suaminya yang selingkuh . Marc Maron berhasil menghadirkan seniman gagal pecandu kokain di masa tua yang ingin bangkit lewat jalur yang tidak pernah dia minati. Sam memang pribadi yang menyusahkan, penuh sinisme dan kurang menghargai orang lain, namun segala keburukan itu sanggup ditutupi oleh karisma Maron sehingga tokohnya masih sanggup dicintai oleh penonton walau perilakunya sangat mengganggu. Alison Brie juga cukup sukses menempatkan dirinya sebagai aktris kurang beruntung yang sedang terjebak dalam krisis usia 30 tahun tanpa pasangan dan nihil pekerjaan. Belum lagi para pemeran pendukung seperti Britney Young yang mampu mencuri perhatian dan Kate Nash yang menampilkan karakternya dengan apik sebagai perempuan inggris yang anggun.


Akting seluruh cast GLOW jauh lebih baik dari akting remaja hasil pencitraan para pendukung rezim ceroboh. Remaja yang terkenal karena tulisannya di Facebook itu terlihat sangat memuakkan ekspresi wajahnya. Sampai-sampai saya butuh obat mag untuk menahan rasa mual saya. Belum lagi kepemimpinan yang membunuh daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat kini lebih rendah dari nilai rata-rata rapor Nobita di Doraemon. Juga tidak lebih tinggi dari tinggi badan saya yang di bawah rata-rata. Saya bahkan termasuk lelaki  terpendek di antara pria-pria pendek lainnya.

GLOW adalah contoh serial televisi yang menggambarkan perjuangan perempuan dengan detail dan indah. Jika kualitasnya tetap terjaga, sampai musim ke-20 pun akan tetap disukai penonton. Jangan seperti kepala negara yang baru 3 tahun sudah sangat membosankan dan memancing derita.
Share: 

3/14/2017

Resensi FIlm Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016)


Trio komedi Dono, Kasino, Indro amat melegenda dan sukses meninggalkan kesan mendalam bagi sebagian besar penikmatnya. Paduan humor slapstick dan celetukan-celetukan khas ketiganya diiringi cerita yang absurd luar biasa membuat banyak orang tertawa terbahak-bahak di masanya. Kenangan itu dibawa hingga beberapa generasi setelahnya. Generasi milenial banyak mengenal nyanyian khas warkop dan kehebohan dari barisan warkop angels. Anggy Umbara yang terkenal lewat penyutradaraannya di Comic 8 dan 3: Alif Lam Mim kembali mengangkat warkop ke layar perak dengan konsep yang menyerupai pendahulunya.
                                                                                                  
Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian) dan Indro (Tora Sudiro) adalah anggota CHIPS (Cara Hebat Ikut-ikutan Penganggulangan Sosial) yang sering gagal dan berbuat onar ketika menjalankan tugas hingga ketiga orang tersebut diperintah untuk menangani kasus pembegalan bersama Sophie (Hannah Al Rashid), anggota CHIPS cabang Prancis. Namun, mereka malah tertimpa sial dan wajib membayar denda 8 Miliar Rupiah.


Sejak pertama kali difilmkan, Warkop DKI terkenal berkat komedi ringan yang sanggup membuat manusia di berbagai kalangan tertawa oleh ulah mereka. Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss masih memakai formula komedi yang sama dibumbui sedikit penyesuaian agar tetap relevan dengan kondisi terkini. Bicara sembarangan, pria-pria mata keranjang, adegan saling tabrak dan jatuh-menjatuhkan mendominasi film yang dirilis tahun 2016 tersebut. Kehadiran Warkop Angels yang diperankan oleh Nikita Mirzani, Hannah Al Rashid dan aktris asal Malaysia, Fazura, mirip dengan angels terdahulu, minus bikini dan pakaian “membahayakan” lainnya. Akting ketiganya tetap menggoda mata lelaki, terutama lelaki seperti musisi yang kalah di pemilihan bupati bekasi atau pengusaha kebab nasional yang hobi main perempuan hingga dipolisikan oleh mantan istrinya. Saya yakin, hanya pria penyuka sesama jenis atau pria setengah wanita yang tidak tertarik dengan penampilan Ketiga angels itu.

Menonton Warkop Reborn sama seperti menonton kekacauan negeri ini. Namun, kekacauan yang ditampilkan lebih lucu dan menarik dari kekacauan yang diakibatkan oleh seorang pemimpin dari Solo yang memiliki anak penjual martabak. Adegan kejar-kejaran, manusia yang terlempar dari kendaraan, hingga adegan perkelahian, semuanya terlihat kacau, dalam makna positif. Jauh berbeda dengan ribut-ribut antar ormas, konstitusi yang tak dipedulikan oleh Mendagri, pemimpin yang hobi bicara sembarangan, sampai jumlah jomblo yang meningkat tajam. Masalah-masalah di atas merupakan bukti gagalnya suami dari Iriana dalam menghadirkan kekacauan yang memusingkan kepala. Tampaknya dia harus belajar dari Dono, Kasino dan Indro.


Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian dan Tora Sudiro memberi porsi akting yang pas dengan kejenakaan masing-masing tokoh. Keluguan Dono, nakalnya Kasino dan Indro yang ceroboh berpadu indah dalam make up yang menyerupai pemain aslinya puluhan tahun lalu. Salah satu kelemahan yang mengurangi rasa nyaman penonton adalah adegan-adegan komedi yang membanjiri Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!. Sebagian besar di antaranya memang berhasil mengocok perut, namun tak sedikit pula yang kurang mengena dan membuat penonton mengernyitkan dahi. Setali tiga uang dengan scene komedinya, adegan-adegan remake dari film warkop seperti IQ Jongkok, Setan Kredit dan Dongkrak Antik. Sebagian dari hasil pembuatan ulang itu terkesan dipaksakan dan kurang sesuai dengan plot. Meski ada beberapa yang berhasil, nyanyian kode Kasino salah satunya.

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Sukses memadukan humor Dono, Kasino, Indro dengan relevansi terhadap kondisi terkini. Sentuhan komedi sederhana tanpa mengajak penonton untuk berpikir rumit adalah salah satu kekuatan yang membuat Warkop DKI benar-benar reborn. Tidak seperti ideologi yang konon, akan terlahir kembali dan mengacaukan kehidupan bernegara melalui politisi bermulut kurang sedap. Sekurang sedap bau ketiak saya.
Tertawalah sebelum tertawa itu dianggap intoleran.



Share: 

4/02/2016

Resensi Film Deadpool (2016)


Deadpool mencatatkan keuntungan yang luar biasa sejak penayangan perdananya pada 8 Februari 2016 di Paris. Sampai tanggal 24 Maret 2016, Deadpool meraih total pemasukan sebesar USD 735,6 juta dari budget yang “hanya” USD 58 juta. Promosi unik, ketampanan Ryan Reynolds, serta komiknya yang sangat dicintai oleh para penggemar merupakan beberapa faktor yang membuat Deadpool begitu sukses secara finansial. Bagaimana dengan kualitas filmnya?

Wade Winston Wilson (Ryan Reynolds) terjebak dalam keterpurukan akibat penyakit kanker yang dia derita. Vanessa (Morena Baccarin), kekasih Wilson,  yakin jika sang pacar akan segera sembuh. Wilson pun menerima tawaran dari orang yang tak dikenal demi kesembuhannya. Namun, ia tak bisa sembuh dengan mudah karena orang yang membantu Wilson, Francis alias Ajax (Ed Skrein), memiliki niat buruk yang berakibat fatal bagi Wilson. Kulit di sekujur tubuhnya rusak dan wajahnya menjadi buruk rupa. Wilson bertekad membalaskan dendamnya pada Ajax lewat identitas barunya sebagai Deadpool.


Tidak seperti kisah-kisah manusia super lainnya (kecuali Mario Teguh) yang menonjolkan sifat heroik, aksi pemberantasan kejahatan dan kostum-kostum ketat yang menampilkan otot yang terlampau besar, Deadpool lebih berfokus pada kehidupan seorang pria yang hancur dan usaha untuk membangun kembali hidupnya. Wilson alias Deadpool bahkan menyebut dirinya sebagai manusia super yang bukan pahlawan. Deadpool memang seorang pria biasa dengan kekuatan super yang memakai jam tangan bergambar tokoh kartun Adventure Time. Dia juga tidak pernah membayar taksi yang ditumpanginya. Wilson juga tetap tergoda saat melihat wanita cantik seperti Vanessa. Berbeda dengan Batman dan Superman ketika bertemu Wonder Woman tetap tidak tergoda dengan kecantikan dirinya.  Mungkin Batman dan Superman bukan lelaki normal.

Alur maju-mundur yang dibangun oleh Tim Miller pada debut penyutradaraannya ini cukup efektif dalam penghantaran karakter. Penonton awam tidak merasa asing dengan karakter Deadpool karena plot yang banyak diisi oleh pengenalan karakter dan kehidupan Wilson sebelum bertransformasi menjadi Deadpool. Namun, ada kekurangan yang sedikit mengganggu cerita. Kekurangan itu adalah kisah cinta Wilson dan Vanessa. Mereka berdua hanya digambarkan sebagai sepasang kekasih yang dimabuk cinta berbalut nafsu, bukan pasangan yang saling mencintai karena perasaan yang tulus. Pasangan Wilson-Vanessa tidak terlihat sebagai pasangan sehidup-semati seperti Habibie dan Ainun. Wilson dan Vanessa  lebih mirip dengan Risty Tagor dan Stuart Collins yang bercerai terlalu cepat, secepat membeli nasi padang di rumah makan minang.


Terlepas dari berbagai kekurangannya, Deadpool termasuk salah satu film yang wajib ditonton bagi penggemar pahlawan super dan sahabat-sahabat super yang setiap minggunya menonton acara motivasi dari pria berkaca mata tanpa rambut di kepala. Keseruan adegan-adegan laga sukses dikombinasikan dengan komedi dan drama yang cukup menghibur. Meski begitu, ada beberapa jenis orang yang tidak dianjurkan untuk menonton Deadpool. Pertama, orang (atau jomlo) yang mudah baper. Karena Wilson dan Vanessa beberapa kali melakukan kegiatan romantis yang berpotensi mengakibatkan baper berkepanjangan bagi penderita baper akut atau lelaki jomlo. Kedua, orang yang sedang diare. Karena beristirahat di atas tempat tidur jauh lebih baik daripada menonton film yang dipenuhi darah bercucuran, tangan yang diamputasi, serta isi kepala yang berhamburan.                                    


Share: 

3/20/2016

Resensi Film Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie (2016)


Funny or Die, perusahaan production house milik Will Ferrel, Adam McKay, dan Chris Henchy, merilis film ketiganya. Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie, judul film tersebut, dibintangi oleh pemeran kelas atas seperti Johnny Depp, Alfred Molina, hingga aktor pendatang baru yang mencuri perhatian lewat Room, Jacob Tremblay. Kenny Loggins yang populer sebagai pengisi original soundtrack film Caddyshack, Top Gun, dan Over the Top didapuk menjadi penyanyi lagu The Art of the Deal yang diciptakan khusus untuk film ini. Melihat jajaran aktor dan musisi yang terlibat dalam produksi Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie, ekspektasi tinggi pantas disematkan pada film karya Jeremy Konner ini.

Sineas kawakan Ron Howard yang bermain sebagai dirinya sendiri menemukan sebuah kaset VHS berisi film yang disutradarai, ditulis dan diperankan oleh Donald Trump (Johnny Depp). Film itu berkisah tentang perjuangan hidup dan tips bisnis dari Trump untuk anak kecil yang tanpa sengaja masuk ke ruang kerjanya. Salah satu perjuangan Trump adalah membeli Taj Mahal Casino dari pengusaha Merv Griffin (Patton Oswalt). Kisah cinta Trump dengan mantan istrinya, Ivana (Michaela Watkins) juga beberapa kali dibahas.



Kisah hidup orang-orang yang sukses di bidang tertentu memang amat menarik untuk difilmkan. Sudah tak terhitung berapa jumlah film yang terinspirasi dari kisah orang sukses. Banyak dari film-film tersebut mengambil tema sedih dan memaksakan filmnya untuk terlihat sedih walau sebenarnya tidak menyedihkan. Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie memberikan warna yang berbeda. Cerita kehidupan Donald Trump tidak dibuat memilukan dan tidak pula menguras air mata. Salah satunya karena Donald Trump sejak kecil tidak pernah jatuh miskin dan hidupnya relatif aman. Tidak seperti Saiful Jamil yang hidupnya penuh hambatan. Nikah-cerai, ditinggal wafat sang istri, menjalin hubungan dengan beberapa perempuan namun selalu kandas, sampai ditangkap polisi akibat membangunkan seorang remaja pria dan mengajaknya sholat subuh dengan cara yang tidak senonoh.

Ada satu kesamaan yang dimiliki Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie dengan Saiful Jamil. Kesamaan itu adalah tidak mulusnya jalan cerita. Film yang ditulis oleh Joe Randazzo ini bukanlah film yang luar biasa, sama seperti Saiful yang tidak luar biasa. Secara pengemasan komedi, Donald Trump's The Art of the Deal: The Movie sudah cukup maksimal. Hanya sedikit dialog yang masih perlu digali lebih dalam untuk memancing tawa penonton. Kekurangan itu bisa ditutupi oleh dialog dan adegan-adegan lain yang sangat absurd dan jenaka. Salah satunya adegan ketika grup musik The Fat Boys menyanyi bersama Trump. Kalimat yang diucapkan Trump seperti “It’s not a fake estate, it’s a real estate.” Atau “It’s the opposite of mistake. It’s a good stake.” Terdengar cukup absurd tapi tetap berpeluang menghasilkan tawa bagi sebagian penonton.



Selain Donald Trump, banyak tokoh-tokoh yang menjadi inspirasi bagi para pembuat film. Saiful Jamil bisa jadi salah satu dari tokoh itu. Kehidupannya selalu menginspirasi masyarakat luas agar senantiasa bersyukur. Peristiwa miris sangat sering menimpa Saiful. Banyak manusia di dunia ini yang lebih beruntung dari dia. Sebagian besar masyarakat belum pernah ditahan karena membangunkan seorang remaja. Banyak pula orang yang tidak mengalami kecelakaan hebat di jalan tol dan terenggut pasangan hidupnya. Lebih banyak lagi yang tidak pernah menjadi juri kompetisi murahan.


Mungkin Saiful memang ditakdirkan untuk jadi objek kesialan. Karena orang sial pasti pernah beruntung. Bisa saja ada keberuntungan besar yang akan segera menghampiri Saiful. Dicalonkan sebagai presiden, misalnya. Sama seperti Donald Trump yang kini mencalonkan dirinya. Saya rasa Saiful dan Nassar cocok jika dipasangkan sebagai capres dan cawapres dari Partai Dangdut Indonesia Pergoyangan (PDIP).

Share: 

2/15/2016

Resensi Film The Hateful Eight (2015)


Delapan orang terjebak dalam satu ruangan ketika badai salju. Semuanya sama-sama mencurigai satu sama lain. Tidak ada yang bisa dipercaya kecuali diri sendiri. Suasana mencekam. Itu adalah sebagian dari cerita film kedelapan karya Quentin Tarantino. The Hateful Eight, judul film tersebut, mengambil latar waktu pasca perang sipil di Amerika Serikat atau akhir 1800-an. Belum ada wi-fi, belum ada ponsel pintar, belum ada aplikasi chatting dan orang yang terjebak saat badai salju tidak bisa memesan taksi Uber atau ojek online.

John Ruth (Kurt Russel), seorang bounty hunter, membawa tahanan wanita, Daisy Domergue (Jennifer Jason Leigh) dalam kereta kuda yang dikusiri oleh O.B. (James Parks). Di tengah perjalanan, mereka bertemu bounty hunter kulit hitam. Marquis Warren (Samuel L. Jackson), nama sang bounty hunter kulit hitam, meminta tumpangan ke Red Rock, kota yang juga tujuan dari John Ruth. Tidak lama setelah Warren naik ke dalam kereta, Chris Mannix (Walton Goggins), sheriff baru Red Rock, mencegat kereta tersebut dan memohon untuk ikut menumpang karena badai salju yang semakin kencang. Mereka beristirahat sejenak sambil menunggu badai salju reda di sebuah rumah kecil milik Minnie dan Sweet Dave, namun sang pemilik sedang tidak ada. Ternyata rumah kecil itu sudah terisi oleh empat orang lainnya, Bob (Demian Bichir) yang mengaku sebagai pengurus rumah sejak pemiliknya pergi, Oswaldo Mobray (Tim Roth), Sanford Smithers (Bruce Dern), seorang jendral perang sipil, dan Joe Gage (Michael Madsen). Mereka semua terjebak dalam rumah kecil nan reyot dan saling curiga terhadap satu sama lain.


Seperti biasa, Quentin Tarantino memberi sentuhan khas pada setiap film-filmnya, tak terkecuali The Hateful Eight. Dialog-dialog panjang dengan bumbu sarkasme dan komedi gelap, darah bercucuran, perempuan aneh, dan Samuel L. Jackson. Di samping dialog-dialog tanpa henti bak tukang kredit panci menawarkan dagangan, terselip adegan-adegan komedi gelap namun cerdas. Salah satu adegan yang membuat saya tertawa terbahak-bahak adalah adegan Daisy Domergue memperagakan ucapan John Ruth. Selain itu, percakapan Warren tentang semur sangat membekas dalam ingatan.

Satu jam pertama The Hateful Eight tidak terlalu memberikan ketegangan. Beberapa bagian terasa kosong tanpa ada kesan tegang atau lucu. Hanya adegan-adegan yang dibuat untuk mendukung cerita namun kurang memberikan emosi pada penonton. Bagi Anda yang tidak terbiasa dengan film seperti itu, saya sarankan Anda minum kopi hitam satu gelas atau minum dua termos air hangat agar tidak cepat mengantuk. Kalau Anda menontonnya di luar ruangan, sediakan obat nyamuk sebanyak mungkin. Jika sakit berlanjut, hubungi dokter.



Jennifer Jason Leigh memang pantas dinominasikan sebagai aktris pendukung terbaik pada Oscar 2016. Perannya sebagai perempuan nakal dapat menghadirkan emosi tersendiri dan mampu membuat The Hateful Eight semakin menarik.  Saya sendiri sangat suka melihat perempuan nakal dengan muka berantakan. Wajah babak belur Jennifer terlihat sangat realistis. Greg Nicotero dari serial The Walking Dead dan Howard Berger berhasil menjalankan tugas mereka di bidang special make-up effect. Scoring Ennio Morricone dan sinematografi dari Robert Richardson menambah keindahan lewat alunan musik merdu dan panorama pegunungan bersalju. Bukan film terbaik dari Tarantino, tapi sangat layak untuk ditonton.

Share: 

2/05/2016

Resensi Film Our Brand is Crisis (2015)


Sebelum saya memutuskan untuk menonton Our Brand is Crisis, saya menemukan dua hal unik dari film yang diproduseri oleh George Clooney dan Grant Heslov itu. Keunikan yang pertama adalah Sandra Bullock. Jarang-jarang Tante Sandra membintangi film bergenre politik satir. Saya menaruh harapan tinggi kepada Tante Sandra yang sudah berusia 51 tahun. Semoga di usianya yang matang setengah tua, Tante Sandra bisa memberikan performa termanis. Semanis senyuman Tante Sandra.

Hal unik yang kedua adalah kejadian nyata yang melatar belakangi pembuatan Our Brand is Crisis, yaitu pemilihan presiden Bolivia tahun 2002 dan kampanye para kandidat. Kampanye dari Gonzalo Sánchez de Lozada, mantan presiden Bolivia, menjadi bahasan utama Our Brand is Crisis versi dokumenter dan dibuat tokoh fiksinya dalam film berjudul sama yang akan saya review kali ini. Lozada (bukan nama situs jual-beli online) menyewa firma komunikasi politik sebagai konsultan kampanye. Greenberg Carville Shrum, nama firma tersebut, didirikan oleh Stan Greenberg, James Carville dan Bob Schrum. Stan Greenberg adalah konsultan politik pada kampanye Presiden Joko Widodo.

Berlatar di Bolivia, mantan presiden Pedro Castillo (Joaquim de Almeida) mencalonkan kembali dan menyewa tim konsultan komunikasi politik beranggotakan “Calamity” Jane Bodine (Sandra Bullock), Rich (Scoot McNairy), Ben (Anthony Mackie), Nell (Ann Dowd), dan LeBlanc (Zoe Kazan). Mereka berhadapan dengan rival yang selalu memimpin jajak pendapat di media massa, calon presiden Rivera (Louis Arcella) dan konsultan komunikasi politiknya, Pat Candy (Billy Bob Thornton). Segala cara dilakukan kedua pihak untuk mengalahkan satu sama lain. Tak jarang mereka meneror lawannya dengan kampanye-kampanye negatif dan kampanye hitam.


Film berjenis politik satir selalu membuat saya tergugah. Peristiwa-peristiwa politik dan semua aspeknya memang amat menarik untuk diangkat ke layar lebar. Our Brand is Crisis berusaha menjadi film satir dipenuhi kejenakaan. Dialog yang terlalu serius dan lelucon yang terucap dari mulut sebagian besar karakternya berada di momen yang kurang tepat dan membuat filmnya kurang satir. Obrolan antara Jane, Ben, dan LeBlanc yang harusnya lucu berubah menjadi dialog kosong tanpa pengaruh. Sepanjang film, saya hanya tertawa satu kali ketika Jane bermain-main dengan Eduardo, salah satu relawan pemenangan Castillo.

Pernahkah Anda makan nasi dua piring besar tanpa lauk atau sayuran? Anda pasti akan merasa hambar walau kenyang dan tidak lama kemudian terserang diabetes karena makan nasi terlalu banyak. Itulah yang saya rasakan selama 107 menit film berlangsung. Hampir tidak ada emosi yang dapat mengaduk-aduk perasaan penonton. Saya juga hampir terkena diabetes karena kurang berhasilnya komedi yang ditampilkan dalam film ini.


Untungnya saya tidak sampai terserang diabetes. Joaquim de Almeida dan Sandra Bullock menyelamatkan saya. Keduanya sukses mendalami peran masing-masing. De Almeida sebagai seorang politisi ambisius dan sedikit arogan meninggalkan kesan tersendiri bagi penonton. Sandra Bullock juga tampil menawan. Aktingnya sebagai konsultan nakal namun cerdas mengundang decak kagum. Sandra Bullock benar-benar tante idaman.


Sindiran-sindiran politik yang tersemat pada Our Brand is Crisis cukup relevan dengan kondisi politik di Indonesia. Jika Anda ingin tahu bagaimana seorang pengusaha mebel asal solo bisa menang pada pemilihan presiden tahun 2014, tontonlah film ini. Trik demi trik yang dilakukan oleh Jane Bodine dan kawan-kawan kurang lebih sama dengan yang dilakukan tim pemenangan sang presiden yang (katanya) membela rakyat itu.

Share: 

1/31/2016

Resensi Film The Ridiculous 6 (2015)


Chief Content Officer Netflix, Ted Sarandos, mengungkapkan bahwa film The Ridiculous 6 yang diproduseri Adam Sandler dan tayang eksklusif untuk Netflix mencetak rekor penayangan terbanyak selama 30 hari pertama film itu dirilis. Sehebat apa The Ridiculous 6? Apakah film tersebut begitu bagus secara kualitas hingga banyak menarik minat penonton? Atau karena film itu terlalu jelek dan membuat banyak orang penasaran dengan keburukannya? Saya akan membahasnya nanti, yang jelas, dalam film ini tidak ada om-om bau keringat terjun ke sungai tanpa busana dan rusa yang buang air kecil sembarangan seperti adegan pada  Grown Ups 2.

Tommy Stockburn (Adam Sandler), seorang ahli pisau yang dibesarkan di keluarga Indian tanpa tahu siapa ayah kandungnya. sampai suatu ketika perampok bank professional bernama Frank Stockburn (Nick Nolte) mendatangi tempat tinggal Tommy, mengaku sebagai ayah kandungnya dan menginap semalam di sana. Pagi harinya, sekelompok bandit datang ke desa Indian dan menculik Frank dengan tebusan USD 50.000. Tommy berkelana untuk membebaskan ayahnya. Sepanjang perjalanan, Tommy bertemu 5 orang putra Frank dari ibu yang berbeda-beda, Chico (Terry Crews), Herm (Jorge Garcia), Lil’ Pete (Taylor Lautner), Ramon (Rob Schneider), dan Danny (Luke Wilson). Keenam putra Frank berpetualang bersama demi membebaskan sang ayah.



Jika dilihat dari sinopsis di atas, The Ridiculous 6 terlihat seperti kisah penculikan biasa. Dugaan itu benar. Penculikan dan petualangan dalam durasi 119 menit sama persis dengan peculikan ala FTV berkualitas rendah. Bedanya hanya pada usia korban penculikan. Biasanya, FTV menampilkan seorang anak kecil lucu, imut, tak berdosa, rajin belajar, patuh orang tua, jujur, terampil, setia, murah senyum, hampir tidak pernah mengupil (hampir semua tayangan FTV tidak pernah memperlihatkan orang mengupil. Padahal itu manusiawi dan anak kecil biasanya hobi mengorek-orek hidung.) diculik oleh berandalan berwajah konyol dengan jaket kulit lusuh, wajah pas-pasan, memakai celana denim tak terawat, berkulit gelap, dan jarang mandi. Saya rasa ciri-ciri di atas mirip dengan diri saya.

Seperti film produksi Adam Sandler yang lain, The Ridiculous 6 Terlalu banyak mengekspos kebodohan dan Kebodohan-kebodohan yang ditampilkan cenderung mengganggu dan sukses mengurangi kadar kelucuan. Adam Sandler dengan penampilannya yang terlihat seperti Nicholas Saputra sedang terserang muntaber dan penuaan dini memperburuk kualitas film. Saya cukup mengapresiasi akting Nick Nolte sebagai kakek-kakek nakal. Kehadirannya dapat menutupi kekurangan pemeran-pemeran lain.



Sepanjang film, saya hanya tertawa satu kali ketika adegan pencurian emas. Selebihnya, saya tidak terpikat dengan segala aspek kebodohan dan kekonyolan ala Adam Sandler. Taylor Lautner sebagai petani culun juga telah melanggar kaidah keculunan. Karena seorang culun harusnya tidak ganteng. Sedangkan Lautner masih terlihat tampan walau karakternya culun.


Jika Anda penggemar berat Adam Sandler, The Ridiculous 6 wajib Anda saksikan karena semua bagian dalam film ini merupakan akumulasi dari kebodohan, kekonyolan, absurditas, dan keanehan film-film Sandler. Saya yakin, untuk memnonton film ini perlu tingkat kebodohan yang luar biasa. Saya termasuk yang sedikit terhibur. Karena saya sedikit bodoh.

Share: 

1/18/2016

Resensi Film The Good Dinosaur (2015)


Setelah Inside Out, Pixar merilis film keduanya di tahun 2015, The Good Dinosaur. Jika Inside Out berhasil membuat saya menangis sekaligus terhibur karena kualitas film yang begitu tinggi, harapan yang sama muncul untuk The Good Dinosaur. Sebelum menonton, saya harap film ini bisa seperti Mamah Dedeh, menghibur sekaligus memberi makna. Saya juga menggantungkan ekspektasi tinggi kepada para dinosaurus. Semoga seluruh dinosaurus yang tampil adalah dinosaurus terbaik dan mampu mengalahkan pesona Mamah Dedeh.

Arlo (Raymond Ochoa), seekor dinosaurus kecil, kurus, dan penakut. Henry (Jeffrey Wright) ayah Arlo, berusaha untuk menjadikan anaknya lebih berani, salah satunya dengan mengajak Arlo mengejar makhluk pencuri makanan dari lumbung jagung bersama-sama. Ketika mengejar si pencuri, tiba-tiba badai besar datang dan menewaskan ayah Arlo. Setelah kepergian sang ayah, beban keluarga Arlo semakin berat. Tanpa sengaja, Arlo bertemu dengan makhluk pencuri yang ternyata seorang anak laki-laki bernama Spot (Jack Bright). Arlo kembali mengejar sang pencuri. Namun, Arlo malah tersesat dan tak tahu jalan pulang. Karena saat itu belum ada GPS atau aplikasi ojek online, Arlo panik. Dalam kepanikannya, Spot datang untuk membantu.

Seperti biasa, Pixar sebagai studio animasi terkenal selalu memproduksi film-film dengan animasi sangat indah. Trilogi Toy Story, dua seri Cars, hingga Inside Out adalah beberapa film artistik dari studio yang didirikan oleh Steve Jobs dan kawan-kawan ini. The Good Dinosaur masih mempertahankan sisi artistik khas Pixar. Bahkan film garapan Peter Sohn ini terlihat jauh lebih indah dan realistis dibanding pendahulu-pendahulunya. Aliran sungai, jatuhnya dedaunan, pohon-pohon menari, tiupan angin, rumput yang bergoyang, batu kerikil nge-rap, semak-semak nge-beatbox, hampir seluruh objek terlihat begitu nyata, kecuali keluarga Arlo yang memang dibuat tidak serealistis objek lainnya agar lebih bisa dinikmati. Penonton pasti akan terpukau dengan segala keindahan visual yang ditampilkan The Good Dinosaur.

Walau menarik lewat visualisasi objek, alur ceritanya masih cukup mudah diprediksi dan kurang pendalaman emosi. Karakter Arlo memang sukses manarik perhatian lewat ketakutan dan keraguan dalam dirinya, namun itu masih belum cukup menyentuh emosi penonton, kecuali jika penontonnya kaum alay yang hobi menangis ketika bertemu boyband atau solois tampan yang mereka idolakan, atau penonton ibu-ibu yang sering menangis ketika menonton film TV kelas rendah. Adegan ketika Arlo dan Spot menceritakan kehidupan masing-masing sebenarnya cukup menyentuh, namun masih perlu eksplorasi karakter yang lebih agar momen tersebut bisa masuk ke hati penonton. 

Alur yang mudah tertebak dapat menjadi masalah tersendiri bagi sebagian besar film. Meski begitu, alur film ini berhasil dieksekusi dengan baik. Kesedihan Arlo, keberanian Spot, hingga bertemunya mereka berdua dengan berbagai macam makhluk membuat penonton tidak bosan dengan alurnya. Saya yang sangat hobi tidur saja tidak mengantuk sama sekali dengan hiburan yang disajikan The Good Dinosaur. Salah satunya karena kopi hitam yang saya minum sebelum menonton. 

Secara keseluruhan, film ini memang bukan film luar biasa seperti Inside Out. Namun masih bisa dinikmati dan sangat menghibur. Apakah film ini sesuai harapan saya? Tidak. Film ini masih belum bisa mengalahkan Mamah Dedeh sebagai hiburan bermakna. Mungkin salah satunya karena ketiadaan Aa’ Abdel dalam film. Selain itu, film ini tidak islami seperi Mamah Dedeh. Semua dinosaurus tidak menutup aurat, Spot juga tidak berhijab. 


Share: 

12/16/2015

Resensi Master of None - Season 1 (2015)


Layanan streaming Netflix selama ini terkenal dengan serial-serial superhero-nya seperti Daredevil atau Jessica Jones. Namun, Netflix juga banyak memproduksi serial komedi seperti Unbreakable Kimmy Schmidt, Grace and Frankie, dan Master of None. Kali ini saya akan membahas nama terakhir yang membawa seorang Aziz Ansari, komika asal Amerika Serikat keturunan India, mendapat nominasi Goden Globe Awards dalam kategori aktor utama terbaik pada serial komedi.

Berkisah tentang kehidupan Dev (Aziz Ansari), seorang aktor yang sedang meniti karir setelah lebih dahulu terkenal dalam iklan yogurt. Dev berjuang mengatasi berbagai masalah kehidupan yang menghampirinya. Sama seperti artis NM dan PR yang diklaim dapat mengatasi masalah para pengusaha atau pejabat kaya yang sedang kekurangan kasih sayang dari perempuan. Hubungan percintaan, karir sebagai aktor, menentukan tempat makan, rasisme, hingga hubungan dengan orang tua adalah beberapa masalah yang harus diatasi Dev. Sama seperti saya dan Anda yang pasti memiliki masalah. Salah satu masalah terbesar saya adalah perut saya yang sering kurang bersahabat. Saya curiga, jangan-jangan sebenarnya perut saya bukanlah sebuah perut, melainkan seorang Setya Novanto yang bersembunyi dan menyamar sebagai perut agar dia bisa menggerogoti semua makanan yang saya makan. Sama seperti penggerogotannya ke tubuh DPR RI.

Sebelum menonton Master of None, saya sebelumnya sudah selesai membaca buku karya Aziz Ansari dan Eric Klinenberg, Modern Romance. Saya tidak membaca bukunya karena bukunya terlalu mahal buat seorang jomblo eknonomis (kere) seperti saya. Saya memilih untuk mengunduh buku elektroniknya dengan konsekuensi harus menunggu lama karena koneksi internet yang lambat dan harus menahan rasa sakit pada perut saya akibat terlalu banyak makan cilok dengan sambal sebanyak lima sendok semen.


Modern Romance memiliki keterkaitan yang kuat dengan Master of None. Saya mencatat, ada empat episode yang mirip dengan isi buku Modern Romance. Salah satunya adalah episode berjudul Old People yang membicarakan tentang kehidupan para lansia. Salah satunya adalah nenek dari kekasih Dev, Rachel (Noel Wells). Saya merasakan ikatan emosi yang kuat dalam episode tersebut. Salah satunya karena nenek saya yang cukup unik dan wajib dilestarikan. Bahkan kalau bisa nenek saya masuk ke dalam warisan-warisan dunia yang harus dilestarikan, sama seperti batik dan Candi Borobudur.

Master of None berhasil menggambarkan kehidupan dan permasalahan seorang laki-laki secara gamblang dan sangat realistis. Dev memang sering kali melakukan kegiatan-kegiatan absurd, namun absurditas itu dapat dimaklumi karena dalam dunia nyata, banyak orang seperti Dev. Termasuk diri saya. Salah satu kegiatan absurd yang paling saya ingat adalah ketika Dev dan sahabatnya, Arnold (Eric Wareheim) datang ke toko mainan dan memencet boneka dinosaurus dengan terus-menerus disertai ekspresi konyol. Jujur, saya juga sering melakukan kegiatan konyol seperti itu. Biasanya saya bermain ciluk-ba dengan boneka Hello Kitty milik adik saya.


Aziz Ansari sebagai pemeran utama sukses membuat penonton selalu memperhatikan segala ucapan dan tingkah lakunya. Tidak hanya itu, karakter Dev menjadi semakin kuat dengan ekspresi-ekspresi jenaka khas Aziz Ansari. Selain Aziz, kedua orangtua kandungnya, Shoukath dan Sharma Ansari yang berperan sebagai orang tua Dev cukup mencuri perhatian. Terutama sang ayah, Shoukath Ansari. Dialognya dengan Dev begitu mengena namun tetap menyenangkan. Bagi saya, Master of None adalah serial komedi terbaik yang pernah saya lihat. Jauh lebih baik dari serial komedi yang terjadi di ruang sidang MKD.

Share: 

12/13/2015

Resensi Film Inside Out (2015)


Pernahkah Anda merasa senang setelah membuka tutup botol berhadiah Rp 1 milyar, lalu tiba-tiba sedih karena Anda tidak sengaja membuang tutup botol tersebut, tak lama kemudian Anda marah pada diri sendiri karena rencananya uang tersebut dipakai untuk membayar cicilan motor yang sudah menunggak 8 tahun. Belum lagi cicilan rumah dengan tunggakan 5 tahun, cicilan ponsel, televisi, sepatu, tas, jaket, topi, sarung, serta hutang-hutang makanan dan minuman yang belum dibayar ke warung terdekat.

Jika ada pernah merasakan perubahan emosi seperti contoh di atas, itu juga yang dialami Riley Andersen, tokoh utama film Inside Out. Riley yang disuarakan oleh Kaitlyn Dias adalah seorang anak dengan lima jenis emosi yang mengendalikan otaknya melalui sebuah ruang kendali, Joy (Amy Poehler), Sadness (Phyllis Smith), Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black), dan Disgust (Mindy Kaling). Riley mengalami masa-masa sulit pada hidupnya ketika harus pindah dari kota kelahirannya dari Minnesota ke San Fransisco karena ayahnya (Kyle MacLachlan) mendapat pekerjaan baru. Dalam proses adaptasi dengan lingkungan baru, terjadi kecelakaan di dalam ruang kendali otak Riley. Kecelakaan tersebut membuat Joy dan Sadness “terlempar” keluar dari ruang kendali, sama seperti seorang laki-laki yang terlempar alias dicampakkan oleh seorang perempuan karena wajahnya terlalu pas-pasan, kedua karakter yang berbeda jauh itu harus berjuang untuk memperbaiki keadaan dan mengembalikan diri mereka ke ruang kendali.


Saya sangat menyukai film yang bisa membawa penonton merasakan perasaan yang sama dengan karakter dalam film dan Inside Out berhasil melakukannya. Sejak awal hingga akhir, penonton merasakan simpati teramat dalam pada sosok Riley. Seorang remaja perempuan baik-baik, bukan seorang alay, bukan cabe-cabean, bukan anak Setya Novanto, bukan pula NM atau PR. Dengan masa-masa sulit yang harus dihadapi, salah satunya ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah baru, membuat saya merasa kasihan padanya. Saya bisa merasakan hal yang sama karena saya sering mengalami masa sulit sebagai seorang jomblo. Ketika malam minggu tiba, pria yang memiliki pacar bisa berduaan dengan pacarnya dan mengelus-elus rambut sang perempuan. Saya hanya bisa berduaan dengan komputer saya, menonton film mengenai orang yang sedang jatuh cinta sambil mengelus-elus bulu hidung saya sendiri. Rasanya begitu sepi. Jika pria dengan pasangan bisa berfoto dengan pasangannya pada malam minggu, saya hanya bisa berfoto dengan poster Nabilah JKT48, sembari berharap suatu hari nanti Nabilah bisa mengenal saya.

Film ini juga diperkuat dengan animasi yang spektakuler dan terasa sangat realistis. Salah satunya adalah animasi yang menggambarkan lingkungan tempat Riley tinggal. Pete Docter sebagai sutradara juga sukses memanfaatkan persona para pengisi suara. Lewis Black yang terkenal dengan persona marah-marahnya berhasil membuat peran Anger semakin melekat di hati penonton dengan suara khasnya.  Phyllis Smith sebagai pengisi suara Sadness membuat saya bisa merasakan kesedihan mendalam, sedalam kesedihan yang saya derita setiap malam minggu.



Meski sebuah film animasi, seluruh cerita dalam film sangat relevan dengan realita kehidupan. Salah satunya dalam adegan Riley sedang marah di meja makan. Dengan relevansi yang begitu tinggi, penonton tidak hanya menonton film, tetapi juga bisa memahami kehidupan lewat alur yang sangat indah dan rapi. Saya sangat berharap film ini bisa meraih penghargaan sebagai animated feature film terbaik di ajang Golden Globe dan Oscar yang segera diselenggarakan pada awal 2016.

Share: 

11/29/2015

Resensi Film Yakuza Apocalypse (2015)


Takashi Miike adalah sutradara penuh kegilaan dan absurditas. Ichi The Killer, Gozu, As The Gods Will adalah beberapa contoh absurditas dari Takashi Miike. Sama seperti saya yang karyanya terlalu absurd untuk dicerna. Jika suatu keabsurdan diterapkan dengan total, maka keabsurdan itu akan menjadi indah. Seindah semak-semak di pinggir jalan yang sering menjadi korban vandalisme diare para kucing. Absurd harus diterapkan secara menyeluruh, jika penerapan hal-hal absurd diterapkan setengah hati, akan terbentuk sebuah lubang yang membingungkan dan membuat keabsurdan menjadi sebuah kelemahan. Bukan kekuatan yang kokoh sekokoh semen Tiga Rossa. Inilah yang terjadi pada Yakuza Apocalypse.

Kamiura (Lily Franky), seorang vampir sekaligus bos yakuza yang sangat dihormati di wilayahnya. Ketika dia lewat, semua orang pasti akan melayangkan pandangan hormat kepadanya. Bahkan, kemungkinan ada pula yang menghormat padanya dan menyanyikan lagu Indonesia Raya disertai tim paduan suara yang mengiringi lagu dengan nada super absurd karena baru berlatih satu hari sebelumnya. Namun saya tidak melihat tokoh yang menghormati kamiura dengan cara seperti itu sepanjang film. Kamiura memiliki seorang anak buah yang sangat loyal. Salah satu anak buah tersebut adalah Kageyama (Hayato Ichihara).

Meski loyal, Kageyama tidak bisa menato tubuhnya seperti yakuza lainnya karena kelainan kulit. Karena itulah dia diperlakukan semena-mena oleh anak buah Kamiura yang lain. Hingga suatu ketika muncul musuh-musuh Kamiura dari beberapa negara lain yang berniat membunuhnya. Kageyama pun ikut membantu melawan musuh-musuh tersebut. Salah satu musuhnya adalah Kyoken (Yayan Ruhiyan). Seorang yakuza dengan gaya khas penggemar manga jepang atau biasa disebut otaku. Masih ada beberapa musuh lain seperti seorang pendeta dengan senapan mengerikan dan manusia kodok yang sangat jago bertarung. Jujur, saya sangat takut dengan manusia kodok yang ahli dalam bela diri. Karena jika manusia kodok bisa bertarung dengan buas, pasti manusia serigala yang ganteng dan ketujuh manusia harimau bisa bertarung dengan lebih buas.


Pada awal film, saya masih merasa film ini cukup layak ditonton. Setidaknya untuk hiburan diri saya yang masih sibuk menjomblo dan miskin hiburan pada malam minggu. Untung saja film ini tidak merusak malam minggu saya. Karena saya menonton film ini pada sabtu pagi. Perkiraan saya meleset setelah melewati 15 menit pertama. Saya mengantuk dan tertidur karena adegan dan cerita film yang penuh kekosongan dan berjalan terlampau lambat. Selambat cinta saya yang tidak disambut oleh perempuan manapun. Saya tertidur 150 menit. Padahal durasi filmnya hanya 125 menit.

Akhirnya saya menonton ulang karena tertidur terlalu lama. Parahnya, saya tertidur lagi. Saya heran, jangan-jangan saya tidak sedang menonton film, tapi sedang menghitung gambar ribuan domba di peternakan. Sebenarnya, kesalahan Yakuza Apocalypse hanya terletak di "kekosongan" cerita. Beberapa adegan yang menampilkan Sosuke Zenba (Reiko Takashima) sebagai kapten atau underboss dari Kamiura terasa kurang masuk ke dalam cerita. Itulah salah satu penyebab membosankannya film jepang pertama Yayan Ruhiyan ini.


Kekurangan Takashi Miike, sebagai sutradara adalah, film ini masih kurang total absurditasnya. Alur cerita yang kurang total keabsurdannya menjadikan film ini terasa kosong dan penuh celah. Celah yang ditinggalkan pun cukup besar. Sebesar celah pintu toilet di mall tempat saya biasa mengecek ada tidaknya orang yang sedang berkhidmat ria di dalam toilet.

Jika Anda ingin menjadi absurd, jadilah absurd sepenuhnya. Karena sesungguhnya absurd yang setengah hati akan meninggalkan kesan yang setengah hati pula. Absurdlah, karena absurd adalah sebagian dari kehidupan.




Share: 

11/20/2015

Resensi Film American Ultra (2015)


Adanya Kristen Stewart dalam American Ultra membuat saya tertarik untuk menontonnya. Saya sangat merindukan Kristen Stewart tanpa manusia serigala. Dan American Ultra membalas kerinduan saya. Sepanjang 95 menit, tidak ada manusia serigala, manusia harimau, tukang bubur, atau preman yang baru pensiun. Tidak ada itu semua. Film ini diisi oleh peran Kristen Stewart sebagai Phoebe Larson, perempuan muda semi cabe-cabean yang sedang labil dan Mike Howell (Jesse Eisenberg) yang lagi-lagi menjadi pemuda yang pantas untuk dikasihani. Mereka berdua menjalin kasih dan tinggal bersama. Namun, alangkah kejutnya Phoebe ketika mengetahui bahwa pria yang menjadi kekasih hatinya ternyata seorang manusia dengan kekuatan spesial tanpa telor dan tanpa jeroan. Kekasihnya ternyata merupakan hasil percobaan pemerintah dengan kode "ultra". Saya curiga, jangan-jangan dia bukan manusia, tetapi seekor sapi yang menghasilkan susu UHT. Phoebe dan Mike pun berusaha mempertahankan nyawa mereka dari pasukan jahat dengan salah satu pembunuh bernama Laugher yang hobi tertawa. Saat bicara, dia tertawa. Saat membunuh, dia tertawa. Bahkan saat tertawa pun dia tertawa. 


 Pada seperlima bagian pertama, cerita masih berkutat pada kehidupan pasangan pemuda labil dan masalah yang menerpa Agen CIA, Victoria Lasseter (Connie Britton). Seperlima film kedua dan ketiga menghadirkan ketegangan dan inti cerita serta aksi tembak-menembak dengan intensitas tinggi.

American Ultra dapat menggambarkan suasana kota kecil dengan sangat indah. Kesepian yang dialami oleh Howell juga begitu terasa pada awal film. Karakter Rose (John Leguizamo) juga cukup menambah kesan latar tempat yang sempit. Ledakan-ledakan yang terjadi di akhir juga cukup menengangkan. Sama menegangkannya ketika ada orang yang menggedor-gedor pintu toilet ketika Anda sedang khidmat membuang hajat. Kegilaan yang ditunjukkan oleh Walton Goggins lewat perannya sebagai seorang antagonis bernama Laugher juga membuat tensi ketegangan terjaga. Ekspresi dan suara tawanya sangat gila. Lebih gila dari para pengemis kursi yang gagal terpilih. Scoring oleh Marcelo Zarvos cukup membantu adegan aksi dan suasana tegang semi galau. Salah satunya ketika adegan petasan berhamburan bak anak SD yang merayakan lebaran. Jika saja Marcelo Zarvos mau bekerja sama dengan Rhoma Irama membuat kembali film Satria Bergitar, saya yakin, film itu akan menjadi film dengan musik terbaik sepanjang sejarah film dangdut Indonesia. Meskipun harapan saya terlalu mustahil untuk diwujudkan, saya masih berharap Rhoma membuat sebuah film yang berkualitas. Bahkan, kalau bisa, Kristen Stewart berperan dalam film Rhoma. Saya rasa Stewart cukup pantas memainkan peran Ani.

Di balik keindahan latar tempat dan sinematografi dari Michael Bonvillain, cerita dalam film ini masih terlalu standar. Salah satu kekurangan yang saya sayangkan dalam film ini adalah kurang terikatnya emosi penonton dengan tokoh Mike Howell. Saya tidak merasa kasihan dengan keadaannya. Walaupun secara fisik dia sudah terlihat seperti Jokowi sedang terkena tifus. Saya lebih kasihan pada pejabat di Indonesia yang sedang rusuh akibat perusahaan tambang. Saya juga cukup bersimpati dengan kesedihan dari wajah ketua dewan ketika ditanya soal perusahaan tambang. Saya yakin ketua dewan itu bisa menjadi salah satu aktor pemenang FFI di masa depan.

Sangat indah dalam pengambilan gambar, namun masih kurang dalam pendalaman emosi pada karakternya. Anda akan merasa terhibur ketika menonton film ini. Namun jika Anda mencari nilai-nilai khusus, ilmu pengetahuan, ilmu agama atau ilmu negosiasi tambang, saya sarankan Anda tidak menontonnya. 


Share: